Logo JawaPos
Author avatar - Image
15 September 2019, 03.15 WIB

Saatnya Mobilisasi dan Orkestrasi Bisnis

BERBAGI ILMU: Rhenald Kasali diapit Christeven Mergonoto (kiri) dan Abdullah Azwar Anas dalam Sharing Bisnis di ruang redaksi Jawa Pos, Surabaya, kemarin. (Dite Surendra/Jawa Pos) - Image

BERBAGI ILMU: Rhenald Kasali diapit Christeven Mergonoto (kiri) dan Abdullah Azwar Anas dalam Sharing Bisnis di ruang redaksi Jawa Pos, Surabaya, kemarin. (Dite Surendra/Jawa Pos)

JawaPos.com – The main is no longer the main. Rhenald Kasali mengatakan kalimat tersebut saat membedah buku terbarunya, #MO, di ruang redaksi Jawa Pos, Surabaya, Jumat (13/9). Menurut pendiri Rumah Perubahan tersebut, kini perusahaan-perusahaan sudah kehilangan sumber pendapatan utama.

Apa penyebabnya? Di hadapan sekitar 200 orang yang sebagian besar adalah pebisnis, Rhenald menjelaskan bahwa fenomena itu muncul akibat digitalisasi di berbagai sektor.

"Ke depan, selain karena shifting, model bisnis harus berubah," ujarnya dalam Sharing Bisnis bersama Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas dan Direktur PT Kapal Api Global Christeven Mergonoto.

Mobilisasi dan orkestrasi menjadi metode yang paling tepat untuk menyikapi perubahan perilaku konsumen dan pasar pada era digital seperti sekarang. Karena itulah, dalam buku terbarunya, Rhenald mengulas mobilisasi dan orkestrasi yang lantas disingkatnya menjadi MO. Dia menyebut penggunaan tanda pagar atau tagar dengan lambang # sebagai salah satu contoh mobilisasi. Misalnya, #MeToo yang ramai beberapa waktu lalu.

Mobilisasi, menurut pakar manajemen tersebut, lahir dalam connected society. Koneksi itu tercipta dari enam pilar teknologi. Yakni, internet of things, cloud computing, big data analytics, artificial intelligence, super apps, dan broadband infrastructure.

"Tapi, melakukan mobilisasi tetap membutuhkan power (kekuatan, Red)," tegasnya.

Jika mobilisasi membutuhkan daya dari masyarakat yang saling terhubung, orkestrasi perlu pemikiran yang visioner. Karena itu, orkestrasi lebih berkaitan dengan manajemen. "Tidak perlu aset yang besar untuk menghasilkan pendapatan yang besar pula," tutur Rhenald.

Bisnis layanan antar makanan dalam jaringan (daring), misalnya. Bisnis tersebut berkembang pesat tanpa si pemilik bisnis harus memiliki restoran.

Bagi perusahaan, memahami cara kerja dunia baru adalah tantangan. Banyak old industry (industri lama) yang menghadapi tantangan baru. Tantangan itu juga terjadi pada perusahaan new model (model baru) yang dikelola old power (kekuatan lama).

Old power cenderung menggunakan matriks lama yang berpatokan pada profit. Sementara itu, new model business lebih mementingkan penambahan jumlah pelanggan daripada peningkatan profit.

Salah satu sektor yang dapat menerapkan perubahan tersebut adalah pariwisata. Banyuwangi menjadi kabupaten yang berhasil mendayagunakan sektor tersebut. Kemarin Anas menuturkan bahwa wilayahnya berbenah untuk menarik minat wisatawan dan melunturkan citra negatif Banyuwangi pada masa lalu sebagai produsen santet. Sejak 2010, Banyuwangi berubah.

"Kami terus berinovasi. Dulu Jakarta–Banyuwangi 21 jam, tapi sekarang hanya 90 menit karena ada pesawat. Surabaya–Banyuwangi juga hanya 50 menit sekarang," ungkap Anas.

Sektor pariwisata pun menumbuhsuburkan perekonomian Banyuwangi. Kini pendapatan per kapita rakyat melonjak dari Rp 20 juta menjadi Rp 48 juta dalam setahun. Angka kemiskinan yang sebelumnya selalu dua digit sekarang tinggal satu digit.

Dalam kesempatan itu, Steven menceritakan episode disrupsi yang dialami Kapal Api pada 2012. Saat itu performa bisnis perusahaannya cukup bagus. Karena itu, manajemen lengah dan cenderung mengabaikan kompetitor.

"Kami tidak punya bayangan bahwa kompetitor akan mengambil market share yang signifikan. Saat masalah belum beres, kompetitor yang lain masuk dan mendisrupsi pasar dengan harga murah," terangnya.

Beruntung, perusahaan yang Steven pimpin bisa bertahan meski harus mengerahkan lebih banyak energi dan tenaga dalam menghadapi persaingan. Dia menekankan bahwa yang terpenting dalam disrupsi adalah berani keluar dari zona nyaman dan bersedia beradaptasi dengan dunia digital.

Kini Kapal Api agresif melakukan riset. Mereka aktif mencari tahu apakah publik sudah beralih dari kopi saset ke kopi siap saji yang bisa dipesan lewat aplikasi daring. Atau, masyarakat justru lebih suka mengonsumsi kopi di coffee shop. "Kami sedang mendalami itu," ujarnya.

Selain riset, Steven dan timnya lebih terbuka terhadap anak muda. Sebab, generasi milenial punya ide yang lebih berkorelasi dengan kondisi pasar sekarang.

"Makanya, kini kami pelan-pelan merevitalisasi karyawan dengan anak muda agar image kami yang old power atau kuno bisa berubah jadi new power," tandasnya.

Editor: Edy Pramana
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore