Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 25 Mei 2022 | 06.40 WIB

Fenomena Ikan Mabuk di Sungai Brantas Diduga karena Limbah Industri

Seorang warga membawa ikan. Dok. JawaPos - Image

Seorang warga membawa ikan. Dok. JawaPos

JawaPos.com–Fenomena ikan mati masal atau ikan mabuk kembali terjadi di Sungai Brantas pada Senin (23/5). Ribuan ekor ikan mengambang dan mati di sungai yang mengalir di antara Kabupaten Mojokerto, Gresik, Sidorajo, dan Surabaya.

Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) menduga fenomena ikan mabuk di Sungai Brantas wilayah Desa Cangkir hingga wilayah Warugunung, Surabaya, karena limbah industri. ”Jenis ikan yang ditemukan adalah Rengkik, Keting, Bader, Nila, dan Mujair,” kata Manager Kampanye Ecoton Diki Dwi Cahya, Selasa (24/5).

Berdasar catatan Ecoton, fenomena ikan mabuk di sungai di Surabaya sudah terjadi berkali-kali. Setiap tahun hal itu terjadi. Namun tidak ada langkah penyelesaian yang dilakukan.

”Sudah lama saya tak melihat tangkapan ikan sebesar ini selama beberapa tahun terakhir, berarti fenomena ikan mabuk ini sangat besar,” papar Diki.

Sejauh ini, dugaan utama mengarah pada limbah industri. Faktornya, ikan yang ditemukan mati atau mabuk berukuran besar dalam jumlah sangat banyak.

”Menurut saya jika terus begini kelestarian lingkungan sungai di Surabaya bisa terancam serta membuat induk ikan akan mati dan bisa menyebabkan kepunahan,” papar Diki.

Fenomena ikan mati masal tersebut akan terus terulang jika tidak ada upaya serius atau penegakan hukum bagi industri yang membuang limbah ke sungai.

”Sungai adalah rumah ikan, jika ikan-ikan tersebut mati dalam kondisi yang tidak wajar dan dengan jumlah yang banyak, kami khawatir ikan-ikan tidak dapat hidup dan terjadi kepunahan,” ucap Diki.

Ecoton pada 2019 juga telah melayangkan gugatan kepada KLHK, PUPR, dan Gubernur Jawa Timur, ke Pengadilan Negeri Surabaya atas peristiwa ikan mati masal di Sungai Brantas. Dalam putusan Perkara Nomor 08/Pdt.G/2019/PN.Sby, pengadilan mengabulkan permintaan Ecoton agar pemerintah melakukan pemulihan lingkungan hidup.

”Tetapi para tergugat mengajukan bandjng yang hingga saat ini belum diputuskan Pengadilan Tinggi,” ujar Diki.

Habib, warga Desa Bambe Driyorejo Gresik mengatakan, ikan mulai muncul ke permukaan sungai mulai pukul 06.30 WIB. Saat itu warga sudah banyak berkumpul di lokasi.

”Saya pergi ke sungai setelah mendengar kabar dari paman saya, warga sudah banyak dilokasi,” kata Habib.

Menurut Habib, fenomena ikan mabuk kali ini termasuk yang paling parah dan besar dalam beberapa tahun terakhir. Sebab ikan yang ditemukan berukuran besar. Air sungai juga berbau amis, berminyak dan lengket.

”(Kontaminasi) sampai ke bawah. Bau sungai amis seperti bau micin, aliran sungai sedikit berminyak dan lengket,” terang Habib.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore