Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 2 September 2025 | 00.11 WIB

Hidup Makin Praktis atau Bikin Dompet Menangis? Mengungkap Dua Sisi Layanan Pesan Antar Makanan Online

Ilustrasi layanan pesan antar makanan online (Dok. Freepik)

JawaPos.com - Dulu, saat malam sudah larut dan perut keroncongan, sering kali tidak ada pilihan lain selain menahan lapar, apalagi jika di luar sedang hujan. Situasi seperti itu terjadi karena belum adanya layanan pesan-antar makanan online.

Berbeda dengan sekarang yang semuanya serba cepat, mudah, dan praktis. Cukup dengan satu klik pada aplikasi ojek online, kamu bisa menemukan beragam pilihan makanan yang dapat disesuaikan dengan selera dan kebutuhanmu, mulai dari jarak, jenis makanan, hingga kisaran harga yang sesuai dengan kondisi dompet.

Berkat kemudahan ini, pola konsumsi banyak orang pun berubah. Survei Deloitte (2023) menunjukkan bahwa hampir 70% orang memesan takeout atau delivery sama seringnya, bahkan lebih sering, dibandingkan masa sebelum pandemi. Ini membuktikan bahwa teknologi telah beradaptasi dengan baik dalam kehidupan sehari-hari.

Keuntungan dan Kekurangan Layanan Pesan-Antar Makanan

Bagi para UMKM, layanan pesan-antar makanan lewat aplikasi jelas menguntungkan. Dengan mendaftarkan usaha mereka di aplikasi, mereka bisa menjangkau konsumen lebih luas. Bahkan, warung kecil kini bisa bersaing dengan restoran besar.

Fenomena ini juga melahirkan lapangan pekerjaan baru, dengan profesi pengemudi ojek online sebagai tulang punggung sistem pengantaran makanan. Fleksibilitas waktu membuat pekerjaan ini diminati oleh berbagai kalangan, dari mahasiswa hingga pekerja paruh waktu.

Di sisi lain, ada beberapa kekurangan yang menyertai. Sebuah paper dalam researchgat.net memaparkan beberapa masalah yang mungkin terjadi, seperti kualitas pengiriman yang tidak konsisten, makanan datang dalam kondisi yang tidak prima, atau adanya kesalahan pengantaran.

Dari sisi teknologi, ada kemungkinan gangguan jaringan internet atau platform. Selain itu, aspek kebersihan restoran selama proses produksi hingga pengantaran, sering kali tidak dapat dipantau oleh konsumen.

Biaya tambahan seperti ongkos kirim atau potongan platform juga menjadi masalah karena membuat harga makanan menjadi lebih mahal. Hal ini memengaruhi perilaku konsumsi masyarakat, di mana sebagian orang rela membayar lebih demi kenyamanan.

Fenomena ini tidak hanya sekadar masalah perut, tetapi juga psikologi. Banyak orang merasa wajar memesan makanan favorit meskipun harganya lebih tinggi, hanya untuk menghindari cuaca yang tidak stabil atau kerepotan pergi langsung ke restoran.

Kebiasaan ini tentu dapat memengaruhi pola keuangan harian, di mana pengeluaran bulanan bisa membengkak tanpa terasa jika terlalu sering mengandalkan food delivery.

Pada akhirnya, sistem food delivery sudah menjadi bagian dari keseharian kita. Mulai dari mahasiswa yang butuh makan cepat, pekerja yang sibuk, hingga warung kecil yang ingin menjangkau lebih banyak pelanggan, layanan ini menghadirkan kemudahan sekaligus membuka peluang bisnis.

Namun, hal ini juga menguji gaya hidup kita agar lebih disiplin dan bijak dalam mengatur pengeluaran, supaya tidak berujung pada pemborosan.

Baca Juga: 5 Langkah Awal Menghasilkan Passive Income dari Hobi agar Masa Depan Lebih Terencana

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore