
2 pelaku mutilasi Sleman (kiri) dan korban (kanan). (Istimewa)
JawaPos.com – Kasus mutilasi yang menimpa salah satu mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), sampai saat ini masih terus didalami oleh kepolisian. Belum detailnya pihak kepolisian merinci kasus ini, menarik banyak spekulasi atas motif terjadinya kasus ini.
Pakar Sosiologi Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Grendi Hendastomo, menjelaskan ihwal kasus ini dari kacamata sosiologi. Menyoal ‘aktivitas tidak wajar’ yang disebut oleh kepolisian, tak bisa serta merta ditafsirkan bahwa itu adalah penyimpangan penyuka sesama jenis, sebagaimana dugaan yang berhembus di tengah ruang publik.
“Karena konteks ‘tidak wajar’ bisa bermacam-macam tafsir, dan kalau melihat dampaknya yang fatal bisa jadi ini karena kekerasan yang dilakukan,” kata Grendi saat dihubungi JawaPos.com pada Kamis (20/7).
Grendi menjelaskan bahwa kekerasan yang dilakukan oleh korban dan pelaku, boleh jadi merupakan tindakan self-harm (menyakiti diri sendiri), karena dorongan tekanan sosial. Menurutnya, itu juga bisa menjadi pemicu munculnya kesepakatan di antara mereka untuk saling mentransfer rasa sakit atas tekanan sosial yang ada.
“Bisa jadi ada tekanan sosial karena cyrcle pertemanan yang mendorong mereka bersama-sama melakukan itu,” imbuhnya.
Kemudian, mengerikannya cara pelaku memutilasi korban dan bahkan memasaknya, juga menimbulkan dugaan bahwa pelaku mengidap sadistik.
Namun, kata Grendi, sadistik umumnya dilakukan oleh para penyuka sesama jenis. Sehingga, dalam hal ini kepolisian perlu memberikan keterangan yang merinci apakah ada indikasi sadistik atau tidak pada pelaku.
Di sisi lain, Grendi juga menduga adanya indikasi kesepakatan bersama untuk melegalkan suatu tindakan di antara pelaku dan korban. Kesepakatan bersama dalam hal ini, boleh jadi merujuk pada ‘komunitas tidak wajar’ yang sempat diungkapkan kepolisian.
“Mereka bisa melakukan itu karena kepercayaan akibat ikatan yang kuat. Dalam situasi itulah dari masyarakat luar akan terlihat seperti orang "dipaksa" untuk melakukan sesuatu karena sudah terikat dengan kelompok,” terangnya.
Baca Juga: Timnas Putri Brasil Mengubah Jam Kerja PNS
Kendati begitu, lanjutnya, kasus ini dalam pandangan sosiologi juga menujukkan sifat dasar manusia yang bisa saja berubah drastis saat dalam kondisi yang terdesak.
Hal itu merujuk pada narasi bahwa pelaku yang merasa panik karena korban meninggal, sehingga memutuskan untuk memutilasi. Padahal, mungkin mereka sejak awal tidak terpikir ini akan terjadi.
“Yang jelas dari sisi sosial ada kekalutan yang luar biasa karena suatu peristiwa dan tidak ingin orang lain mengetahui karena akan mengancam masa depan. Pilihan mutilasi menjadi dilakukan karena pelaku pernah melihat dan belajar dari cerita kejahatan lain,” jelasnya.

Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
7 Mall Terbaik di Bandung dengan Banyak Tenant Kuliner dan Spot Foto yang Instagramable
Persebaya Surabaya Cetak Prestasi! Masuk 8 Klub Indonesia Lolos Lisensi AFC Champions League Two Tanpa Syarat
10 Rekomendasi Bubur Ayam Paling Favorit di Surabaya, Terkenal Lezat dan Jadi Langganan Pecinta Kuliner Pagi
12 Rekomendasi Oleh-Oleh Tradisional dan Kekinian Khas Bandung, Wajib Masuk Daftar Belanja Wisatawan Saat Berkunjung ke Kota Kembang
10 Rekomendasi Oleh-oleh Khas Solo yang Selalu Ramai Dibeli Saat Musim Liburan, Mulai dari Tradisional hingga Makanan Kekinian!
