Petugas SPPGPalmerah menyiapkan menu Makanan Bergizi Gratis di SPPG Palmerah, Slipi, Jakarta, Senin (06/1/2025). (HANUNG HAMBARA/JAWA POS)
JawaPos.com - Pelaksanaan program makan bergizi gratis (MBG) masih menghadapi persoalan dan dinamika. Selain ada insiden keamanan pangan yang berdampak pada kesehatan siswa, juga tata kelola dapur MBG belum optimal.
Menurut Presiden Mahasiswa Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar (Presma UINAM) Muh. Zulhamdi Suhafid, program MBG merupakan terobosan penting dalam upaya meningkatkan kualitas gizi serta kesehatan generasi muda Indonesia.
Dia mendorong Badan Gizi Nasional (BGN) terus memperkuat sistem pengelolaan dapur serta pengawasan pelaksanaan MBG di berbagai daerah, sehingga implementasinya dapat berjalan lebih efektif dan tepat sasaran. Sebab, MBG sebagai program strategis dan visioner yang berperan besar dalam menciptakan generasi Indonesia yang sehat, cerdas, dan kompetitif.
Dia menekankan penguatan tata kelola dapur menjadi langkah krusial untuk memastikan setiap makanan yang disajikan memenuhi standar keamanan pangan dan nilai gizi yang optimal.
Baca Juga: 5.000 Dapur SPPG Ajukan Sertifikasi Halal, Kepala BPJPH Pastikan Nampan MBG Tak Tercemar Minyak Babi
“Program MBG adalah langkah besar pemerintah dalam membangun generasi unggul. Karena itu, kita semua perlu mendukung penguatan tata kelola dapur agar setiap penyedia makanan menjalankan prosedur sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang telah ditetapkan BGN,” ujar Zulhamdi pada Selasa (7/10).
Presiden Mahaiswa UINAM itu menegaskan, penyediaan makanan bergizi secara merata untuk pelajar SD, SMP, dan SMA menjadi pondasi penting dalam membentuk sumber daya manusia yang berkualitas di masa depan. Selain memberikan manfaat kesehatan, MBG juga berpotensi mendorong pemberdayaan ekonomi lokal, sebab bahan pangan yang digunakan dapat bersumber dari hasil pertanian, peternakan, dan perikanan masyarakat sekitar.
"Posisi MBG sangat penting. Ia bukan hanya soal makan gratis, tetapi soal kedaulatan pangan. Program ini menggerakkan ekonomi desa, memperkuat rantai pasok lokal, dan menjadi bagian dari visi besar Indonesia dalam mewujudkan ketahanan pangan nasional,” tegas Zulhamdi.
Program ini juga dinilainya sebagai momentum edukatif bagi masyarakat untuk memahami pentingnya pola makan sehat dan seimbang. MBG hadir tidak sekadar sebagai program konsumtif, tetapi sebagai sarana pembelajaran bagi siswa dan orang tua tentang pemanfaatan pangan lokal bernilai gizi tinggi.
“Kita harus melihat MBG sebagai program edukatif, bukan hanya konsumtif. Dengan mengutamakan pangan lokal seperti sayur, ikan, telur, dan buah-buahan daerah, program ini membantu masyarakat menyadari bahwa sumber gizi terbaik sesungguhnya ada di sekitar kita,” ungkap Zulhamdi.
Menurut dia, indikator keberhasilan MBG tidak cukup diukur dari jumlah penerima manfaat saja, tetapi juga dari sejauh mana program ini mampu menumbuhkan kesadaran kolektif masyarakat untuk kembali mencintai produk pangan lokal yang sehat, aman, dan bergizi.

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mobil Plat L Ringsek di Malang Diserang 300 Orang? Polres Malang Turun Tangan, Ini Fakta Terbarunya
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Rekomendasi Kuliner Mantap Dekat Bandara Juanda Surabaya, Cocok untuk Isi Waktu Sebelum Check-in
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
12 Kuliner Mie Kocok di Bandung Paling Enak dengan Kuah Gurih yang Bikin Nagih Sejak Suapan Pertama
