
Petugas Pertamina sedang mengisi bahan bakar avtur di Lombok International Airport, Nusa Tenggara Barat. Frizal/Jawapos
JawaPos.com–Usul penurunan harga avtur sebesar Rp 1.581 dari salah satu komponen biaya oleh Komisi VII DPR RI tidak serta merta menurunkan harga tiket pesawat dalam jumlah yang signifikan.
Pengamat Transportasi Bambang Haryo Soekartono (BHS) menilai, usul penurunan harga eceran tertinggi (HET) avtur tidak lantas menurunkan harga tiket pesawat.
”Dalam komponen biaya pesawat itu yang perlu diketahui adalah ada cost avtur itu 30 persen dari total biaya. Yang besar itu adalah cost untuk keselamatan dan kenyamanan pengguna layanan pesawat,” kata Bambang Haryo Soekartono di Surabaya.
Anggota DPR RI terpilih 2024 – 2029 itu menyatakan, harga avtur di Indonesia termasuk menengah untuk wilayah Asia Tenggara, yakni sekitar Rp 13.300. Di Malaysia dan Singapura harga avtur berkisar Rp 8 ribu hingga Rp 9 ribu. Sedangkan di Thailand sekitar Rp 15 ribu.
”Tapi bukan berarti pemerintah harus berkeras menurunkan harga Avtur. Karena, meski harga Avtur turun, tidak serta merta harga tiket pesawat akan turun banyak,” jelas Bambang Haryo Soekartono.
Dia memberikan ilustrasi apabila avtur turun Rp 1.500 seperti yang diusulkan Komisi VII DPR RI, penurunan itu hanya sekitar 12 persen dari 30 persen komponen biaya. Berarti ada penurunan harga tiket sekitar 4 persen dari total harga tiket pesawat.
”Apabila harga tiket pesawat Surabaya ke Jakarta Rp 1,3 juta kemudian turun 4 persen. Itu hanya turun sekitar Rp 52 ribu. Apakah itu berpengaruh terhadap kemahalan harga tiket pesawat? Pengaruhnya tidak banyak. Apalagi pengguna pesawat itu kan golongan menengah ke atas. Turun 52 ribu rupiah apa artinya bagi mereka,” ungkap Bambang Haryo Soekartono.
BHS menilai daripada penurunan harga avtur, sebaiknya pemerintah mempertimbangkan menurunkan harga solar. Sebab, akan lebih berdampak di perekonomian makro dan mikro secara luas dan jauh lebih besar.
Menurut dia, dari semua moda transportasi yang paling banyak penggunanya terutama logistik yang berdampak pada ekonomi adalah transportasi darat. Sekitar 80 persen logistik menggunakan transportasi darat. Diikuti dengan transportasi laut 12 persen dan sisanya adalah kereta api serta penerbangan.
”Jika harga BBM transportasi darat dan laut serta kereta api yaitu diesel/solar diturunkan, tentu dampaknya terhadap ekonomi akan jauh lebih besar dan masyarakat akan diuntungkan. Terutama pengguna transportasi dan juga biaya logistik. Ini bisa memengaruhi harga produk di Indonesia sehingga masyarakat akan mendapatkan daya beli yang baik,” ungkap Bambang Haryo Soekartono.
BHS menyatakan transportasi udara, biaya yang terbesar adalah jaminan risiko keselamatan dan standarisasi kenyamanan, yang memengaruhi harga tiket.
”Jangan sampai harga keselamatan ditawar. Kalau terjadi kecelakaan, karena tekanan untuk menurunkan harga tiket, yang dilakukan pengusaha transportasi udara dengan menurunkan cost keselamatan, siapa yang mau bertanggung jawab,” tandas Bambang Haryo Soekartono.

Kasus Hantavirus di Indonesia, Kemenkes: Saat ini Ada 2 Kasus Suspek di Jakarta dan Yogyakarta
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
12 Kuliner Tahu Campur Paling Enak di Surabaya dengan Kuah Petis Kental yang Selalu Jadi Favorit Warga Lokal hingga Wisatawan
Jadwal Persipura vs Adhyaksa FC Play-Off Promosi Super League, Siaran Langsung, dan Live Streaming
15 Oleh-oleh Paling Ikonik dan Khas dari Kota Surabaya, Rasanya Autentik dan Tiada Duanya, Wajib Kamu Bawa Pulang!
11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
Jadwal PSS vs Garudayaksa FC Final Liga 2, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Siapa Raih Trofi Kasta Kedua?
Hasil Play-off Liga 2: Adhyaksa FC Bungkam Persipura Jayapura 0-1 di Babak Pertama!
Jadwal Veda Ega Pratama di Sesi Q2 Moto3 Le Mans 2026! Rider Indonesia Bidik Start Terdepan
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
