
Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) mengajak generasi muda berkreativitas dalam acara di Gedung Fakultas Kedokteran UNY. (istimewa)
JawaPos.com — Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) mengajak generasi muda dan keluarga Indonesia untuk menanamkan nilai-nilai Pancasila tidak hanya lewat teori, tetapi melalui tindakan nyata dan kreativitas dalam kehidupan sehari-hari.
Pesan tersebut disampaikan dalam kegiatan “Penguatan Relawan Gerakan Kebajikan Pancasila” yang digelar di Aula Pascasarjana Lantai 7, Gedung Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Kamis (23/10).
Acara ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan literasi kebangsaan bertema “Literasi Pancasila dan Kebangkitan Republik”, yang bertujuan memperkuat jati diri bangsa dan membangun kolaborasi lintas sektor berbasis etika Pancasila.
Direktur Jaringan dan Pembudayaan BPIP, Toto Purbiyanto, menekankan pentingnya peran anak muda, terutama mahasiswa untuk menyuarakan nilai-nilai Pancasila dengan cara yang relevan di era digital.
“Sekarang jamannya gadget dan media sosial. Kami ingin mahasiswa berbicara tentang Pancasila lewat kreativitas mereka sendiri—melalui konten yang menebarkan gotong royong, toleransi, dan kebajikan,” ujar Toto.
Menurutnya, memahami Pancasila bukan soal menghafal lima sila, melainkan bagaimana menerapkannya dalam tindakan nyata.
“Menjaga kebersihan, tidak membuang sampah sembarangan, menghargai orang lain—itu juga Pancasila. Nilai-nilai itu akan lebih melekat bila dipraktikkan dalam keseharian,” tambahnya.
Selain generasi muda, BPIP juga mengajak keluarga, khususnya para ibu untuk menjadi teladan pembudayaan nilai-nilai Pancasila di rumah.
“Kalau ibu-ibu menanamkan kebiasaan sederhana seperti mengucap terima kasih, meminta maaf, dan tidak menyalahkan orang lain, itu sudah bagian dari pembentukan karakter Pancasilais sejak dini,” jelas Toto.
Sementara itu, Ketua Komisi XIII DPR RI, Willy Aditya, menyoroti pentingnya pembaruan dalam pendidikan Pancasila. Ia menilai pendekatan kognitif semata sudah tidak lagi relevan dan perlu digantikan dengan pendekatan literasi serta praktik kehidupan sehari-hari.
“Edukasi saja tidak cukup. Kita harus beralih dari sekadar sosialisasi ke literasi dan praktik harian. Pancasila itu hidup dari keseharian bangsa—dari semangat gotong royong,” tegas Willy.
Ia juga mengusulkan pembentukan Asrama Nusantara di Jogjakarta sebagai wadah kebersamaan lintas daerah, menggantikan asrama-asrama daerah yang masih memperkuat sekat identitas primordial.
“Kalau di Jogja saja masih terpisah-pisah asrama daerah, kapan kita benar-benar ber-Indonesia Raya? Sudah saatnya ada lompatan ke depan,” ujarnya.
Willy mencontohkan, bahkan hal sederhana seperti pengelolaan sampah bisa menjadi bentuk nyata penerapan Pancasila.
“Krisis sampah muncul karena kita belum terbiasa memilah sejak rumah. Pancasila mengajarkan satunya kata dan perbuatan—itulah laku Pancasila,” pungkasnya.

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
7 Hidden Gem Kuliner Sunda di Bogor yang Enak dan Wajib Dicoba, Suasana Asri dan Menunya Autentik
13 Gudeg Paling Enak di Solo dengan Harga Terjangkau, Rasa Premium, Cocok untuk Kulineran Bareng Keluarga!
12 Rekomendasi Kuliner Malam di Surabaya dengan View Terbaik untuk Nongkrong Santai dan Pemandangan yang Memukau
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Sejarah Die Roten Selalu Lolos dari Semifinal Liga Champions, Masih Dominan Lawan Klub Ligue 1
