Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 11 Juli 2024 | 20.31 WIB

Harga Avtur Diusulkan Turun, Prediksi Pengamat: Harga Tiket Pesawat Tak Bisa Langsung Turun Signifikan

Petugas Pertamina sedang mengisi bahan bakar avtur  di Lombok International Airport, Nusa Tenggara Barat. Frizal/Jawapos - Image

Petugas Pertamina sedang mengisi bahan bakar avtur di Lombok International Airport, Nusa Tenggara Barat. Frizal/Jawapos

JawaPos.com–Usul penurunan harga avtur sebesar Rp 1.581 dari salah satu komponen biaya oleh Komisi VII DPR RI tidak serta merta menurunkan harga tiket pesawat dalam jumlah yang signifikan.

Pengamat Transportasi Bambang Haryo Soekartono (BHS) menilai, usul penurunan harga eceran tertinggi (HET) avtur tidak lantas menurunkan harga tiket pesawat.

”Dalam komponen biaya pesawat itu yang perlu diketahui adalah ada cost avtur itu 30 persen dari total biaya. Yang besar itu adalah cost untuk keselamatan dan kenyamanan pengguna layanan pesawat,” kata Bambang Haryo Soekartono di Surabaya.

Anggota DPR RI terpilih 2024 – 2029 itu menyatakan, harga avtur di Indonesia termasuk menengah untuk wilayah Asia Tenggara, yakni sekitar Rp 13.300. Di Malaysia dan Singapura harga avtur berkisar Rp 8 ribu hingga Rp 9 ribu. Sedangkan di Thailand sekitar Rp 15 ribu.

”Tapi bukan berarti pemerintah harus berkeras menurunkan harga Avtur. Karena, meski harga Avtur turun, tidak serta merta harga tiket pesawat akan turun banyak,” jelas Bambang Haryo Soekartono.

Dia memberikan ilustrasi apabila avtur turun Rp 1.500 seperti yang diusulkan Komisi VII DPR RI, penurunan itu hanya sekitar 12 persen dari 30 persen komponen biaya. Berarti ada penurunan harga tiket sekitar 4 persen dari total harga tiket pesawat.

”Apabila harga tiket pesawat Surabaya ke Jakarta Rp 1,3 juta kemudian turun 4 persen. Itu hanya turun sekitar Rp 52 ribu. Apakah itu berpengaruh terhadap kemahalan harga tiket pesawat? Pengaruhnya tidak banyak. Apalagi pengguna pesawat itu kan golongan menengah ke atas. Turun 52 ribu rupiah apa artinya bagi mereka,” ungkap Bambang Haryo Soekartono.

BHS menilai daripada penurunan harga avtur, sebaiknya pemerintah mempertimbangkan menurunkan harga solar. Sebab, akan lebih berdampak di perekonomian makro dan mikro secara luas dan jauh lebih besar.

Menurut dia, dari semua moda transportasi yang paling banyak penggunanya terutama logistik yang berdampak pada ekonomi adalah transportasi darat. Sekitar 80 persen logistik menggunakan transportasi darat. Diikuti dengan transportasi laut 12 persen dan sisanya adalah kereta api serta penerbangan.

”Jika harga BBM transportasi darat dan laut serta kereta api yaitu diesel/solar diturunkan, tentu dampaknya  terhadap ekonomi akan jauh lebih besar dan masyarakat akan diuntungkan. Terutama pengguna transportasi dan juga biaya logistik. Ini bisa memengaruhi harga produk di Indonesia sehingga masyarakat akan mendapatkan daya beli yang baik,” ungkap Bambang Haryo Soekartono.

BHS menyatakan transportasi udara, biaya yang terbesar adalah jaminan risiko keselamatan dan standarisasi kenyamanan, yang memengaruhi harga tiket.

”Jangan sampai harga keselamatan ditawar. Kalau terjadi kecelakaan, karena tekanan untuk menurunkan harga tiket, yang dilakukan pengusaha transportasi udara dengan menurunkan cost keselamatan, siapa yang mau bertanggung jawab,” tandas Bambang Haryo Soekartono.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore