
BERCORAK TIONGHOA: Gapura yang menjadi pintu gerbang di kawasan Pecinan, Kelurahan Sentanan, Kecamatan Kranggan, Kota Mojokerto. (Sofan Kurniawan/JPRM)
JawaPos.com - Anggota Dewan Kebudayaan Daerah Kota Mojokerto, Ayuhanafiq mengungkapkan keberadaan keturunan etnis Tionghoa di Kota Mojokerto memang sudah ada sejak lama.
Awalnya persebarannya tidak hanya terpusat di kota, tetapi juga tersebar hingga ke pelosok desa. Namun pada dekade akhir abad ke 19, pemerintah kolonial menerapkan kebijakan untuk membentuk perkampungan khusus bagi warga non pribumi.
Dilansir dari Radar Mojokerto pada Senin (12/2), Kawasan tempat tinggal warga keturunan etnis Tionghoa. "Kawasan itu kemudian dikenal sebagai kampung Pecinan," ujarnya.
Hanafiq menjelaskan penetapan kawasan Pecinan di Kota Mojokerto dilakukan kisaran tahun 1889. Menurutnya perkampungan tersebut disiapkan untuk merelokasi penduduk keturunan etnis Tionghoa yang tinggal di sekitar wilayah kota.
Lokasi kampung Pecinan tersebut ditempatkan di pusat kota. Dan kawasan yang disediakan juga cukup luas agar bisa menampung warga etnis Tionghoa yang saat itu populasinya sudah cukup tinggi.
"Luasnya kawasan Pecinan hampir sepertiga dari luas kota Mojokerto," tambahnya.
Ia menjelaskan batas kampung Pecinan di sebelah utara terbentang di Jalan Residen Pamuji mulai dari Pasar Tanjung Anyar hingga Kelenteng Hok Sian Kiong.
Kemudian membujur ke Jalan Letkol Sumarjo dan ke arah barat di Jalan A Yani. Sedangkan dari sisi selatan, perbatasan kawasan Pecinan berada di sepanjang Jalan Bhayangkara hingga Jalan Wahid Hasyim.
Sementara batas di sebelah timur terbentang di Jalan Gajah Mada mulai dari Pemandian Sekarsari hingga monumen Adipura.
Sebaliknya, garis batas di sisi barat ada di Jalan Brawijaya hingga ke Kradenan. Meski disiapkan khusus bagi warga non pribumi, tapi dalam penerapannya masih terdapat beberapa warga lokal yang tinggal di dalam kawasan tersebut.
Anggota Dewan Kebudayaan Daerah tersebut juga mengatakan mayoritas keturunan Tionghoa memilih tinggal di sekitar Jalan Mojopahit yang kemudian menjadi perwajahan dari Pecinan Kota Mojokerto.
"Karena Jalan Mojopahit merupakan wilayah yang strategis di sektor perdagangan," jelasnya.
Terlebih warga di kampung pecinan dibebaskan untuk mendirikan rumah maupun tempat usaha.
Meski pemberlakuan permukiman khusus bagi keturunan etnis Tionghoa tak lagi diberlakukan sejak 1920 an.
Namun kebijakan itu menjadikan kawasan di pusat kota onde-onde ini menjelma menjadi pusat perniagaan hingga sekarang.

Persib Bandung Dilaporkan Berburu 2 Winger Kiri Baru demi Prestasi di AFC, Nilai Pasarnya Lewati Thom Haye!
11 Kuliner Maknyus Sekitar Kebun Raya Bogor, Tempat Makan yang Sejuk, Nyaman dan Enak
20 Cafe Paling Instagramable di Surabaya, Tempat Ngopi yang Bukan Hanya Kuliner Enak tapi Juga Estetik
Bocor! Ini Alasan Yuran Fernandes Terima Pinangan Bernardo Tavares untuk Perkuat Persebaya Surabaya
14 Angkringan Paling Nikmat di Surabaya, Tempat Nongkrong Seru Sambil Kuliner dan Jajan
Berlabel Timnas Cape Verde! Yuran Fernandes Siap Jadi Tembok Baru Persebaya Surabaya Era Bernardo Tavares
Breaking News! Persebaya Surabaya Deal Rekrut Yuran Fernandes, Green Force Dapatkan Pengganti Gustavo Fernandes
Kronologi Sekeluarga Tewas saat Camping di Temanggung: Mulut Korban Berbusa ketika Ditemukan
Kabar Baik! HP Frans Putros yang Hilang saat Konvoi Juara Persib Bandung Akhirnya Ditemukan
15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
