
ILUSTRASI BUDIONO/JAWA POS
Istri Komar selalu menertawakan Komar setiap pagi sepulang dari jemaah salat Subuh. Yaitu saat Komar mencari keringat di halaman belakang dengan melakukan gerakan pencak silat.
---
LELAKI tua itu melakukannya dengan runtut, dari gerakan dasar sampai gerakan jurus. Ia lakukan dari gerakan lambat sampai gerakan gesit cepat, meloncat menerjang-nerjang udara sampai yang kelihatan hanya bayangan. Setelah itu, ia mengambil sepasang trisula dan diputarnya seperti baling-baling mengelilingi tubuh dan digerakkan untuk menerjang udara pula.
Tubuhnya meloncat, kadang seperti terbang dilindungi gulungan warna putih dari putaran trisula kembar terbuat dari baja putih itu. Dalam setiap perubahan gerak silat, ia mampu menata napas sehingga sampai saat memperlambat gerakan, menuju pendinginan tubuh hanya keringat yang membanjir, tetapi napasnya tetap teratur dan mantap. Ia biasanya lalu ke ruang depan, minum air putih hangat dan makan sedikit cemilan yan tersimpan di stoples. Istrinya menemani duduk sambil mengeluarkan suara-suara rutin. Komentar bahwa lelaki tua ini kurang kerjaan. Sudah tua masih mau berlagak jadi pendekar.
”Untuk apa to, Pak, Sampean berlatih jurus pencak silat seperti ini? Sampean kan sudah tua,” tanya sang istri setiap melihat suaminya itu berlatih bela diri warisan dari kakeknya.
”Agar aku tetap sehat dan selalu bisa berpikir jernih,” jawab Komar.
”Lho, apa ada hubungannya antara ilmu gelut dengan kejernihan berpikir?” lanjut sang istri.
”Hubungannya jelas ada to, Bu.”
”Lha iya, apa hubungannya?”
”Pertama, selama berlatih pencak silat saya bisa berkonsentrasi. Konsentrasi diperlukan untuk menghasilkan pikiran yang jernih.”
”Lalu?”
”Kedua, selama berlatih saya bergerak secara teratur dan urutan yang selalu terjaga. Keteraturan dan urutan yang tertib dalam gerakan tubuh memengaruhi gerak otak menjadi teratur dan tertib. Hasilnya apa? Pikiran jadi jernih.”
”Ada lagi yang ketiga?”
”Dengan berlatih pencak silat saya bisa mengendalikan diri sendiri dan bisa berdamai dengan diri sendiri. Akal sehat terjaga dan pikiran menjadi jernih karena berada dalam suasana damai.”
Selalu itu jawaban Komar setiap istri mengomentari latihan paginya. Dan ia heran juga mengapa istri tercinta ini tidak ada bosannya berkomentar seperti itu. Selalu itu yang dia tanyakan. Anehnya, Komar sendiri heran dengan dirinya sendiri. Kenapa ia juga selalu menjawab dengan jawaban yang sama setiap ditanya istri. Ini terjadi setiap pagi, bertahun-tahun.
Kadang dia merasa lucu juga. Setiap pagi, dia dan istri seperti memutar kaset yang sama. Tidak berubah. Tidak bosan. Tetap bersemangat. Istri bersemangat, berkomentar, dan bertanya, Komar tetap bersemangat menjawab dengan sesuatu yang telah dia hafal di luar kepala. Ia tidak tahu, ini penyakit tua atau apa.
Sebab teman-teman seperjuangan seusia dia juga banyak yang bercerita bahwa perjuangan paling berat di masa tua bukanlah berjuang melawan penjajah atau melawan penjahat seperti yang pernah dilakukannya dahulu. Tetapi berjuang menjawab pertanyaan istri yang kadang mirip seorang jaksa atau mirip petugas yang menginterogasi.
Biasanya sang istri selalu pusing setiap mendapat jawaban serupa dan sama setiap pagi. Ia sama sekali tidak paham. Bagaimana mungkin ilmu berkelahi atau ilmu gelut kok bisa menghasilkan kejernihan berpikir dan mendatangkan kedamaian.
”Pak, untuk alasan ketiga ini perlu kaubuktikan,” pinta sang istri.
”Baik, Bu. Suatu ketika saya akan membuktikan,” jawab Komar.
Sialnya, Komar tidak pernah mendapat kesempatan untuk membuktikan hal itu. Kegiatan rutin setiap harinya selain mengantar istri berbelanja cuma mengontrol sawah warisan orang tua yang dikerjakan oleh para tetangga yang tidak punya sawah. Para tetangga menjadi buruh tani karena memang tidak punya sawah. Mereka dulu punya sawah, tapi kemudian sudah dijual untuk biaya sekolah atau biaya melamar pekerjaan.
Dan lucunya, anak-anak mereka yang sekolahnya dibiayai dari hasil menjual sawah ini malah melamar pekerjaan di kota. Dan kini anak-anak mereka justru memilih hidup di kota-kota. Meninggalkan orang tua yang tidak punya sawah lagi.
Para orang tua yang tidak bersawah ini ditampung oleh Komar. Mereka diajak untuk mengerjakan sawah warisan orang tua dan kakeknya yang amat luas di desa. Jadinya, Komar tidak capek mengerjakan sawah sendiri dan para tetangga mendapat pekerjaan sebagai petani. Ketika pergi ke sawah-sawah itu, Komar merasa suasana hidup di desa tenang dan damai. Istri yang kadang ikut ke sawah sering menyindir bahwa perdamaian itu lebih bisa dijaga dengan bekerja di sawah ketimbang diselesaikan dengan ilmu gelut.
”Terbukti kan, Pak, perdamaian ini lebih dijaga oleh tetangga yang macul atau mencangkul, bukan oleh orang yang ahli pukul seperti Sampean,” kata istri sambil setengah mengejek.
Komar tertawa. Membenarkan perkataan istri. Di dalam hati ia jengkel juga. Tetapi ia ingat pelajaran waktu di pesantren dan waktu berlatih tentara dulu. Bahwa latihan pencak silat dan latihan perang itu memang tidak bisa langsung dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Hanya pada saat ada kejadian darurat gawat bisa dimanfaatkan untuk menolong keadaan. Ketika istri terus mengejek, lama-lama ia akhirnya jengkel setengah marah. ”Bu, apa perlu saya berdoa kepada Tuhan agar ada kerusuhan atau ada konflik agar saya bisa membuktikan kalau ilmu pencak silat saya bisa berfungsi sebagai alat untuk memulihkan perdamaian?” ucap Komar suatu saat.
”Lha, jangan gitu to, Pak. Kalau doamu itu diamini malaikat kan bisa terjadi sungguh-sungguh. Kita kan sudah cukup menderita ketika ada perang dan Sampean terluka kena tembakan sehingga saya sebagai anggota Palang Merah terpaksa merawat Sampean di rumah sakit yang disamarkan di pelosok desa dekat pegunungan sana,” jawab sang istri.
”Tetapi kan justru karena ada perang saya dapat menemukan jodoh perempuan cantik tetapi lumayan galak sekarang,” sahut Komar setengah tertawa.
Istri gemas, menabok punggung suami.
”Jangan-jangan Sampean berdoa semoga ada perang lagi sehingga bisa ketemu perempuan lain yang bisa diperistri lagi?” tanya istri, lalu memasang muka cemberut.
”Bukan begitu maksud saya. Cukup sekali ada perang. Cukup sekali ada pemberontakan besar yang membuat warga desa cemas. Untung waktu itu saya sudah pensiun dan menjadi lurah desa ini dan para pemuda dan orang tuanya sudah saya latih pencak silat semua sehingga mereka bisa menjadi pengawal desa dengan baik, sampai kemudian keadaan normal kembali seperti sekarang,” kata Komar.
Tetapi tanpa mereka duga, saat secara tidak langsung Komar berdoa agar diberi kesempatan membuktikan bahwa pencak silat bisa menjaga perdamaian, ada malaikat lewat yang mengamini doa itu.
Suatu pagi, Komar, sang pejuang dan pendekar tua ini, mengantar istri belanja di pasar desa dekat kecamatan. Terlihat ada kerumunan. Komar yang oleh orang desa masih dipanggil Pak Lurah karena dua kali masa jabatannya sukses bertanya kepada seseorang.
”Anu, Pak Lurah, itu ada dua tukang parkir rebutan orang parkir. Mereka berkelahi,” jawab orang yang ditanya Komar.
”Siapa?” tanya Komar lagi.
”Mas Sastro Lemu dan Pak Tarjo Kuru,” kata orang itu lagi.
”Walah, tidak nggenah semua,” kata Komar, lalu turun dari motornya.
”Pak, Pak, jangan ke sana, Pak. Bahaya,” cegah istrinya.
Komar malah tersenyum. Dengan langkah cepat dia menuju tempat dua tukang parkir berkelahi. Ia menyibak penonton. Dia lihat Sastro Lemu memegang batang besi dan Tarjo Kuru memegang rantai. Keduanya mengerakkan senjata dan sesekali dua senjata itu beradu. Terbit percikan api.
”Stop! Berhenti!” teriak Komar.
Dengan dua gerakan cepat, lelaki tua ini menyentil pergelangan tangan dua orang yang berkelahi itu. Kedua senjata yang digenggam Sastro Lemu dan Tarjo Kuru pun terjatuh. Tangan dua tukang parkir itu tidak bisa digerakkan.
”Ayo berdamai. Kalau tidak mau, dengan sekali pukul ke dada kalian, jantung kalian berhenti berdenyut,” kata Komar.
Wajah dua tukang parkir itu pucat. Komar lalu membuat sentuhan kecil di tangan mereka dan keduanya kembali bisa menggerakkan tangan.
”Ayo, bersalaman! Malu-maluin orang, seperti anak kecil, sudah dewasa malah berkelahi, bersenjata lagi,” ucap Komar.
Dua tukang pakir itu bersalaman dan saling meminta maaf. Komar tersenyum. Penonton bertepuk tangan. Komar menasihati agar keduanya hidup rukun berdampingan karena rezeki sudah diatur rapi oleh Tuhan. Melihat itu, istri menganggukkan kepala, membenarkan kata suami.
Istrinya tesenyum, mengakui kehebatan Komar. Dia lalu mengajak sang suami sarapan soto seger di warung depan pasar. Di tempat itu terlihat dua tukang parkir itu juga sedang makan soto.
”Karena kalian mau berdamai, pagi ini kalian kutraktir makan soto dan minum wedang jeruk serta makan gorengan sepuasnya,” kata Komar dengan suara ramah, berwibawa.
”Terima kasih, Pak,” ucap Tarjo Kuru dan Sastro Lemu bersamaan. Mereka tidak berani menolak kebaikan hati orang yang telah mendamaikan mereka.
Istri Komar kemudian tidak cerewet lagi ketika tiap pagi suaminya berlatih pencak silat. Bahkan kadang menggunakan senjata toya, pedang, ikat pinggang kulit, atau lainnya. Perempuan itu makin percaya, suami yang ketika muda menjadi pejuang melawan Belanda dan kemudian menjadi pejuang melawan pemberontak yang mau mengacau desa sesungguhnya tidak mau menjadi tua. Pejuang dan pendekar tidak pernah tua, demikian lelaki itu sering berbicara.
Suatu malam, mereka berdua pulang dari menengok anak dan cucu di pusat kota. Namun mereka pulang agak kemalaman karena terlalu asyik ngobrol dengan anak serta cucu. Saat menuju rumah di desa, jalan sudah sepi. Sang istri itu merasa waswas. Ia pernah mendengar kabar bahwa jam-jam begini sering ada gerombolan atau geng remaja suka membuat keributan dan menganiaya siapa saja yang mereka temui. Biasanya mereka bersenjata.
