Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 7 April 2023 | 20.06 WIB

Dalam 3 Bulan, Tercatat Ada 2.469 Kasus DBD di Bali

Ilustrasi kasus demam berdarah (DBD) - Image

Ilustrasi kasus demam berdarah (DBD)

JawaPos.com - Dalam tiga bulan pertama 2023, ada 2.469 kasus demam berdarah dengue (DBD) tercatat di Bali. Kendati demikian, Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Bali mengungkapkan angkanya menunjukkan tren penurunan.

Dilansir dari ANTARA, Jumat (7/4), Kasi Penanggulangan Penyakit Dinkes Bali I Nyoman Sudiyasa, mengungkapkan, sebenarnya dari Januari hingga Maret sudah ada penurunan, tapi memang di beberapa kabupaten ada yang mengalami peningkatan.Penurunan kasus demam berdarah yang terjadi terlihat dari angka secara keseluruhan. 

Pada Januari terjadi 939 kasus dengan tiga orang meninggal dunia, Februari 820 kasus dengan satu meninggal dunia, dan Maret 710 kasus dengan satu meninggal dunia.

Berdasarkan data yang dihimpun Dinkes Bali, pasien terbanyak selama tiga bulan pertama pada 2023 berasal dari Kota Denpasar, yaitu 781 kasus. Disusul Buleleng dengan 369 kasus, Badung 305 kasus, Klungkung 231 kasus, Jembrana 210 kasus, Gianyar 196 kasus, Karangasem 156 kasus, Tabanan 154 kasus, dan Bangli 67 kasus.

Meskipun Denpasar menjadi wilayah dengan penyumbang kasus tertinggi, penurunan justru terjadi di sana. Yakni dari Januari 296 kasus menjadi 255 kasus di Februari dan 230 kasus di Maret 2023.

Sementara itu, Bangli dengan kasus terkecil justru mengalami peningkatan, dari 17 kasus pada Januari, 17 kasus pada Februari dan 33 kasus pada Maret. Sudiyasa menyebut kondisi ini banyak dipengaruhi oleh musim, selain itu kesadaran masyarakat terhadap gerakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) juga dinilai penting.

"Kita tahu DBD itu tidak ada obatnya, tidak ada vaksin yang direkomendasikan untuk mencegah DBD. Yang bisa kita kerjakan untuk pengendalian demam berdarah adalah pengendalian vektornya, artinya mencegah penyebaran nyamuk aedes aegepty di masyarakat, cara paling mudah menekan populasinya adalah dengan PSN," ujarnya.

Selama ini Dinkes Bali telah berupaya menjalankan program tersebut, namun dibutuhkan peran masyarakat untuk lingkungannya, karena tidak bisa seluruhnya dilakukan pemerintah sendiri.

Selai upaya pencegahan, Sudiyasa menjelaskan bahwa penurunan kasus selama tiga bulan juga dibarengi dengan Penyelidikan Epidemiologi (PE) atau kegiatan turun ke lapangan.

"Turun ke lapangan memastikan pasien tertularnya dimana, apakah rumah atau tempat aktivitas seperti sekolah atau kantor, itu nanti hasil rekomendasinya apakah fogging atau cukup PSN,"katanya.

Apabila hasil rekomendasi menunjukkan harus dilakukan fogging, lanjutnya, akan dilakukan penyemprotan di fokus lokasi dengan radius 100-200 meter.

"Tapi, tidak melupakan PSN-nya, karena kalau itu (fogging) saja yang dibunuh nyamuk dewasa saja, jentik-jentiknya tidak mati, makanya gerakan paling penting adalah PSN dan harus melibatkan masyarakat," kata dia.

Editor: Nurul Adriyana Salbiah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore