Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 18 Agustus 2022 | 06.04 WIB

Akhir Hidup Ibu dan Anaknya, Mantan TKW di Taiwan Asal Tulungagung

Photo - Image

Photo

JawaPos.com- Ini kisah memilukan mantan tenaga kerja wanita (TKW) di Taiwan. Inisialnya YM, warga dari Desa Tanjungsari, Kecamatan Karangrejo, Kabupaten Tulungagung, Jatim. Perempuan 43 tahun itu mengakhiri hidup dengan menenggak racun. Bersama anaknya, yang masih berusia 5 tahun.

YM bertindak nekat itu diduga kuat karena depresi. Dia seorang single parent. Dari hasil pernikahan dengan mantan suaminya, YM dikaruniai tiga anak. Setelah menjanda, anak sulung dan keduanya, mengikuti sang ayah. Yang hidup bersama YM adalah anak terakhir.

Tragedi itu terjadi pada Senin (15/8) lalu. Padahal, Minggu (14/8) malam, YM masih terlihat warga melayani anak ketiganya yang berinisial IC itu. Keduanya, terlihat makan di depan rumah. Di hari yang sama, ada pihak keluarga yang juga mengetahui YM membeli racun tikus. Namun, mereka tidak dicurigai jika racun itu untuk bunuh diri.

’’Ibu dari korban YM, pada pukul 07.30 WIB, hendak mencari cucunya IC untuk sekolah. Namun, saat dipanggil-panggul tidak ada respons. Lalu, hendak masuk rumah, ternyata semua pintu terkunci. Hingga akhirnya pintu rumah harus digergaji,” terang Nahroni, ketua RT setempat, seperti dikutip Jawa Pos Radar Tulungagung (16/8).

Rumah yang ditinggali YM dan anak bungsunya itu berlantai dua. Namun, masih berdinding batu bata. Belum diplester. Nah, saat keluarga dan warga masuk rumah, mereka dibuat kaget. Korban ditemukan dengan posisi terlentang. YM memakai baju biru dan rok hitam. Sedangkan anaknya berpakaian serba biru. Di sampingnya, ada perlengkapan tidur seperti bantal, guling, dan selembar karpet untuk alas tidur.

Melihat pemandangan pilu itu, ibu korban atau nenek IC pun berteriak histeris. Menangis tersedu-sedu. Bahkan, perempuan sepuh itu tidak menghendaki jenazah anak dan cucunya dibawa ke rumah sakit untuk diotopsi. Warga pun melaporkan kejadian itu ke kepala desa (kades) setempat. Lalu, dilanjutkan ke Polsek Karangrejo.

Informasinya, hari-hari YM hanya melayani anaknya IC, setelah dua tahun lalu dipulangkan dari di Taiwan. YM telah tiga kali pergi bekerja sebagai TKW atau pekerja migran. Dari kerja itu, dua dapat membangun rumah. Yang ditempati dan menjadi lokasi untuk mengakhiri hidup tersebut. Bahkan, kabarnya, YM juga membangun rumah di Blitar, yang kini dihuni mantan suaminya.

“YM sudah dua tahun bercerai dengan suaminya dan putus hubungan. Yang bersangkutan juga jarang diberi kesempatan bertemu dengan dua anaknya. Saat cerai itu, YM dalam kondisi mengandung IC, setelah itu pergi ke luar negeri lagi untuk bekerja,” terangnya.

Saat kepergian terakhir sebagai TKW, YM bekerja di Taiwan tidak lama. Dia dipulangkan majikannya. Hingga akhinya pulang kampung pada 2021 lalu. Sejak itu, YM mengurus anak terakhirnya. Karena YM tidak memiliki pekerjaan di kampung, yang bersangkutan pun beberapa kali mendapatkan bantuan dari pemerintah desa setempat.

Sebetulnya, sejumlah warga sudah melihat ada tanda-tanda perubahan dalam diri YM sejak pulang dari Taiwan. Saat berkomunikasi dengan orang lain, terkadang tidak nyambung.

Saat melakukan pemeriksaan di TKP, petugas mendapati dua botol racun. Botol itu berada di bawah tangan korban. Hal itu menjadi satu petunjuk penyebab ibu dan anak itu meninggal dunia karena bunuh diri. Saat diperiksa dokter, kedua tubuh korban sudah dalam kondisi kaku. Di sekitar korban, juga ditemukan dua gelas, satu sendok, dan ponsel.

“Korban murni bunuh diri dan tidak ada tanda-tanda kekerasan lain. Keluarga tidak bersedia jika jenazah dibawa ke rumah sakit,” ujar Kapolsek Karangrejo AKP Sudariyanto.

Sementara itu, Nuzulunni’mah, psikolog Universitas Islam Negeri (UIN) Sayyid Ali Rahmadtullah (SATU) Tulungagung, mengungkapkan, perempuan selalu mengedepankan perasaan. Apalagi, korban YM merupakan single parent. Bisa jadi salah satu beban pikiran korban adalah nasib dan masa depan anak ketiganya.

“Dimungkinkan korban YM ini tidak berani meminta kebutuhan materi kepada mantan suaminya. Hingga akhirnya merasa YM tidak berguna dan tidak bermakna hidupnya. Saya memaknai orang bunuh diri itu orang yang tidak berdaya terhadap hidupnya,” tuturnya.

Dia menjelaskan, ketika seseorang memutuskan bunuh diri karena menganggap setelah itu tidak ada beban. Apalagi YM di rumah hanya berdua dengan anaknya, meskipun lokasi rumahnya berdekatan dengan rumah keluarga lain. Namun, bisa saja hubungan komunikasi kurang. Karena itu, yang bersangkutan merasa menanggung beban sendiri. Akhirnya, timbul depresi.

Dia menegaskan, kalau menemui orang yang bergejala depresi dan ada tanda-tanda ingin mengakhir hidup maka harus ada pendampingan. Tujuannya, orang bersangkutan tidak merasa sendiri dan terasingkan.

Pihak keluarga atau orang-orang terdekat harus memberikan motivasi dan dukungan sosial agar dapat memiliki ketangguhan. Tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan. Masalah sepelik apapun pasti ada jalan keluar sehingga tidak perlu berfikir singkat dengan mengakhiri hidup.

“Namun kadang masyarakat sekarang cenderung mengabaikan terhadap kesehatan mental. Atau semakin meremehkan. Padahal tidak ada yang tahu seberapa kuat individu itu menjaga kestabilan emosinya, hanya orang di sekitarnya yang mampu menilai,” pungkasnya.

Editor: M Sholahuddin
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore