
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa meninjau sapi di rumah hewan untuk pencegahan PMK. Humas Pemprov Jatim
JawaPos.com–Wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) menyerang sedikitnya 1.247 ekor ternak sapi di Jawa Timur. Penyakit itu dipastikan tidak akan menyerang dan menular ke manusia.
Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara Tjandra Yoga Aditama menjelaskan, wabah PMK atau Foot and Mouth Disease (FMD) adalah penyakit pada hewan yang praktis. Artinya, tidak menular kepada manusia.
Tjandra mengatakan, PMK bukan masalah kesehatan masyarakat dan sepenuhnya masalah kesehatan hewan. Wabah itu pernah dilaporkan tertular pada manusia.
”Laporan penularan ke manusia pernah disampaikan European CDC pada 2012 yang berjudul Transmission of Foot and Mouth disease to humans visiting affected areas, tetapi itu sangat jarang dan hanya terjadi pada mereka yang betul-betul kontak langsung,” kata Tjandra dalam keterangan tertulisnya pada Senin (9/5).
Dia menyebut, selama ini, masyarakat Indonesia rata-rata keliru menghubungkan penyakit mulut dan kuku (PMK) pada hewan dengan Penyakit Tangan, Kaki, dan Mulut (PTKM–Hand Foot Mouth Disease/HFMD) pada anak dan bayi.
”Keduanya tidak berhubungan sama sekali. Itu dua penyakit berbeda. Penyebabnya juga virus yang berbeda,” kata Tjandra, Direktur Pascasarjana Universitas YARSI itu.
Penyakit Tangan Kaki dan Mulut (PTKM–Hand Foot Mouth Disease/HFMD) pada anak dan bayi disebabkan enterovirus 71. Sedangkan penyakit mulut dan kuku (PMK) atau Foot and Mouth Disease (FMD) pada hewan disebabkan aphthovirus, yang merupakan bagian dari Picornaviridae.
”Penyakit ini memiliki 7 strain. Yakni A, O, C, SAT1, SAT2, SAT3, dan Asia1,” imbuh Tjandra.
Bila anak terkena PTKM (Hand Foot Mouth Disease/HFMD), akan muncul beberapa gejala. Di antaranya, demam dengan munculnya rash atau ruam di kulit dan blister atau benjolan kecil di telapak kaki, tangan, dan mukosa mulut.
Selanjutnya, anak dan bayi cenderung tidak nafsu makan, merasa lelah, dan nyeri tenggorokan. Biasanya, setelah satu atau dua hari setelah demam, timbul keluhan nyeri di mulut dimulai dari blister sampai kemudian dapat menjadi mucus.
”Lesi (benjolan, bercak) dapat terjadi di lidah, gusi atau bagian dalam mulut lainnya,” terang Tjandra.
Penyakit tersebut dipastikan bukan penyakit berat dan akan sembuh dalam 7–10 hari. Pengobatan hanya bersifat suportif. Walau pada kejadian sangat jarang, HFMD akibat EV 71 juga dapat menyebabkan meningitis dan bahkan encephalitis.
”Infeksi EV 71 bermula dari saluran cerna yang kemudian menimbulkan gangguan neurologik. Selain itu, HFMD akibat coxsackievirus A16 juga dapat menyebabkan meningitis,” ucap Tjandra, mantan Dirjen Pengendalian Penyakit dan Kabalitbangkes itu.

Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
7 Mall Terbaik di Bandung dengan Banyak Tenant Kuliner dan Spot Foto yang Instagramable
Persebaya Surabaya Cetak Prestasi! Masuk 8 Klub Indonesia Lolos Lisensi AFC Champions League Two Tanpa Syarat
10 Rekomendasi Bubur Ayam Paling Favorit di Surabaya, Terkenal Lezat dan Jadi Langganan Pecinta Kuliner Pagi
12 Rekomendasi Oleh-Oleh Tradisional dan Kekinian Khas Bandung, Wajib Masuk Daftar Belanja Wisatawan Saat Berkunjung ke Kota Kembang
10 Rekomendasi Oleh-oleh Khas Solo yang Selalu Ramai Dibeli Saat Musim Liburan, Mulai dari Tradisional hingga Makanan Kekinian!
