Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 1 Agustus 2025 | 17.53 WIB

Sulitnya Punya Rumah di Indonesia: Insentif Pemerintah dan Peran Marketplace Jadi Harapan Baru

Ilustrasi masyarakat mengunjungi pameran untuk mencari rumah impian. (Rian Alfianto/JawaPos.com) - Image

Ilustrasi masyarakat mengunjungi pameran untuk mencari rumah impian. (Rian Alfianto/JawaPos.com)

JawaPos.com-Kepemilikan rumah bagi masyarakat Indonesia, terutama generasi muda, kian menjauh dari jangkauan. Kenaikan harga properti tak sebanding dengan pertumbuhan pendapatan, suku bunga kredit yang fluktuatif, hingga biaya uang muka yang tinggi, menjadi kombinasi yang membuat rumah pertama sulit diwujudkan.

Dalam kondisi ini, insentif fiskal dari pemerintah menjadi salah satu tumpuan. Perpanjangan insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN-DTP) hingga Desember 2025 diyakini menjadi peluang bagi sebagian masyarakat untuk akhirnya bisa mengambil langkah pertama membeli rumah.

"Tren historis menunjukkan bahwa insentif pembebasan PPN memiliki dampak nyata terhadap peningkatan minat pembelian rumah, terutama bagi segmen pembeli pertama. Saat insentif diberlakukan kembali pada Januari 2025, kami mencatat pertumbuhan minat mencapai 48 persen dibanding tahun sebelumnya," ujar Andry Law, Vice President Marketing Rumah123 di arena PropVaganza 2025, Kamis (31/7).

Namun, Andry juga mengingatkan bahwa insentif bukanlah solusi tunggal. Masih ada tantangan besar yang harus dihadapi, termasuk keterjangkauan harga dan distribusi pasokan hunian yang belum merata.

"Karena itu, peran platform digital dalam mempertemukan pencari rumah dengan berbagai pilihan yang sesuai kemampuan dan kebutuhan mereka menjadi sangat penting. Marketplace seperti kami berusaha menghadirkan pengalaman pencarian yang lebih terarah, transparan, dan relevan," tambah Andry Law.

Di sisi lain, data internal Rumah123 juga menunjukkan pola yang konsisten. Setiap kali stimulus diberlakukan, permintaan terhadap rumah naik signifikan. 

Misalnya, pada Juni 2025, sebulan sebelum insentif diperpanjang, permintaan hunian naik 42 persen secara tahunan. Hal ini menandakan bahwa banyak masyarakat menunda keputusan pembelian hingga ada kepastian soal kebijakan insentif.

Namun kenaikan minat belum tentu diikuti realisasi transaksi. Sebab, tantangan seperti keterbatasan dana awal, akses terhadap pembiayaan, serta keterbatasan pilihan rumah terjangkau di lokasi strategis, masih menjadi penghalang besar.

Kondisi inilah yang mendorong banyak platform dan pengembang melakukan pendekatan yang lebih inklusif, seperti menyediakan informasi rumah seken, hunian lelang, atau rumah dijual cepat yang umumnya ditawarkan dengan harga lebih rendah.

Alternatif ini sering kali menjadi jalan keluar bagi mereka yang tidak mampu mengakses rumah baru dari pengembang besar. Di tengah kemajuan teknologi, solusi digital dan data analytics kini berperan penting dalam membentuk pasar properti yang lebih terbuka dan efisien. 

Namun tetap saja, selama rumah masih diperlakukan sebagai komoditas spekulatif dan bukan kebutuhan dasar yang dilindungi negara, maka kesenjangan kepemilikan rumah akan terus melebar.

Untuk yang sedang mencari rumah baru, baik rumah pertama atau rumah lain untuk investasi, PropVaganza 2025 by Rumah123 kini hadir di Gandaria City hingga 3 Agustus. Pameran ini diklaim menjadi lanjutan dari komitmen Rumah123 sebagai marketplace properti terbesar di Indonesia untuk terus hadir lebih dekat dan membantu masyarakat mewujudkan hunian impian mereka.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore