
Sektor perikanan Tuna di Indonesia dinilai punya potensi besar. (SALMAN TOYIBI/JAWA POS)
JawaPos.com - Permintaan tuna berkelanjutan di pasar premium dunia terus meningkat dan membuka peluang besar bagi Indonesia untuk memperkuat posisinya sebagai pemasok utama.
Berdasarkan data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), nilai ekspor tuna Indonesia menembus USD 680 juta pada 2022, sementara minat pasar Amerika Serikat, Jepang, Uni Eropa, dan Inggris terhadap tuna yang ditangkap secara bertanggung jawab tumbuh lebih dari 15 persen per tahun.
Di pasar Eropa dan Inggris saja, kebutuhan tuna yang ditangkap menggunakan metode berkelanjutan huhate atau pole and line telah melampaui 26.000 ton. Tren ini dinilai menjadi momentum penting bagi Indonesia untuk memperkuat kembali praktik perikanan tradisional tersebut agar mampu mempertahankan daya saing produk di pasar global.
Pada peringatan World Fisheries Day akhir pekan lalu, Indonesia Tuna Consortium (TC) dan Asosiasi Perikanan Pole & Line dan Handline Indonesia (AP2HI) menegaskan bahwa metode huhate memiliki nilai strategis bukan hanya bagi keberlanjutan sumber daya ikan, tetapi juga bagi stabilitas ekonomi pesisir.
Pernyataan ini disampaikan dalam diskusi nasional yang dihadiri sekitar 30 jurnalis dan kreator konten.
Sebagai negara penghasil tuna terbesar di dunia, Indonesia disebut memiliki tanggung jawab besar untuk menerapkan praktik penangkapan yang menjaga keseimbangan antara produktivitas dan kelestarian laut.
Teknik huhate yang telah berlangsung selama puluhan tahun dianggap efektif karena bersifat selektif, minim tangkapan sampingan, dan menghasilkan kualitas tuna lebih baik.
“Huhate bukan hanya warisan budaya, tetapi juga aset ekonomi yang membuka peluang besar bagi masyarakat pesisir dan industri tuna nasional,” kata Thilma Komaling, Program Lead Indonesia Tuna Consortium.
Ia menilai bahwa metode penangkapan one-by-one ini mendukung terbentuknya rantai pasok yang kredibel dan memenuhi standar keberlanjutan yang menjadi syarat utama akses pasar global.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua AP2HI Abrizal Andrew Ang menambahkan bahwa sebagian besar usaha pole and line melibatkan unit usaha kecil dan menengah yang menyerap banyak tenaga kerja lokal.
Produk tuna yang ditangkap dengan metode tersebut juga memiliki nilai jual 15–30 persen lebih tinggi di pasar ekspor karena memenuhi standar keberlanjutan internasional.
“Ketika kita mendukung huhate, kita tidak hanya menjaga keberlanjutan stok tuna, tetapi juga memastikan ribuan keluarga nelayan memperoleh pendapatan stabil,” lanjutnya.
TC dan AP2HI juga menilai bahwa penguatan perikanan berbasis sains dan praktik ramah lingkungan penting untuk menjaga keberlanjutan ekonomi jangka panjang sektor perikanan nasional. Upaya ini dinilai dapat memperkokoh reputasi Indonesia sebagai pemasok tuna berkelanjutan sekaligus meningkatkan daya tawar produk di tingkat global.
Melalui peringatan World Fisheries Day ini, media juga diharapkan dapat memperluas pemahaman publik mengenai peran perikanan tradisional yang terbukti ramah lingkungan dan memiliki dampak besar terhadap ekonomi pesisir.

Puluhan Orang Terjebak di AEON Mall Kumamoto Usai Gempa Dahsyat M7,1 Diikuti Ledakan
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Laporkan Malik Bawazier, Suami Endah Fitrianingsih Jadikan CCTV Bukti Perzinaan
Pelapor Perzinaan Malik Bawazier Dicecar 28 Pertanyaan di Polda Metro Jaya
Prediksi Skor Arema FC vs DPMM FC di Piala Presiden 2026! Momentum Singo Edan Lolos ke Semifinal
Suami Endah Fitrianingsih Sakit Hati ke Malik Bawazier Atas Kasus Perzinaan
Malik Bawazier Dilaporkan ke Polda Metro Jaya, Suami Cut Keke Diduga Tersangkut Kasus Perzinaan
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Prediksi Skor Persib Bandung vs Tampines Rovers di Piala Presiden 2026! Maung Bandung Bisa Sapu Bersih Laga
Prediksi Skor Persebaya Surabaya vs PSMS Medan di Piala Presiden 2026: Misi Green Force Raih 3 Poin Lagi!