Dan betul saja. Ketika sampai di batas kota, di jalan sepi dan lampu penerangan wattnya kurang membuat jalan remang-remang, mereka dihadang sembilan anak muda bermotor. Perempuan tua itu menggigil ketakutan. Lebih-lebih lagi ketika Komar justru menghentikan motor, turun dan memberikan kunci motor kepada istri.
”Tenang saja, Bu,” kata lelaki itu sambil melepas ikat pinggang kulit yang dua ujungnya terbuat dari besi.
Melihat orang yang dihadang tidak takut, malah siap bertarung, anak-anak remaja itu marah. Mereka biasa menemukan mangsa empuk dan ketakutan ketika dihadang sehingga mudah dibereskan. Ini kok lain. Orang yang mereka hadang justru dengan tenang mendatangi mereka. Mereka mengepung lelaki tua itu. Mereka mengacu-acukan senjata tajam sambil berteriak-teriak kasar. Komar mengamati lawannya dan mulai membuat perhitungan.
Sebelum anak muda itu melancarkan serangan, lebih dahulu Komar bergerak cepat sekali. Ia melecutkan ikat pinggangnya lima kali. Lantas terdengar jerit anak muda yang tangannya membiru dan bengkak kena hantaman ikat pinggang. Senjata mereka terlepas, jatuh ke atas aspal dengan suara berdentang. Mereka kesakitan.
Komar menghadapkan tubuhnya ke arah empat anak yang masih menggenggam senjata.
”Ayo silakan siapa yang ingin tangannya patah saya lecut dengan ikat pinggang ini?” tantang Komar.
Empat anak muda itu gemetar. Mereka ketakutan. Tidak berani menjawab, tidak berani bergerak.
”Kalian ingin berdamai denganku? Atau ingin bertarung denganku?” tanya Komar lantang.
Empat anak muda itu melirik ke arah lima teman yang masih kesakitan sambil memegang satu tangannya yang bengkak.
”Berdamai, Pak.”
”Ya, damai, Pak.”
”Kami menyerah.”
Komar lega. ”Baik, kalau begitu, lepaskan senjata kalian. Lalu semua kalian mundur!” perintah Komar.
Keempat anak muda itu melepas senjata mereka. Mereka melangkah mundur, menjauhi senjata. Dengan telepon genggam jadul, Komar menelepon kantor polisi. Ia sudah menjelaskan kondisi ana-anak itu dan meminta komandan polisi tidak menahan mereka. Cukup mereka dibawa ke kantor polisi. Orang tua diminta datang. Semua senjata disita polisi.
”Baik, Pak,” kata komandan polisi di ujung telepon.
Sambil menunggu kedatangan polisi, Komar mengambil botol kecil dari saku rompinya. Ia membuka tutup botol, menuangkan minyak urut khusus yang kemudian dioleskan untuk menyembuhkan bengkak di tangan anak-anak itu.
”Gimana? Sudah baikan?” tanya Komar.
”Sudah, Pak. Sudah sembuh,” jawab si anak yang diobati.
Lalu terdengar raungan sirene mobil patroli polisi mendekat. (*)
Jogjakarta, 2022
---
MUSTOFA W. HASYIM
Menulis puisi, cerpen, novel, esai, naskah drama, dan cerita anak. Aktif di Persada Studi Klub (PSK) Malioboro dan majalah Suara Muhammadiyah.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Resmi Pindah ke Bali! Derby Jawa Timur Arema FC vs Persebaya Surabaya Digelar di Stadion Kapten I Wayan Dipta
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi Sebut Ada 3 Lokasi untuk Pembangunan Koperasi Merah Putih
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Lawan Arema FC Laga Terakhir Bruno Moreira? Intip Akhir Kontrak Kapten Persebaya Surabaya
