
PELOPOR: Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf (kanan) bersama Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa dalam sebuah acara bersalawat beberapa waktu lalu.
JawaPos.com - Kini ada begitu banyak grup atau majelis salawat. Dengan ciri dan keunggulan masing-masing. Masyarakat tinggal memilih. Tentu juga menyesuaikan biaya. Menghadirkannya memang relatif tidak murah. Namun, biaya itu sudah all-in. Mulai panggung, sound system, hingga bisyarah untuk para penabuh hadrah dan pelantun salawat.
Kalaupun sudah ada biaya, belum tentu mendapat jadwal. Sebab, biasanya jadwal majelis-majelis salawat itu sudah penuh dalam setahun. Terlebih majelis salawat yang sudah sangat populer. Bisa jadi, dua sampai tiga tahun, pengundang baru mendapatkan giliran jadwal. Itu pun jadwal yang menentukan manajemen majelis salawat bersangkutan. Bukan pihak pengundangnya.
Salah satu majelis salawat yang menjadi perintis dan sudah sangat populer di kalangan masyarakat adalah Ahbaabul Musthofa. Majelis zikir dan salawat tersebut didirikan Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf pada 1998 silam. Awalnya jemaah yang mengikuti bisa dihitung dengan jari. Hanya 25 hingga 50 orang. Dari jumlah itu, 75 persennya bukan orang yang ahli salawat.
”Tapi alhamdulillah, saya terima. Siapa pun saya terima,” ungkap Habib Syech kepada Jawa Pos Radar Solo saat ditemui di Gedung Bustanul Asyiqiin Majelis Ahbaabul Musthofa pada Rabu (20/9).
Akhirnya majelis terus berjalan hingga saat ini. Jumlah anggota atau pencinta Majelis Ahbaabul Musthofa pun sudah berjibun. Dari perkiraan Jawa Pos, bisa mencapai jutaan orang di seluruh Indonesia. Mereka menamakan diri dengan Syecher Mania. ”Ini berkat orang-orang pertama yang bersama saya. Mereka orang-orang baik,” kata Habib Syech.
Ahbaabul Musthofa hanyalah tempat atau sarana untuk mengumpulkan orang-orang. Setelah berkumpul, mereka akan dinasihati. Lalu, nasihat-nasihat itu diharapkan dapat mereka amalkan. ”Itu tujuannya. Tidak ada tujuan politik atau urusan macam-macam. Pokoknya kita hanya murni bersalawat dengan niat dan tujuan supaya mendapat syafaat Nabi Muhammad SAW,” ujarnya.
Habib Syech menyatakan, tujuan salawat sangat mulia. Dengan mengikuti adab dan akhlak Nabi Muhammad SAW, lantunan itu bisa menebarkan kedamaian, kasih sayang, hingga bisa memberikan manfaat bagi sesama.
”Alhamdulillah, kita bersyukur. Saya hanya bisa mengajak masyarakat yang saat ini cinta dengan salawat. Bagaimana caranya bersalawat dengan adab dan akhlak. Karena salawat itu adalah ibadah. Ibadah itu tentu pantasnya kalau dilakukan dengan adab dan akhlak,” tuturnya.
Habib Syech juga bersyukur kalangan umur yang mencintai salawat beragam. Dari yang kecil, anak muda, dewasa, hingga orang tua. Sebab, sejatinya salawat memang sudah ada dari dulu. Biasanya ada di pondok pesantren dan tempat ibadah seperti masjid atau musala. ”Berjanjen istilahnya orang-orang,” ungkapnya.
Cuma, dulu tidak di jalan atau lapangan-lapangan. Lalu, Habib Syech membuat di jalan. Sebab, dia berpikir, kalau hanya di pondok pesantren, masjid, atau musala, tidak akan berkembang. ”Masyarakat tidak tahu salawat. Setelah dibuat di jalan, ternyata orang-orang bisa asyik bersalawat, menikmati salawat,” katanya.
Namun, Habib Syech menjelaskan, perihal asyik tersebut tentu bergantung orang atau individu bersangkutan. Ada yang telah merasakan kenikmatan sendiri dalam bersalawat, kemudian berubah. Misalnya, dulu suka dangdutan, sekarang suka dengan salawatan.
Habib Syech juga bercerita bagaimana dapat memancing anak-anak kecil ikut bersalawat, yakni dengan uang Rp 500. ”Supaya apa? Supaya mereka mau datang kembali. Jadi, setiap dia bersalawat, anak-anak meminta orang tuanya untuk ikut. Akhirnya, selain anak, juga menarik orang tua,” paparnya.
Lagu-lagu anak pun tidak ditinggalkan. Misalnya, semula anak-anak saat berulang tahun menyanyikan lagu Happy Birthday to You. Kemudian tergantikan dengan syair Mabruk Alfa Mabruk. ”Nah, anak-anak itu suka. Alhamdulillah, diterima masyarakat,” tambahnya.
Di majelis Habib Syech, juga biasa terdengar lagu-lagu nasional dan cinta tanah air. Di antaranya Indonesia Raya, Bagimu Negeri, hingga Yah Lal Wathan. Tentu saja, tujuannya membangkitkan umat cinta kepada bangsa dan negaranya. Sebab, saat ini banyak orang yang tidak hafal Indonesia Raya. Hal itu sekaligus menjadi bukti bahwa ulama dan umara berdampingan untuk bangsa dan negara.

11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
Marak Link Live Streaming Gratis Persija Jakarta vs Persib Bandung, Jakmania dan Bobotoh Pilih yang Mana?
KPK Tindaklanjuti Pelaporan Dugaan Korupsi APBD Era Mantan Gubernur Sultra Nur Alam
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
9 Rekomendasi Mall Terbaik di Sidoarjo untuk Belanja, Kuliner, dan Tempat Nongkrong Bersama Keluarga
15 Kuliner Seafood Ternikmat di Surabaya, Hidangan Laut Segar dengan Cita Rasa Khas yang Sulit Dilupakan
Jadwal Moto3 Prancis 2026! Start Posisi 6, Veda Ega Pratama Buka Peluang Podium di Moto3 Prancis 2026
17 Tempat Makan Hidden Gem di Surabaya yang Tidak Pernah Sepi, Rasanya Selalu Konsisten Enak
16 Kuliner Bakso di Yogyakarta yang Rasanya Dinilai Selalu Konsisten Enak, Bikin Para Pengunjung Ketagihan Datang Lagi
