
TUTUP USIA: Marie Claire Lintang Coffin melihat jenazah N.H. Dini saat masih berada di Wisma Lansia Harapan Asri, Banyumanik , Kota Semarang.
JawaPos.com - Nurhayati Sri Hardini Siti Nukatin atau N.H. Dini memang telah berpulang. Kendati demikian, karya sastrawati yang dikenal sebagai feminis sekaligus novelis itu akan selalu dikenang dan bahkan dirayakan, seperti harapan putrinya, Marie Claire Lintang Coffin.
"Kami harap bisa mengadakan acara mengenang beliau. Harapannya sih di Bali. Kami akan merayakan karya-karya beliau. Karya-karya yang mungkin belum diketahui," ujar Lintang saat dijumpai usai prosesi kremasi jenazah N.H. Dini di Krematorium Yayasan Gotong Royong, Ambarawa, Kabupaten Semarang, Rabu (5/12).
Untuk terlaksananya rencana itu, Lintang mengaku akan mengkomunikasikan dengan saudara laki-lakinya, Pierre Louis Padang Coffin, terlebih dahulu. Saat ini, pria yang dikenal sebagai kreator tokoh kartun 'Minions' tersebut tengah berada di luar negeri.
"Saya harap bisa membicarakan dulu dengan saudara saya secepatnya. Sekarang dia masih di Prancis," sambungnya.
Lintang sendiri sebenarnya sempat berjumpa dengan ibundanya beberapa waktu lalu dan menghabiskan waktu bersama. Soal firasat kepergian N.H. Dini, ia sempat merasakannya.
"Ya, ada firasat itu. Tapi, ya saya kira semua akan baik-baik saja dan mengabaikan firasat itu. Tapi ada hal yang spesial ketika dia bilang selamat tinggal. Itu terasa indah sekali, saya tak berpikir dia memberi isyarat, karena beliau masih bekerja setiap pagi, masih menulis, beliau juga cerita sering terjaga di tengah malam menunggu sesuatu yang bisa untuk ditulis. Menulis sepanjang waktu seperti yang beliau inginkan," kenangnya panjang.
Abu jenazah N.H. Dini saat ini masih disimpan di Krematorium Yayasan Gotong Royong, Ambarawa. Mau dikemanakannya belum jelas, karena masih menunggu kepulangan dari Padang dari Prancis juga.
Diberitakan sebelumnya, Nurhayati Srihardini Siti Nukatin atau yang populer dengan nama pena N.H. Dini meninggal usai terlibat sebuah kecelakaan lalu lintas di Tembalang, Kota Semarang. Jenazah sebelumnya sempat dibawa ke RS Elisabeth sebenarnya. Namun nahas, nyawanya tak tertolong dan dinyatakan meninggal dunia pukul 16.50 WIB.
Nurhayati Sri Hardini Siti Nukatin lahir di Semarang, 29 Februari 1936. Semasa hidupnya, ia dikenal sebagai seorang feminis dan novelis yang telah menghasilkan setumpuk karya serta penghargaan.
Karya-karyanya yang terkenal diantaranya, Pada Sebuah Kapal (1972), La Barka (1975) atau Namaku Hiroko (1977), Orang-orang Tran (1983), Pertemuan Dua Hati (1986), Hati yang Damai (1998). Selain itu masih ada lagi tulisan-tulisannya yang dituangkan dalam bentuk cerpen, novelet, atau cerita kenangan.

14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
Pesan Haru Milos Raickovic ke Bonek! Gelandang Persebaya Surabaya Sudah Berikan Segalanya Musim Ini
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Korban Dicekoki Miras Hingga Tak Sadar, Pelaku Pemerkosaan Cipondoh Masih Dicari
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
