
COVER BUKU
Seno Gumira Ajidarma dalam novel terbarunya menempatkan pelacur sebagai perempuan yang berdaya dan hidup yang kebetulan saja dalam perahu.
PELACUR sudah kadung menyandang makna negatif dalam benak masyarakat. Contoh, orang akan terperanjat ketika mendengar jawaban bahwa suatu malam kita ditemani Para Pelacur dalam Perahu untuk memberi tahu bahwa kita sedang khusyuk menyelesaikan novel terbaru Seno Gumira Ajidarma.
Yang mendengar akan menduga kita sedang ”membeli” tubuh orang lain, baik perempuan maupun lelaki. Profesi yang disebut sebagai profesi paling tua di dunia ini memiliki makna yang selalu buruk, bahkan ketika mereka belum sempat diberi kesempatan menjelaskan, apalagi membela.
Tidak demikian dalam teks sastra. Sastra haruslah memberi tafsir lain atau ruang baru bagi siapa pun, termasuk kata (ataupun profesi) pelacur. Para Pelacur dalam Perahu, fiksi panjang Seno Gumira Ajidarma yang baru saja terbit ini, secara teknis memang mengisahkan para pelacur yang menyusuri sungai dalam sebuah Perahu Cinta. Tentulah mereka menjajakan cinta kepada pelanggan sebab dengan ini mereka disebut sebagai pelacur.
Seno dengan kesadaran penuh tidak tampil sebagai narator yang berlagak suci dan menghakimi. Pun tidak pada sisi ekstrem sebaliknya yang membela habis-habisan. Seno dalam novel ini menempatkan pelacur sebagai perempuan yang berdaya dan hidup yang kebetulan saja dalam perahu. Dan, sebagaimana manusia pada umumnya, pelacur juga memiliki martabat. Dan beginilah Seno memulai tragedi pembakaran rumah bordil milik Tumirah:
”Para pelacurnya diperkosa, yang melawan dianiaya, dan sebagian besar dibunuh karena mempertahankan kehormatan. Tentu saja para pelacur mempunyai kehormatan. Mereka bukan hanya berdarah dan berdaging. Mereka mempunyai hati, nurani, perasaan, dan pikiran.” (hal 1)
Rumah bordil milik Tumirah ada di kawasan antara; di tengah wilayah konflik; antara kamp gerilyawan dan markas tentara; sehingga pelacur-pelacur milik Tumirah juga harus melayani mereka secara bergantian antara tentara dan gerilyawan.
Namun, pelaku-pelaku pembakaran dan penganiaya para pelacur bukan dari salah satu mereka. Melainkan sekelompok lelaki berbaju serbahitam dengan topeng mirip ninja. Mereka merangsek dan merusak sehingga Tumirah bersama 20 pelacur yang selamat dari jumlah total 50 orang pelacur harus mencari suaka dengan menaiki kapal dan menyusuri sungai.
Martabat dan Paradoks
Sebelum memulai membaca, kita mungkin sudah ketakutan novel ini akan mengorkestrasi pandangan machoisme terhadap profesi dan perempuan yang dikisahkan. Namun, sampai novel ini rampung, kita justru dibawa ke kesadaran bahwa perahu dan pelacur yang hidup di dalamnya hanya simbol akan eksistensi kehidupan yang terus bergerak, menunggu keajaiban demi keajaiban, sesekali dukacita yang lantas berujung pada kefanaan itu sendiri.
Juga dalam menggambarkan tokoh-tokoh perempuan, Seno hadir dengan kesadaran gender yang patut dicatat baik. Seno menggambarkan bahwa semua kru adalah perempuan, kecuali Roni seorang lelaki juru kecantikan seorang.
”Pada prinsipnya Tumirah tidak bersedia menerima lelaki sebagai pegawainya. Namun tentu Roni adalah perkecualian, karena Roni tergolong teruna, lelaki yang keperempuan-perempuanan; yang terpenting, ia menguasai sangat banyak hal tentang kecantikan.” (hal 44)
Tumirah digambarkan perempuan alfa yang dominan dan mampu menjadi pemimpin. Ada Supiah perempuan dengan tubuh kekar tinggi besar, jago bela diri yang kemudian menjadi penjaga Perahu Cinta dan para pelacur Tumirah.
Ada perempuan juru kemudi, perempuan ahli mesin, ada pelacur pembaca puisi, pemain biola, ahli filsafat, dan lain-lain. Atau bagaimana para pelacur ini memiliki kesadaran akan orientasi seksual bahwa tidak selamanya hubungan lelaki-perempuan, kadang kalanya lelaki-lelaki, perempuan-perempuan, dan sebagainya.
Tokoh perempuan dalam novel ini digambarkan berdaya dengan pilihan dan kemampuannya serta tidak terjebak untuk menghakimi seperti sekelompok orang berbaju serbahitam. Selain itu, beberapa hal digambarkan sangat paradoks yang menyentak kesadaran pembaca. Di tengah konflik, justru yang mengingatkan kehidupan adalah kehadiran rumah bordil.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Genoa vs Sudtirol di Coppa Italia: Grifone Berburu Gol di Stadio Ferraris
Prediksi Skor FC Seoul vs Persib di ACL Two: Maung Bandung Hadapi Ujian Berat di Korea
Prediksi Skor Rayo Vallecano vs Espanyol di Liga Spanyol: Misi Berat Emil Audero di Kandang
Prediksi Skor Levante vs Athletic Bilbao di Liga Spanyol: Los Leones Bidik Poin di Laga Tandang
Prediksi Skor Olympiacos vs Jagiellonia Bialystok di Liga Europa: Thrylos Amankan 3 Poin Kandang
Prediksi Skor Reading vs Brentford di Carabao Cup: The Bees Bakal Sengat Tuan Rumah
Daftar Lengkap Korban Tenggelamnya Kapal Virgo Transport 8 yang Berhasil Dievakuasi
Prediksi Skor Al-Hilal vs Al-Gharafa di Liga Champions Asia: Gabriel Martinelli Cetak Gol Lagi!
Prediksi Genoa vs Sudtirol: Rotasi De Rossi Jadi Sorotan, Laga Coppa Italia Bisa Berlangsung Sengit
Prediksi Skor Atletico Madrid vs Osasuna di Liga Spanyol: Los Colchoneros Menang di Metropolitano

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022