Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 5 Maret 2024 | 06.14 WIB

Kasus DBD di Jatim Melonjak, Khofifah Ajak Masyarakat Lakukan 3M Plus dan Vaksinasi

Mantan Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa mengaku prihatin dengan melonjaknya kasus demam berdarah dengue (DBD) di Jawa Timur. - Image

Mantan Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa mengaku prihatin dengan melonjaknya kasus demam berdarah dengue (DBD) di Jawa Timur.

JawaPos.com–Melonjaknya kasus demam berdarah dengue (DBD) di Jawa Timur dan beberapa daerah di Indonesia akhir-akhir ini turut menjadi perhatian khusus bagi Khofifah Indar Parawansa.

Bagaimana tidak, sepanjang 2024 hingga pekan ketiga Februari, kasus DBD di Jatim telah tembus mencapai 3.638 kasus. Sepanjang 2024, angka DBD paling tinggi terjadi di Kabupaten Probolinggo, yakni mencapai 600 kasus. Di Surabaya saat ini tercatat lebih dari 30 kasus.

Gubernur Jatim periode 2019-2024 itu mengatakan, angka kasus DBD Jatim tahun ini meningkat pesat dibandingkan 2023. Sepanjang 2023, jumlah kumulatif kasus yang ditularkan melalui nyamuk Aedes aegypti di Jatim mencapai 9.041 kasus.

”Jika dilihat trennya, pada awal 2024 ini kasus DBD Jatim sangat tinggi. Sehingga yang penting dilakukan masyarakat adalah meningkatkan kewaspadaan agar jangan sampai terinfeksi penyakit DBD,” tutur Khofifah, Senin (4/3).

Untuk itu, Ketua PBNU dan Ketua Umum PP Muslimat NU itu mengimbau masyarakat menggiatkan kembali gerakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN). Yakni dengan melaksanakan 3M Plus. Yaitu membuang barang-barang bekas, menutup tempat penampungan, dan juga menguras tempat penampungan air.

Selain itu juga bisa dilakukan kegiatan preventif plus-plus lain yang bisa mencegah penyebaran DBD. Seperti menggunakan kelambu, menghindari kebiasaan menumpuk atau menggantung pakaian, juga menggunakan lotion anti nyamuk.

”Di kampung-kampung sejatinya juga sudah ada para ibu-ibu jumantik atau juru pemantau jentik nyamuk. Harapannya di masa-masa waspada DBD seperti ini, pelaksanaan pemantauan jentik harus digencarkan. Ini penting untuk menghindari penyebaran DBD,” tegas Khofifah.

Tidak hanya itu, Khofifah juga mengajak masyarakat untuk aktif melengkapi vaksinasi DBD pada anak hingga dewasa. Pasalnya vaksinasi DBD dianjurkan untuk usia 6-45 tahun.

”Karena penyakit DBD cukup berbahaya dan dapat mengakibatkan kematian jika tidak ditangani secara cepat dan cermat, vaksin demam berdarah dengue menjadi kunci preventif dalam mengurangi risiko penularan dan dampak penyakit ini,” terang Khofifah.

Saat ini, vaksin demam berdarah tetravalen atau tetravalent dengue vaccine (TDV) memberikan perlindungan terhadap empat jenis virus dengue. Mulai dari DENV1, DENV2, DENV3, hingga DENV4. Vaksin itu mengandung virus dengue yang telah dilemahkan, sehingga tidak menyebabkan penyakit, melainkan dapat merangsang sistem kekebalan tubuh untuk memproduksi antibodi.

Vaksin demam berdarah dengue memiliki peran penting dalam pencegahan demam dengue, terutama di daerah-daerah di mana virus dengue tersebar luas. Meskipun vaksin tidak memberikan jaminan total terhadap penyakit, penggunaannya diharapkan dapat mengurangi keparahan gejala dan risiko terkena DBD, serta membantu mengendalikan penyebaran penyakit di masyarakat.

”Kunci pencegahan DBD adalah 3M Plus dan vaksinasi. Mari masyarakat melaksanakan 3M Plus dan vaksinasi guna mewujudkan nol kematian akibat dengue,” ucap Khofifah.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore