
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi. (Nurul F/ JawaPos.com)
JawaPos.com – Viral di media sosial terkait keluhan tiket pesawat rute Bandara Rembele, Aceh menuju Bandara Internasional Kuala Namu, Sumatera Utara yang tembus hingga Rp 8 juta di tengah kondisi darurat bencana.
Merespons hal itu, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mengakui dan memastikan mahalnya harga tiket berkaitan dengan penggunaan penerbangan charter yang memang memiliki skema tarif berbeda dari penerbangan reguler.
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menegaskan bahwa mekanisme penetapan harga pada penerbangan charter tidak bisa disamakan dengan penerbangan komersial reguler.
“Jadi kalau charter memang agak sedikit berbeda. Karena kalau charter itu kan mereka menghitung tidak seperti reguler," kata Dudy dalam Media Briefing di Jakarta, Jumat (5/12).
Ia menilai harga tiket yang mahal untuk pesawat charter disebabkan oleh beban penumpang yang berbeda ketika saat berangkat dan pulang. Sehingga mereka biasanya menetapkan tarif sekaligus untuk perhitungan pulang dan pergi alias PP.
"Charter itu menghitung pulang dan pergi. Sehingga kalau dibebankan kepada per seatnya jatuhnya menjadi lebih mahal,” jelas Dudy.
“Karena kalau dari Jakarta misalnya kosong kemudian dia kembali itu yang dia hitung. Jadi memang kalau charter relatif menjadi lebih mahal dari reguler. Kurang lebih demikian," tambahnya.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub, Lukman F. Laisa, menjelaskan bahwa pemerintah memiliki kewenangan penuh mengatur tarif untuk penerbangan perintis maupun reguler, tetapi tidak untuk charter.
“Tiket pesawat kita itu kalau perintis sudah jelas ya, tarifnya ditetapkan oleh Kementerian Perhubungan. Kemudian tiket pesawat reguler tarifnya dibatasi TDR dan ditetapkan juga Kementerian Perhubungan,” jelas Lukman.
“Ada hal yang tidak bisa ditetapkan adalah tarif pesawat charter. Itu yang terjadi. Jadi kalau charter tentu kita tidak bisa batasi,” lanjut Lukman.
Ia juga menegaskan bahwa keterbatasan jadwal penerbangan perintis dan reguler di masa bencana membuat sebagian masyarakat memilih opsi charter, yang biayanya tidak berada di bawah pengawasan pemerintah.
“Jadi saat ini memang penerbangan perintis maupun penerbangan reguler itu tidak sebanyak setiap hari ada. Jadi pada saat tertentu memang ada yang menggunakan charter dan tiket ini yang tidak bisa kita awasi," ujar Lukman.
"Karena memang tidak ada aturan. Ini kan langsung di-charter satu pesawat dengan sekali perjalanan berapa gitu,” tukasnya.
Sumber foto: Nurul Fitriana/JawaPos.com

Bentrok Maut Tambak Matraman, Satu Orang Tewas, Motor hingga Rumah Semi Permanen Dibakar
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kronologi Tewasnya Satpam Jatiluhur Purwakarta: Rekam Vandalisme hingga Tewas Terborgol
Donald Trump Terjebak! Perang Iran Seret Presiden AS ke Krisis Politik dan Militer
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Profil Mitchell Baker: Striker Naturalisasi Timnas Indonesia Berdarah Yogyakarta, Debut Gemilang di Piala AFF 2026
Profil Aripat, Suami Nathalie Holscher: Dari Sales hingga Menjadi Pengusaha
Profil Santyka Fauziah, Kekasih Sule yang Didoakan Nathalie Holscher Segera Menikah
Profil Ikhwan Ali Tanamal: Winger Baru Persib Bandung Menyala di Piala Presiden 2026, Wonderkid Tulehu Dikontrak hingga 2028
Sempat ‘Hilang’ dari Bangku Cadangan saat Timnas Indonesia Gulung Kamboja, John Herdman Ungkap Alasannya
