
Tambang emas Ilegal di Bolaang Mongondow
JawaPos.com - Di Indonesia ada ratusan tempat penambangan emas tanpa izin (PETI). Rata-rata berada di tempat sulit. Mulai perbukitan yang terjal, hutan, hingga sungai dengan arus deras. Para penambang bertaruh nyawa menuju areal tersebut. Rata-rata menggunakan bahan kimia berbahaya.
--
MEREKA datang dari segala penjuru. Terutama daerah sekitar penambangan emas tanpa izin (PETI) di Desa Bakan, Bolaang Mongondow (Bolmong), Sulawesi Utara. Akhir-akhir ini, lokasi itu memang begitu populernya.
Apalagi setelah terjadi peristiwa mengerikan di sana. Puluhan penambang tertimbun di bukit yang mereka gali dua pekan lalu. Sebanyak 18 orang meninggal.
Di kalangan penambang, kualitas emas yang didapat dari tempat itu dikategorikan high grade. Kadar emas murninya mencapai 95-97 persen. Kabar tersebut kemudian menyebar dari mulut ke mulut. Hingga akhirnya ratusan penambang datang setiap hari ke lokasi itu.
Para penambang di sana menyebut lokasi itu sebagai pertambangan Superbusa. Mengapa demikian? Rupanya, penyematan nama itu didasarkan pada jenis batu mengandung emas yang kerap didapat. Para penambang menyebut bentuk batuannya mirip merek sabun batangan itu. ''Nama lokasi sering melekat pada jenis batuan itu sendiri,'' jelas Kepala Desa Bakan Hasanuddin Mokodompit.
Ada lagi lokasi pertambangan ilegal lain yang dinamakan Luda Pinang. Nama itu diberikan karena batuannya mirip buah pinang yang sudah dikunyah. Ada pula lokasi pertambangan yang bernama Kambuna. Nama tersebut merujuk pada batuannya yang besar dan padat laksana kapal Kambuna.
Jawa Pos berusaha menelusuri salah satu pertambangan tanpa izin itu. Tak mudah. Untuk mencapai pertambangan Superbusa saja, begitu sulitnya. Lokasinya di puncak perbukitan. Ketinggiannya sekitar 600 meter dari permukaan laut (mdpl).
Lubang maut tempat banyak penambang yang tewas akibat tertimbun longsoran itu berada tepat di tengah bukit tadi. Bagian luar lubang ke arah bawah merupakan jurang. Untuk menuju ke atas, penambang harus memanjat dengan kemiringan hampir 90 derajat.
Bagaimana ratusan penambang bisa mencapai ke sana? Sebenarnya ada dua cara. Lewat jalan yang aman, yakni melalui jalan masuk PT JRBM. Bisa pula lewat ''jalan tikus''.
Namun, tidak sembarang orang bisa melewati perusahaan swasta pengolah emas itu. Penjagaan begitu ketat. Bahkan, orang sekelas pejabat pun harus diperiksa sebelum diizinkan melintas. Ditambah, lokasi jalan yang bercabang-cabang. Karena itu, mobil pemandu milik perusahaan harus dilibatkan agar tidak tersesat.
Mau tidak mau, jalan satu-satunya yang bisa dilewati adalah jalan alternatif. Lokasinya sekitar 1 kilometer dari jalan milik perusahaan. Tak ada penanda apa pun di jalan itu. Hanya, dari kejauhan terlihat seperti ada tenda-tenda beratap terpal.
Di tengah-tengah perjalanan, ada beberapa spot untuk beristirahat. Penambang, tampaknya, membuat bangku-bangku dari potongan kayu untuk sejenak mengelap keringat. Setelah itu, mereka harus melewati jalan setapak. Bayangkan, tepat di samping jalan itu adalah jurang. Salah berpijak, akan langsung terjun bebas dari atas bukit. ''Para penambang ini beraktivitas saat malam. Jadi, lewat jalan dengan risiko tinggi,'' ungkap Hasanuddin.
Sebenarnya ada jalur tikus lain. Yakni, menyusuri aliran sungai. Jalan itu lebih landai, tapi penuh risiko dengan batu yang licin dan arus deras. ''Kalau lewat sungai, lebih dekat dengan lubang penambangan,'' ujar pria yang juga dipanggil Sangadi itu.
Saat menuju ke sana, jika beruntung, kita bisa mendapati hewan endemis khas Sulut yang dilindungi. Yakni, yaki alias monyet pantat merah (Macaca nigra). Jawa Pos menjumpai delapan ekor monyet tersebut.

Kasus Hantavirus di Indonesia, Kemenkes: Saat ini Ada 2 Kasus Suspek di Jakarta dan Yogyakarta
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
12 Kuliner Tahu Campur Paling Enak di Surabaya dengan Kuah Petis Kental yang Selalu Jadi Favorit Warga Lokal hingga Wisatawan
Jadwal Persipura vs Adhyaksa FC Play-Off Promosi Super League, Siaran Langsung, dan Live Streaming
15 Oleh-oleh Paling Ikonik dan Khas dari Kota Surabaya, Rasanya Autentik dan Tiada Duanya, Wajib Kamu Bawa Pulang!
11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
Jadwal PSS vs Garudayaksa FC Final Liga 2, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Siapa Raih Trofi Kasta Kedua?
Hasil Play-off Liga 2: Adhyaksa FC Bungkam Persipura Jayapura 0-1 di Babak Pertama!
Jadwal Veda Ega Pratama di Sesi Q2 Moto3 Le Mans 2026! Rider Indonesia Bidik Start Terdepan
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
