Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 16 Juni 2023 | 19.23 WIB

Indef Sebut Banyak Konsumen 'Turun Kasta' Bikin Penerimaan Cukai Rokok Melorot

Ilustrasi rak penjualan rokok di supermarket. - Image

Ilustrasi rak penjualan rokok di supermarket.

JawaPos.com - Peralihan konsumsi rokok di tengah masyarakat semakin menguat. Hal ini terlihat dari pernyataan Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati beberapa waktu lalu yang menyampaikan bahwa penurunan produksi rokok golongan I, meskipun di sisi lain terdapat peningkatan produksi rokok golongan II dan III, ternyata berdampak pada realisasi penerimaan cukai hasil tembakau (CHT).

Akibatnya, Direktorat Jenderal Bea Cukai (DJBC) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatat penerimaan CHT hingga April 2023 mencapai Rp 72,35 triliun atau menurun 5,16 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu (year-on-year/yoy).

Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Tauhid Ahmad mengatakan, kenaikan tarif cukai 10 persen telah memicu tren downtrading ini, di mana konsumen turun kelas ke golongan yang lebih murah. "Kita lihat angka penerimaannya mengalami penurunan, tren konsumsi masyarakat naik di segmen rokok yang lebih murah," ungkapnya Tauhid dikutip Jumat (16/6).

Tauhid menjelaskan apabila pola kebijakan seperti ini diteruskan, di mana golongan I terus mengalami kenaikan lebih besar, fenomena downtrading akan terus terjadi. "Apalagi harganya sudah di atas (tinggi), otomatis konsumen golongan I akan turun kelas," ujarnya.

Menurutnya, secara jangka panjang peralihan konsumsi ini akan semakin memengaruhi penerimaan negara. "Semakin besar jarak tarif antar golongan, banyak praktik penghindaran cukai supaya pabrikan bisa buat rokok lebih murah. Kenaikan cukai jadi tidak efektif untuk optimalisasi penerimaan cukai," katanya.

Oleh sebab itu, dia mendorong pemerintah untuk memperhatikan maraknya rokok murah dari golongan II atau di bawahnya. "Kalau pemerintah mau menjaga penerimaan negara ya harus segera diatasi, kalau tidak loss-nya akan banyak. Tidak hanya itu tenaga kerja di industri juga dirugikan karena dengan maraknya downtrading, laba dan omzet industrinya makin turun dan sumbangan cukainya justru negatif," ujarnya.

Fenomena peralihan konsumsi yang berimbas pada penurunan penerimaan CHT terjadi karena adanya selisih tarif yang besar antar rokok golongan I dan golongan II. Selama ini golongan I telah menjadi penyumbang penerimaan cukai terbesar sehingga penurunan produksinya berdampak besar pada penurunan penerimaan negara.

Sebelumnya dilaporkan bahwa produksi rokok golongan I turun 2,57 persen menjadi 13,57 miliar batang pada April 2023. Sementara rokok golongan II naik 11,25 persen menjadi 6,25 miliar batang dan rokok golongan III naik 42,85 persen menjadi 4,51 miliar batang.

Kenaikan produksi rokok golongan II juga terlihat dari maraknya produk rokok dengan merek baru dan berharga murah. Warganet di media sosial kerap mendiskusikan fenomena produk rokok baru dengan harga murah ini. Cuitan pada akun Twitter @txtdariperokok tentang 'Sejak rokok naik, nama rokok temanku jadi aneh semua' telah dilihat sebanyak 3,8 juta kali, dan memperoleh lebih dari 50.000 tanggapan yang membenarkan fenomena tersebut.

Menanggapi hal ini, Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) Moddie Alvianto menilai masyarakat akan membeli rokok sesuai dengan kemampuan finansialnya. Saat harga rokok di pasaran semakin mahal, banyak konsumen memilih 'turun kasta' ke merek yang lebih terjangkau semata-mata agar tetap bisa terus merokok.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore