Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 21 September 2025 | 17.46 WIB

Bonus Demografi hingga Digitalisasi Jadi Penopang, Ekonomi Indonesia Era Jokowi Stabil?

Suasana bongkar muat peti kemas di Jakarta International Container Terminal (JICT), Tanjung Priok, Jakarta, Jumat (26/4/2025). (Salman Toyibi/Jawa Pos)

JawaPos.com - Selama satu dekade kepemimpinan Joko Widodo (Jokowi) sebagai presiden Republik Indonesia, ekonomi tanah air menempuh perjalanan yang penuh tantangan sekaligus pencapaian.  

Dalam kurun waktu tersebut, dunia dihadapkan pada berbagai krisis. Mulai dari pandemi Covid-19 yang mengguncang sistem kesehatan dan rantai pasok global, konflik geopolitik yang mempengaruhi harga energi dan pangan, hingga ketidakpastian ekonomi akibat kenaikan suku bunga global.  

Di tengah turbulensi itu, Indonesia justru mampu menunjukkan daya tahan (resilience) yang diakui dunia. Pertumbuhan ekonomi tetap terjaga di kisaran 5 persen per tahun, inflasi berada dalam batas wajar, cadangan devisa stabil, dan konsumsi domestik tetap menjadi penopang utama. 

Bank Dunia dalam laman resminya mencatat, “Indonesia’s economy has shown resilience, maintaining growth momentum around 5 percent despite global headwinds”. Pernyataan itu menegaskan stabilitas ekonomi Indonesia tidak terjadi secara kebetulan, melainkan buah dari kebijakan strategis yang konsisten.

Pencapaian tersebut semakin relevan karena tidak banyak negara berkembang yang mampu menjaga stabilitas di tengah ketidakpastian global. Dengan kata lain, stabilitas ekonomi Indonesia di era Jokowi dapat dilihat sebagai kombinasi dari faktor internal seperti konsumsi domestik, reformasi regulasi, dan transformasi digital serta dukungan kebijakan fiskal dan moneter yang responsif. 

Faktor Pendorong Utama

1. Konsumsi Domestik sebagai Motor Pertumbuhan

Konsumsi rumah tangga adalah tulang punggung ekonomi Indonesia. World Bank mencatat bahwa lebih dari setengah PDB Indonesia disumbang dari konsumsi domestik. Permintaan domestik yang kuat menjadi bantalan ketika ekspor atau investasi tertekan. 

2. Investasi dan Reformasi Struktural

Pemerintah mendorong investasi melalui reformasi regulasi, termasuk UU Cipta Kerja dan kemudahan perizinan. Asian Development Bank (ADB) menekankan bahwa "investment remains a key driver of Indonesia’s medium-term growth, supported by structural reforms and infrastructure development" . Hal ini memperlihatkan betapa pentingnya arus modal dalam menjaga stabilitas. 

3. Kebijakan Fiskal melalui APBN

APBN digunakan bukan hanya sebagai instrumen anggaran, tetapi juga sebagai alat stabilisasi. Subsidi energi, bantuan sosial, hingga insentif pajak menjadi cara untuk menjaga daya beli.

4. Kebijakan Moneter dan Peran Bank Indonesia

Bank Indonesia menjaga stabilitas moneter dengan kebijakan suku bunga dan intervensi nilai tukar. Inflasi yang relatif terkendali pada 3,7 persen pada 2023, menurut ADB menunjukkan efektivitas kebijakan tersebut. Stabilitas harga penting untuk menjaga kepercayaan masyarakat dan investor.

5. Bonus Demografi dan SDM Produktif

Indonesia memasuki masa bonus demografi dengan jumlah usia produktif yang besar. World Bank menekankan bahwa "Indonesia’s demographic dividend offers a window of opportunity, provided that investments in human capital are strengthened". Dengan kata lain, stabilitas ekonomi sangat terkait dengan kualitas tenaga kerja.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore