Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 11 Oktober 2026 | 21.46 WIB

Ekspor Manufaktur Indonesia Baru 0,3 Persen dari Dunia, Danantara Soroti Peluang

Dananrara. (Djati Waluyo/ Jawapos.com)

JawaPos.com - EO PT Danantara Development Management Fund (DDMF), Sigit Puji Santosa, menilai Indonesia memiliki peluang besar untuk meningkatkan daya saing industri manufaktur di pasar global.

Meski sekitar 82 persen nilai ekspor manufaktur Indonesia berasal dari dalam negeri, kontribusi Indonesia terhadap ekspor manufaktur dunia masih relatif rendah, yakni sekitar 0,3 persen.

Menurut Sigit, kondisi tersebut menunjukkan perlunya investasi jangka panjang yang tidak hanya mengejar keuntungan finansial, tetapi juga memperkuat kapasitas produksi, menciptakan lapangan kerja, dan mendorong pengembangan industri bernilai tambah tinggi.

Berdasarkan data Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) Trade in Value Added (TiVA) 2025, porsi nilai domestik dalam ekspor manufaktur Indonesia mencapai 82 persen. Angka itu setara dengan Tiongkok sebesar 81 persen dan lebih tinggi dibandingkan Malaysia, Korea Selatan, serta Vietnam.

"Namun, kontribusi Indonesia terhadap ekspor manufaktur global masih sekitar 0,3 persen. Kondisi ini menunjukkan peluang besar untuk meningkatkan skala, kompleksitas, dan daya saing industri nasional," ujar Sigit dalam keterangan tertulis yang diterima, Minggu (11/10).

Berdasarkan situasi ekonomi dan iklim industri Indonesia saat ini, tahap industrialisasi perlu berfokus pada penguatan pemasok domestik, kapabilitas teknologi, inovasi, dan keterhubungan dengan pasar global.

Industri seperti semikonduktor, kecerdasan artifisial, serta manufaktur berbasis teknologi dapat menjadi sumber pertumbuhan baru sekaligus memperluas kesempatan kerja berkualitas.

Sigit menilai, Indonesia memiliki fondasi yang kuat, namun yang menjadi tantangan adalah bagaimana mengembangkan industri dengan kompleksitas dan nilai tambah yang lebih tinggi agar mampu bersaing secara global.

Transformasi tersebut membutuhkan pembiayaan berjangka panjang. Meski begitu, banyak proyek strategis tapi belum sepenuhnya bankable karena menghadapi kesenjangan struktur komersial, risiko permintaan, pengadaan lahan, ketidakpastian kebijakan, koordinasi lintas lembaga, maupun ketidaksesuaian tenor pembiayaan.

Ia mengatakan, Danantara Development Management Fund (DDMF) dibentuk untuk menjembatani kebutuhan pembangunan nasional dengan proyek yang layak secara ekonomi, tetapi memerlukan waktu lebih panjang untuk mencapai kelayakan finansial.

Sebagai holding investasi yang berfokus pada pembangunan nasional dan pelayanan publik, DDMF menjalankan peran katalitik melalui penyiapan proyek, penyusunan struktur investasi yang bankable, mobilisasi modal jangka panjang, serta pengawalan pelaksanaan proyek hingga menghasilkan dampak.

Sigit menekankan pentingnya dukungan publik terhadap mandat DDMF dalam mendorong pembangunan nasional.

"DDMF hadir untuk memediasi kebutuhan pembangunan nasional dengan proyek-proyek yang secara ekonomi viable, tetapi membutuhkan waktu lebih panjang untuk mencapai hasilnya. Karena itu, kami menjalankan peran catalytic investment agar dampak strategis dan ekonomi proyek dapat dikapitalisasi," ucapnya.

Sigit mengatakan, dalam menilai investasi, DDMF mempertimbangkan tiga dimensi secara bersamaan, yakni nilai dan dampak strategis, kelayakan ekonomi, serta kelayakan finansial.

Editor: Kuswandi
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore