Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 21 Juli 2023 | 17.21 WIB

Sosiolog Buka Suara Soal Komunitas Tak Wajar Waliyin dan Mutilasi Redho Tri Agustian di Sleman

2 pelaku mutilasi Sleman (kiri) dan korban (kanan). (Istimewa) - Image

2 pelaku mutilasi Sleman (kiri) dan korban (kanan). (Istimewa)

JawaPos.com – Kasus mutilasi yang menimpa salah satu mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), sampai saat ini masih terus didalami oleh kepolisian. Belum detailnya pihak kepolisian merinci kasus ini, menarik banyak spekulasi atas motif terjadinya kasus ini.

Pakar Sosiologi Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Grendi Hendastomo, menjelaskan ihwal kasus ini dari kacamata sosiologi. Menyoal ‘aktivitas tidak wajar’ yang disebut oleh kepolisian, tak bisa serta merta ditafsirkan bahwa itu adalah penyimpangan penyuka sesama jenis, sebagaimana dugaan yang berhembus di tengah ruang publik.

“Karena konteks ‘tidak wajar’ bisa bermacam-macam tafsir, dan kalau melihat dampaknya yang fatal bisa jadi ini karena kekerasan yang dilakukan,” kata Grendi saat dihubungi JawaPos.com pada Kamis (20/7).

Grendi menjelaskan bahwa kekerasan yang dilakukan oleh korban dan pelaku, boleh jadi merupakan tindakan self-harm (menyakiti diri sendiri), karena dorongan tekanan sosial. Menurutnya, itu juga bisa menjadi pemicu munculnya kesepakatan di antara mereka untuk saling mentransfer rasa sakit atas tekanan sosial yang ada.

“Bisa jadi ada tekanan sosial karena cyrcle pertemanan yang mendorong mereka bersama-sama melakukan itu,” imbuhnya.

Kemudian, mengerikannya cara pelaku memutilasi korban dan bahkan memasaknya, juga menimbulkan dugaan bahwa pelaku mengidap sadistik.

Namun, kata Grendi, sadistik umumnya dilakukan oleh para penyuka sesama jenis. Sehingga, dalam hal ini kepolisian perlu memberikan keterangan yang merinci apakah ada indikasi sadistik atau tidak pada pelaku.

Di sisi lain, Grendi juga menduga adanya indikasi kesepakatan bersama untuk melegalkan suatu tindakan di antara pelaku dan korban. Kesepakatan bersama dalam hal ini, boleh jadi merujuk pada ‘komunitas tidak wajar’ yang sempat diungkapkan kepolisian.

“Mereka bisa melakukan itu karena kepercayaan akibat ikatan yang kuat. Dalam situasi itulah dari masyarakat luar akan terlihat seperti orang "dipaksa" untuk melakukan sesuatu karena sudah terikat dengan kelompok,” terangnya.

Kendati begitu, lanjutnya, kasus ini dalam pandangan sosiologi juga menujukkan sifat dasar manusia yang bisa saja berubah drastis saat dalam kondisi yang terdesak.

Hal itu merujuk pada narasi bahwa pelaku yang merasa panik karena korban meninggal, sehingga memutuskan untuk memutilasi. Padahal, mungkin mereka sejak awal tidak terpikir ini akan terjadi.

“Yang jelas dari sisi sosial ada kekalutan yang luar biasa karena suatu peristiwa dan tidak ingin orang lain mengetahui karena akan mengancam masa depan. Pilihan mutilasi menjadi dilakukan karena pelaku pernah melihat dan belajar dari cerita kejahatan lain,” jelasnya.

Editor: Bintang Pradewo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore