Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 16 Juli 2019 | 03.16 WIB

Kasihan, Bocah Penderita Kanker Tulang Berjuang Tanpa Orang Tua

BUTUH PERHATIAN: Nazuwa Dafina, bocah perempuan berumur 12 tahun penderita kanker tulang atau osteosarcoma saat sedang dirawat di Rumah Sakit (RS) Unhas Makassar. (RADAR NUNUKAN/Prokal/JPG) - Image

BUTUH PERHATIAN: Nazuwa Dafina, bocah perempuan berumur 12 tahun penderita kanker tulang atau osteosarcoma saat sedang dirawat di Rumah Sakit (RS) Unhas Makassar. (RADAR NUNUKAN/Prokal/JPG)

JawaPos.com - Nazuwa Dafina harus berjuang melawan penyakit kanker tulang atau osteosarcoma. Fifi, panggilan akrab Nazuwa, tinggal di Jalan Hasanuddin, Kelurahan Nunukan Utara, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara (Kaltara). Kedua orang tuanya sudah meninggal dunia. Fifi pun kini berjuang bersama kakak perempuannya yang menjadi satu-satunya tulang punggung keluarga.

Anak berusia 12 tahun itu saat ini terbaring lemah di Rumah Sakit (RS) Unhas Makassar. Sang kakak bernama Indri Seprianti pun berinisiatif menggunakan media aplikasi di handphone untuk mencari bantuan dana tambahan untuk adik perempuannya.

Indri mengaku melakukan hal tersebut lantaran merasa kurang mampu membiayai serangkaian keperluan adiknya di Makassar. Apalagi dirinya hanya seorang pekerja staf honorer di salah satu organisasi perangkat daerah (OPD) di Nunukan.

“Kami cobalah melalui media kita bisa di internet. Saya lakukan karena sudah sangat kehabisan sekali, apalagi cuma saya tulang pungung satu-satunya. Orang tua sudah tidak ada. Jadi saya berjuang sendiri untuk adik saya,” cerita Indri saat diwawancarai dengan raut wajah sedih, sebagaimana diberitakan Prokal.co (Jawa Pos Group), Senin (15/7).

Indri sendiri sebelumnya menggunakan tabungan miliknya. Selain itu ia mendapatkan bantuan dari keluarga orang tua. Selama mendampingi adiknya, Indri sudah menghabiskan biaya hampir Rp 30 juta. Padahal biaya pengobatan Fifi selama di RS sudah dibantu BPJS.

Tidak punya rumah di Makassar juga membuat dirinya kewalahan. Belum lagi biaya keperluan lain adiknya seperti popok, vitamin, dan sebagainya. Tentu Indri sangat berharap sekali ada donatur yang ikhlas bisa membantunya.

“Jadi ikhlas dalam hal ini bukan yang terpaksa, karena saya tahu mungkin juga masih ada yang lebih membutuhkan di luar sana. Saya hanya mencoba saja dengan media aplikasi pembantu meringankan biaya yang tersedia, jika ada kami tentu bersyukur,” harap Indri.

Dia lantas menceritakan awal mula penyakit yang diderita Fifi. Awalnya, adiknya itu hanya merasakan seperti pegel-pegel bagian paha kanan. Indri tidak sampai berpikiran adiknya terkena penyakit berbahaya, melainkan hanya kelelahan sehabis bermain pulang sekolah.

Sakit yang diderita Fifi rupanya bertambah karena kembali terbentur di meja sekolah. Pasca terbentur adiknya tidak memberitahukan Indri. Padahal, pahanya sudah dalam keadaan biru dan terjadi pembengkakan yang sangat besar.

Indri beberapa kali membawa adiknya ke Puskesmas Nunukan, tapi informasi yang ia dapatkan tidak terjadi apa-apa. Pada akhirnya Indri terus membawa adiknya ke puskesmas dan sampai dapat rujukan ke RSUD Nunukan di-rontgen.

Dari hasil rontgen, terungkap ada benjolan di tulang paha Fifi, tapi dokter di Nunukan belum dapat memastikan itu tumor ganas karena alat di RSUD belum lengkap dan Fifi pun harus dirujuk lagi. Setelah dirujuk ke RS Unhas Makassar, barulah ketahuan Fifi divonis penyakik kanker tulang atau osteosarcoma.

Ironisnya, dokter menyarankan untuk dilakukan amputasi. Berhubung Fifi masih kecil, Indri pun meminta apakah ada tindakan lain yang bisa dilakukan selain amputasi. Ternyata masih ada alternatif lain, yakni kemoterapi.

Kemoterapi dilakukan untuk mengecilkan ukuran bengkak karena kanker. Setelah pembengkakan mengecil, barulah kanker bisa diangkat. Namum jika dalam enam siklus menjalani kemoterapi kankernya masih membesar, kemungkinan amputasi pun harus dilakukan.

Sementara itu, dari berbagai sumber yang dilansir, osteosarcoma adalah salah satu jenis kanker tulang paling sering dijumpai yang menyerang remaja berusia 20 ke bawah dan anak-anak. Kanker tulang jenis ini umumnya menyerang tulang-tulang berukuran besar pada bagian yang memiliki tingkat pertumbuhan tercepat.

Oleh karena itu, osteosarcoma biasanya berkembang ketika masa remaja. Sebab, pada periode ini pertumbuhan tulang berada dalam fase paling cepat. Jadi risiko seseorang mengidap osteosarcoma meningkat pada masa pertumbuhan tulang.

Osteosarcoma termasuk kanker agresif, namun mayoritas pasien bisa disembuhkan dengan kombinasi beberapa metode pengobatan. Pada rentang usia 0-24 tahun, pria memiliki risiko terkena osteosarcoma lebih besar daripada wanita.

Editor: Fadhil Al Birra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore