
EWS yang terletak di salah satu titik daerah bantaran sungai di Kota Jogja. (GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA)
JawaPos.com – Puncak musim hujan di Pulau Jawa diprediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terjadi pada Desember 2023 hingga Februari 2024.
Dengan intensitas hujan yang lebat dengan rentang waktu yang cukup lama saat musim hujan, memungkinkan terjadinya potensi bencana alam hidrometeorologi seperti banjir.
Daerah bantaran sungai menjadi daerah yang rentan dengan potensi terjadi banjir. Tak sedikit masyarakat yang tinggal di daerah tersebut seperti di Kota Jogja, tepatnya di Bantaran Sungai Gajahwong, Code, dan Winongo.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Jogja mengimbau masyarakat yang berada di ketiga sungai yang melintasi Kota Jogja tersebut untuk selalu memantau ketinggian permukaan air dan mendengarkan himbauan BPBD melalui early warning system (EWS).
Saat ini EWS telah terpasang di 17 titik aliran sungai yang melintasi Kota Jogja. EWS tersebut terpasang lima titik di Sungai Winongo, Lima titik di Sungai Gajahwong, dan tujuh titik di Sungai Code.
EWS akan memberikan himbauan kepada masyarakat dengan sirine yang dinyalakan oleh Pusdalops BPBD Kota Jogja setelah mendapat peringatan dari posko satu di Sungai Boyong.
Meski begitu, Ketua Tim Kerja Data Informasi Komunikasi Kebencanaan BPBD Kota Jogja, Darmanto, mengatakan, selama ini bantaran sungai Kota Jogja terbilang masih aman dari bencana banjir atau tanah longsor.
Menurutnya, banjir yang pernah terjadi karena lahar dingin dari erupsi Gunung Merapi 2010 lalu. Hal itu disebabkan karena pasirnya yang begitu banyak membuat airnya menjadi terangkat meninggi.
Setelahnya, tidak ada banjir karena luapan yang terjadi di bantaran sungai.
Sementara itu, BMKG juga telah menghimbau masyarakat di Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ) untuk mewaspadai potensi hujan lebat disertai petir dan angin kencang pada 6-8 Desember 2023.
Kepala Stasiun Meteorologi BMKG Jogjakarta, Warjono, mengatakan, potensi cuaca ekstrem di DIJ dipucu oleh akibat dampak tekanan rendah di India bagian timur dan sirkulasi Eddy di Kalimantan bagian utara yang membentuk shearline atau daerah belokan angin di Laut Jawa bagian utara.
"Pola angin timuran yang masih dominan membuat angin di atas wilayah Jawa, khususnya DIY, bertiup dari arah timur-tenggara dengan kecepatan berkisar 25-35 kilometer per jam," ujarnya.
Selain itu posisi Madden Julian Oscillation (MJO) yang berada di wilayah Indonesia berperan membentuk awan hujan di Indonesia, ditambah munculnya gelombang Rossby ekuator di Jawa bagian selatan.

Prediksi Skor Selandia Baru vs Mesir di Piala Dunia 2026: Mohamed Salah Jadi Tumpuan Libas All Whites
Kapolri Kenang Warisan Bung Karno, Tegaskan Semangat Pemimpin Bangsa Harus Terus Dijaga
Prediksi Skor Ekuador vs Curacao di Piala Dunia 2026: La Tri Wajib Menang demi Lolos ke Babak 32 Besar
Prediksi Skor Uruguay vs Tanjung Verde di Piala Dunia 2026: Kecerdikan Marcelo Bielsa Hadapi Blue Sharks
Prediksi Skor Jerman vs Pantai Gading di Piala Dunia 2026: Ujian Sesungguhnya Die Mannschaft di Grup E
Prediksi Skor Belgia vs Iran di Piala Dunia 2026: Kevin de Bruyne Jadi Pembeda Ladeni Perlawanan Team Melli
Gabriel Budi Blak-blakan, Agen Pemain Persebaya Surabaya Ungkap Sosok Paling Berkesan
Prediksi Skor Spanyol vs Arab Saudi di Piala Dunia 2026: La Roja Wajib Menang Demi Lolos ke 32 Besar
Prediksi Susunan Pemain Timnas Jepang vs Tunisia: Hiroki Ito Sudah Kantongi Kekuatan Lawan!
Prediksi Susunan Pemain Timnas Ekuador vs Curacao: Alan Franco Sudah Lupakan Kekalahan di Laga Perdana
