Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 16 Agustus 2023 | 20.37 WIB

Multiplier Effect Hilirisasi Sumber Daya Alam: Dulu Ekspor Nikel Rp 17 T, Sekarang Rp 510 T

ILUSTRASI. Ekskavator memindahkan tanah ke truk dalam pertambangan nikel di Sorowako, Sulawesi Selatan (28/7). Bijih nikel merupakan hasil tambang pertama yang dilarang diekspor secara mentah - Image

ILUSTRASI. Ekskavator memindahkan tanah ke truk dalam pertambangan nikel di Sorowako, Sulawesi Selatan (28/7). Bijih nikel merupakan hasil tambang pertama yang dilarang diekspor secara mentah

Hilirisasi sumber daya alam (SDA) mulai dilakukan. Secara bertahap, pemerintah menghentikan ekspor bahan tambang mentah. Dimulai dari nikel, kemudian bauksit, timah, hingga alumina. Sejak Januari 2020, kebijakan larangan ekspor bijih nikel diberlakukan. Dampak positif pun mulai terlihat.

---

TUJUAN menyetop ekspor bahan tambang mentah adalah meningkatkan nilai tambah domestik. Sejak bergulirnya program hilirisasi sumber daya alam, terutama logam nikel, beberapa multiplier effect mulai terlihat pada ekonomi nasional.

Juru Bicara Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Febri Hendri Antoni Arif menjelaskan, berdasar data Kemenperin, saat ini terdapat 34 smelter yang sudah beroperasi dan 17 unit yang sedang dalam konstruksi.

Investasi yang telah tertanam di Indonesia mencapai USD 11 miliar atau sekitar Rp 165 triliun untuk smelter pirometalurgi dan sebesar USD 2,8 miliar atau mendekati Rp 40 triliun untuk tiga smelter hidrometalurgi yang akan memproduksi MHP (mixed hydroxide precipitate) sebagai bahan baku baterai.

Besarnya multiplier effect smelter nikel itu dapat dilihat dari nilai tambahnya. Kemenperin menghitung, nilai tambah yang dihasilkan dari nikel ore hingga produk hilir meningkat berkali-kali lipat jika diproses di dalam negeri.

Febri menyampaikan, bila harga nikel ore mentah adalah USD 30/ton, harganya naik 3,3 kali mencapai USD 90/ton ketika menjadi nickel pig iron (NPI). Bila nikel menjadi feronikel, harganya akan terkerek 6,76 kali atau setara USD 203/ton.

Ketika hilirisasi berlanjut dengan menghasilkan nikel matte, nilai tambahnya menjadi 43,9 kali atau USD 3.117/ton. Terlebih, sekarang Indonesia sudah memiliki smelter yang menjadikan MHP sebagai bahan baku baterai dengan nilai tambah sekitar 120,94 kali (USD 3.628/ton).

”Apalagi, jika ada pabrik baterai yang mengubah ore menjadi LiNiMnCo, nilai tambahnya bisa mencapai 642 kali lipat,” ungkap Febri.

Upaya itu tentu akan menambah pemasukan pendapatan negara bukan pajak (PNBP) dan pajak-pajak lain yang nilainya triliunan rupiah. ”Dari sini saja sudah terbukti, seperti yang disampaikan Bapak Presiden, jika kita mengekspor bahan mentah, angkanya Rp 17 triliun jika dibandingkan dengan ekspor produk hasil hilirisasi nikel yang mencapai Rp 510 triliun. Penerimaan negara dari pajak akan jauh lebih meningkat,” paparnya.

Posisi Indonesia sebagai eksportir utama produk hilir logam nikel juga terus menguat dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2022, ekspor feronikel mencapai USD 13,6 miliar atau meningkat 92 persen. (dee/agf/c14/dio)

PUNDI-PUNDI HILIRISASI NIKEL

- Perdagangan dengan Tiongkok mengalami perbaikan neraca. Pada 2018, defisit USD 18,4 miliar. Pada kuartal I 2023, surplus USD 1,2 miliar.
- Pertumbuhan penciptaan tenaga kerja rata-rata tiap tahun mencapai angka 26,9 persen dalam empat tahun terakhir.
- Penerimaan perpajakan pada 2022 sebesar Rp 17,96 triliun. Jumlah itu naik 10,8 kali lipat dibandingkan dengan 2016 yang hanya Rp 1,66 triliun.
- PPh badan pada 2022 mencapai Rp 7,36 triliun. Jumlah itu naik 21,6 kali lipat dibandingkan dengan 2016 yang hanya Rp 0,34 triliun.

Diolah dari berbagai sumber

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore