Ibu-ibu istri nelayan memiliki mata pencaharian baru yang menghasilkan uang. Mereka turut menopang ekonomi keluarga dengan menjadi petugas pemilah sampah. (PHE ONWJ)
JawaPos.com – Di tengah derasnya ombak dan tantangan cuaca, para istri nelayan di Desa Tanjungpakis, Karawang, menemukan cara baru untuk menopang ekonomi keluarga: memilah sampah. Berkat kerja sama dengan Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ), program Bank Sampah kini mengubah tumpukan limbah menjadi sumber penghasilan dan harapan.
Berlokasi di pesisir utara Karawang, para perempuan ini setiap harinya memisahkan botol plastik, tutup botol, dan ember bekas dari tumpukan sampah yang datang dari laut maupun rumah tangga. Harga jual sampah bervariasi, mulai dari Rp 6.000 per kilogram untuk botol air 1,5 liter hingga Rp 1.800 per kilogram untuk ember plastik bekas.
“Dari buang sampah pada tempatnya, ternyata bisa nabung juga. Ada rumah yang dalam 3 bulan bisa kumpulkan Rp 400 ribu,” ujar Ketua Kelompok Kerja Pemberdayaan Masyarakat Pesisir (KKPMP) Tanjungpakis, Sopyan Iskandar.
Program ini berjalan dengan skema sederhana namun efektif. Sebanyak 114 rumah dibagikan tempat sampah dan buku tabungan. Petugas—yang juga berasal dari warga—mengambil sampah dua kali seminggu, lalu memilah dan menjualnya ke pengepul. Keuntungan dibagi antara operasional dan tabungan nasabah.
Menurut Sopyan, sampah di wilayah pesisir berasal dari dua sumber: limbah rumah tangga dan industri kecil yang terbawa arus sungai, serta kebiasaan masyarakat membuang sampah sembarangan karena keterbatasan layanan pengangkutan.
“Maka kami buat program ini berbasis komunitas. Biayanya rendah dan bisa ubah perilaku warga,” katanya.
PHE ONWJ, sebagai mitra utama, mendukung penuh inisiatif ini. Head of Communication, Relations & CID PHE ONWJ R. Ery Ridwan menyebut program ini sejalan dengan SDGs 12 dan 14, terkait konsumsi bertanggung jawab dan pelestarian ekosistem laut.
“Melalui program ini, kami berharap bisa mengurangi pencemaran laut serta meningkatkan kualitas lingkungan pesisir sekaligus menciptakan peluang ekonomi,” kata Ery.
Tak hanya soal plastik, Sopyan juga merancang pengembangan program ke pengolahan eceng gondok dan limbah laut seperti kerang berduri. Mereka ingin mengubahnya jadi suvenir ramah lingkungan.
“Sudah ada studi banding juga dari PHE ONWJ, kami ingin terus berkembang,” katanya.
Dengan kombinasi dukungan swasta, semangat warga, dan sistem sederhana berbasis tabungan, program Bank Sampah ini menjadi bukti nyata bahwa solusi lingkungan bisa berjalan seiring pemberdayaan ekonomi. Dan dari sudut kecil di Karawang, perubahan besar untuk laut dan masyarakat mulai dijalankan.

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mobil Plat L Ringsek di Malang Diserang 300 Orang? Polres Malang Turun Tangan, Ini Fakta Terbarunya
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Rekomendasi Kuliner Mantap Dekat Bandara Juanda Surabaya, Cocok untuk Isi Waktu Sebelum Check-in
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
12 Kuliner Mie Kocok di Bandung Paling Enak dengan Kuah Gurih yang Bikin Nagih Sejak Suapan Pertama
