
BERKEMBANG: Usaha budi daya perikanan yang dikembangkan santri di pesantren dalam binaan OPOP Jatim.
Sejak diluncurkan Gubernur Khofifah Indar Parawansa pada 2019, program One Pesantren One Product (OPOP) diikuti seribu pondok pesantren (ponpes) di Jatim. Tiga pilarnya, yakni santripreneur, pesantrenpreneur, dan sosiopreneur, menjadikan santri dan pesantren naik kelas.
---
PROGRAM OPOP Jatim mengembangkan misi mulia. Di antaranya, membangun jiwa kewirausahaan kepada para santri. Selain itu, mendorong santri menjadi start-up bisnis, menghasilkan dan memperluas produk pesantren yang unggul dan berdaya saing, serta mengembangkan pesantren sebagai institusi pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Sejauh ini, ada banyak pesantren binaan OPOP yang sukses. Ponpes An Nur 2 Al Murtadlo, misalnya. Pesantren di Bululawang, Malang, itu berhasil mengembangkan produk Kopi Kapiten Nusantara beromzet miliaran rupiah. Awalnya cuma berpangsa pasar lokal, kini produk tersebut berhasil merambah mancanegara.
Sekjen OPOP Mohammad Ghofirin menyatakan, Ponpes An Nur 2 Al Murtadlo bukan satu-satunya yang sukses mengembangkan kewirausahaan. Masih banyak pesantren lain.
’’Sudah puluhan produk dari pesantren-pesantren yang diekspor. Ini tentu cukup membanggakan,” kata Gus Ghofirin, panggilan akrabnya, kepada Jawa Pos.
Beberapa ponpes yang juga berhasil mengirim produknya ke luar negeri, antara lain, Ponpes Rahmatan Lil Alamin, Nganjuk, dengan produk handicraft (kerajinan tangan). Mereka telah berhasil menyasar pasar ke delapan negara.
Selain itu, ada Ponpes Darut Taqwa, Manyar, Gresik. Songkok dan pakaian muslim dari pesantren itu telah diekspor ke sepuluh negara. Usaha dari ponpes tersebut juga kian berkembang.
Ghofirin menyebutkan, dari seribu lembaga yang bergabung dalam OPOP itu, jenis usahanya beragam. Mulai makanan dan minuman hingga ada juga yang berwirausaha di sektor peternakan, jasa, dan pertanian. Melihat progres itu, pihaknya optimistis jumlah ponpes yang bergabung akan bertambah.
Keyakinan tersebut juga didasari peran pesantren yang semakin kuat. Ponpes bukan sekadar tempat mendalami agama, melainkan juga sarana untuk memberdayakan masyarakat.
’’Dalam program OPOP, bukan hanya santri yang diberdayakan. Kami juga mendorong pesantren untuk melibatkan masyarakat,” ujar Ghofirin yang mendapatkan penghargaan sebagai Tokoh Penggerak Ekonomi Jawa Timur tersebut.
Harapan itu, lanjut dia, tak akan sulit diwujudkan. Sebab, sudah ada lembaga yang telah mengajak masyarakat terlibat. Saling bersinergi dan berkolaborasi dalam kegiatan usaha yang diinisiatori ponpes.
’’Tentu, kami ingin OPOP terus bertumbuh dan berkembang. Harus selalu belajar untuk juga memahami perkembangan dunia usaha saat ini,” kata Ghofirin.
Inovasi produk dan kemasan tidak cukup untuk dapat mengembangkan pemasaran. Sentuhan teknologi juga tak boleh diabaikan. Karena itu, pengelola OPOP telah bekerja sama dengan berbagai platform penjualan.
Selain itu, Pemprov Jatim bersama perusahaan aplikasi mengembangkan OPOP Academy. ’’Semacam ajang untuk menjaring para pelaku usaha baru dari kalangan santri. Targetnya empat ribu santri,” paparnya.

Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
