
Gunung Ile Lewotolok, NTT (Dok Antara)
JawaPos.com - Pos Pengamatan Gunung Ile Lewotolok di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur mencatat 5.350 kali gempa erupsi selama periode 1–15 September. Angka itu menunjukkan aktivitas erupsi masih tergolong tinggi.
Dikutip dari Antara Rabu (23/9) pengamat Gunung Ile Lewotolok Stanislaus Ara Kian dalam laporan evaluasi aktivitas vulkanik dari Lembata menyebutkan selain gempa erupsi, periode tersebut juga tercatat 1.757 kali gempa hembusan, 403 kali tremor nonharmonik, 175 kali gempa guguran, dan 66 kali gempa harmonik.
"Selain itu tercatat sebanyak 33 kali gempa hibrid, 14 kali gempa vulkanik dangkal, 23 kali gempa vulkanik dalam, satu kali gempa tektonik lokal, dan 19 kali gempa tektonik jauh," katanya. Secara visual, gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah berwarna putih dan kelabu tipis hingga tebal teramati dengan ketinggian 20–500 meter dari puncak.
Selama periode tersebut juga terjadi erupsi dengan tinggi kolom 50–800 meter dari puncak. Kolom erupsi berwarna putih, kelabu hingga hitam, sedangkan guguran teramati dengan jarak luncur 200–700 meter ke arah selatan.
Evaluasi Badan Geologi menyebut aktivitas erupsi dan hembusan pada 1–15 September menunjukkan peningkatan, dengan kolom erupsi mencapai 800 meter dan asap hembusan hingga 500 meter. "Erupsi terkadang disertai suara gemuruh dan dentuman dengan intensitas lemah hingga kuat," ujar dia.
Dia menjelaskan, pada 18 Agustus 2026, aliran lava mulai keluar dari kawah menuju sektor selatan dengan jarak mencapai 1.800 meter. Kemudian pada 4 September teramati aliran lava baru menuju sektor timur laut sejauh 500 meter di atas endapan lava lama, dengan endapan mencapai 1.100 meter dari bibir kawah. “Teramati sinar api di puncak gunung Ile Lewotolok dan saat terjadi erupsi teramati lontaran material pijar ke segala arah dengan dominan ke sektor tenggara,” ujar dia dalam laporannya.
Dia juga menjelaskan lontaran material pijar ke sektor tenggara mencapai 200–500 meter dari bibir kawah, sektor selatan hingga 200 meter, barat daya 100–200 meter, dan sektor barat hingga 200 meter.
Dari sisi kegempaan, jumlah gempa erupsi atau letusan meningkat tajam. Gempa hembusan, guguran, dan harmonik juga mengalami peningkatan meskipun tidak signifikan.
Sementara itu, tremor nonharmonik, gempa tektonik, dan gempa tektonik jauh mengalami penurunan.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Guruh Soekarnoputra Meninggal, Ini Daftar Anak Soekarno yang Masih Hidup dan Sudah Tiada
Prediksi Skor Hong Kong vs Laos di FIFA ASEAN Cup: Duel Seru Berpotensi Imbang di Kai Tak Stadium
Prediksi Skor Slovakia vs Moldova di Liga Nations UEFA: Sokoli Borong Gol di Futbal Tatran Aréna
Prediksi Skor Albania vs Belarus di Liga Nations UEFA: Kuq e Zinjtë Menang Tipis Hadapi Tim Tamu
Prediksi Skor Bulgaria vs Luksemburg: Duel Ketat, Tuan Rumah Diunggulkan
Prediksi Skor Kamboja vs Myanmar di FIFA ASEAN Cup: Singa Asia Berpeluang Menang Tipis
Prediksi Skor Kuwait vs Irak di Arabian Gulf Cup: Laga Sengit Rawan Berakhir Imbang
Prediksi Skor Makedonia Utara vs Swiss di Liga Nations UEFA: Nati Pesta Gol di Kandang Lawan
Prediksi Skor Lithuania vs Azerbaijan di UEFA Nations League: Duel Ketat Berpotensi Imbang
Prediksi Skor Slovenia vs Skotlandia: Sesko Absen, Era Baru Pocognoli Dimulai di Ljubljana

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022