Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 13 Februari 2024 | 00.11 WIB

Pedagang Beras Pasar Cipinang Beberkan Penyebab Langkanya Beras Premium di Minimarket, Salah Satunya Kepentok HET

Pedagang beras di Pasar Cipinang. (Nurul Fitriana/JawaPos.com)

JawaPos.com - Pedagang beras di Pasar Induk Beras Cipinang, Jakarta Timur, membeberkan penyebab langkanya beras premium di minimarket Jakarta. Salah satunya, disebabkan oleh produsen beras ritel modern yang enggan mengemas ulang dan menjual dengan harga eceran tertinggi (HET).
 
Menurut Anto pedagang beras di Toko Idola Cipinang, para produsen beras ritel modern saat ini lebih memilih untuk menjual stok berasnya ke pasar tradisional. Selain lebih menguntungkan bagi produsen, menjual beras dalam jumlah besar, misal 50 kg bisa jauh lebih hemat karena tidak perlu dikemas ulang.
 
Terlebih saat ini, harga beras di pasar tradisional sedang meroket tembus Rp 15.000 per kilogram. Sedangkan jika produsen tetap jual ke minimarket, harganya mentok di HET sebesar Rp 13.800 per kilogram.
 
 
“Ritel modern nggak ada beras. Soalnya kepentok HET dia. HET beras premium aja cuma Rp 13.800 per kg, sedangkan di pasaran sudah Rp 15.000 per kg,” beber Anto saat ditemui JawaPos.com, Senin (12/2).
 
“Pemain yang ngisi pasar modern, mal-mal itu sekarang malah jualnya ke sini. Karena harganya sudah lebih tinggi di pasar tradisional,” imbuhnya.
 
Lebih lanjut, Anto menyebut, salah satu produsen beras di ritel modern yang sudah lari ke pasar induk beras Cipinang adalah Topi Koki. Menurutnya, keputusan produsen ritel tersebut tak lain karena bisa menghemat biaya produksi.
 
 
Pasalnya, pengemasan ulang beras premium menjadi lebih kecil mulai dari 2 kg, 5 kg dan 10 kg menambah waktu hingga biaya. Padahal dengan kemasan besar 50 kg dan dijual ke pasar tradisional bisa menguntungkan dan tentu menghemat biaya produksi.
 
“Lebih hemat dibiaya produksi. Suplier supermarket itu lari ke sini, seperti Topi Koki. Dia kan biasa (suplai) di mal, nah sekarang kan kosong, karena larinya ke sini,” kata Anto
 
“Kalau pasar tradisional kan istilahnya enggak begitu ngurus HET, mahal jual mahal, murah jual mahal. Kalau pasar modern harus ngikutin HET, kalau enggak ngikutin dia dicabut izinnya,” lanjutnya.
 
 
Anto yang juga ikut menyerap pasokan dari Topi Koki, memastikan bahwa untuk saat ini produsen beras ritel modern tidak akan mengisi pasar modern. Itu disebabkan oleh harga di pasar tradisional yang lebih menguntungkan dibandingkan dengan pasar modern.
 
Terlebih, kata Anto, para produsen ritel modern sempat tidak digubris pemerintah saat mereka meminta negosiasi relaksasi HET.
 
“Pertama, ah jual karung gede aja lebih cepet, lebih tinggi harganya. Ngapain kita capek-capek packing. Itu aja kan kemarin sempat negosiasi sama pemerintah untuk minta relaksasi HET. Cuma enggak digubris. Akhirnya dia (produsen) setop pengiriman ke retail,” tandasnya.

Editor: Banu Adikara
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore