
Prof. Rhenald Kasali. (Hanung Hambara/Jawa Pos)
JawaPos.com - Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Rhenald Kasali, menyuarakan pembelaannya terhadap special show Mens Rea Pandji Pragiwaksono yang tayang di Netflix. Ia menegaskan bahwa komedi satir adalah bagian dari percakapan publik yang wajar dan perlu dijaga ruang hidupnya.
Dalam pernyataannya di Instagram, Rhenald mengaku telah menonton Mens Rea dan menilai pertunjukan tersebut sebagai tontonan yang banyak disaksikan publik Indonesia, bahkan masuk jajaran teratas tayangan Netflix. Ia menyebut materi yang disampaikan Pandji relevan dengan kondisi sosial saat ini dan disampaikan dalam proporsi yang tepat.
“Saya setuju dengan apa yang disampaikan. Nama saya juga disebut, meskipun dibandingkan dengan X-Men. Tapi menurut saya, nama-nama yang disebut itu ada dalam proporsinya. Itulah percakapan publik sehari-hari,” ujar Rhenald, dikutip Kamis (15/1).
Menurutnya, penyebutan nama tokoh, termasuk politisi, dalam materi komedi bukanlah hal baru. Ia menilai politisi Indonesia pun sejatinya sudah terbiasa dengan budaya satir dan roasting, bahkan kerap mengundang komedian untuk mengkritik mereka secara terbuka di berbagai forum.
“Satir itu tujuannya mencubit, bukan memeluk. Jadi kalau ada yang sedang terlalu memeluk tokoh tertentu, ya dilepas-lepas saja dengan cara humor,” kata Rhenald.
Ia kemudian mencontohkan bagaimana budaya kritik melalui humor juga terjadi di negara lain, termasuk Amerika Serikat. Rhenald menyinggung sosok Donald Trump yang kerap menjadi bahan olok-olok publik dan komedian, namun tetap meresponsnya dalam kerangka kebebasan berekspresi.
“Donald Trump juga dihina secara terbuka. Tapi itulah bagian dari demokrasi dan kebebasan berpendapat di negara besar,” ujarnya.
Rhenald menegaskan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menghargai perbedaan pendapat. Ia mengutip pemikiran Voltaire yang menyatakan ketidaksetujuan terhadap sebuah pendapat tidak boleh menghalangi hak seseorang untuk menyampaikannya.
Ia juga mengingatkan bahwa tertawa tidak selalu berarti meremehkan negara. Dalam banyak kasus, humor justru menjadi cara paling waras untuk menghadapi situasi sosial yang penuh tekanan.
“Tertawa itu bukan tanda seseorang meremehkan negara. Sering kali itu justru cara paling waras untuk menyelamatkannya,” kata Rhenald.
Di akhir pernyataannya, Rhenald menyinggung polemik yang muncul hingga menyeret aparat penegak hukum. Ia mempertanyakan apakah persoalan ini masuk ranah pidana, perbuatan melawan hukum, atau sekadar soal perasaan yang tersinggung.
“Biarkan humor itu hidup, biarkan lelucon semakin berkualitas. Maklum, hidup memang sedang susah hari-hari ini. Tapi mari kita tetap berpikir lebih waras,” tutupnya.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Ultah Ariel NOAH ke-45 Dirayakan Bareng Wulan Guritno, Ada Pelukan hingga Candaan Duda-Janda
Ariel NOAH 18 Tahun Menduda, Dekat dengan Wulan Guritno di Ultah ke-45
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
7 Kebiasaan yang Bikin Ban Motor Cepat Botak, Mana yang pernah Kamu Lakukan?
Viral Pegawai BGN Sindir Korban Keracunan MBG Sambil Makan Chicken Katsu
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Sudah Tak Jadi Menkeu, Uang Rp 100 Ribu Bertanda Tangan Purbaya Malah Diburu
10 Kali Sidang Kasus Kuota Haji, Saksi Beberkan Tak Ada Dugaan Kerugian Negara
Psikolog Umum Kompeten dan Siap Berikan Layanan di Puskesmas, Pendidikan, Organisasi serta Komunitas
Tak Lagi jadi Menkeu, Momen Purbaya Makan Bakso Berdua Istri dan Kembali Nyetir Sendiri

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022