
Nilai Pancasila akan lebih mudah dicerna ketika disajikan dalam bentuk film, musik, video pendek, vlog
JawaPos.com - Bukti bahwa Pancasila telah menyatukan bangsa Indonesia yang besar, beragam suku, budaya, etnis dan agama wajib disyukuri. Namun menanamkan kembali Pancasila melalui mata pelajaran dikhawatirkan akan sekedar menjadi slogan atau bahkan indoktrinasi baru yang akan gagal buat generasi milenial di Indonesia.
"Alih-alih menginternalisasi Pancasila. Para siswa milenial justru akan menghindarinya dan mencari atau menemukan paham lain yang asing namun dipercayai lebih sesuai dengan kebutuhan mereka," ujar Pengamat Pendidikan, Muhammad Nur Rizal, Kamis (21/2).
Menurut Rizal, meneguhkan kembali Pancasila sebagai watak dan jati diri orang Indonesia di era internet global perlu hadir dengan cara-cara baru yang kekinian yang melibatkan milenial. Mendengarkan suara mereka tidak hanya melalui seminar atau di ruang kelas, melainkan melalui karya nyata yang dirasakan di kehidupan sehari-hari.
"Nilai Pancasila akan lebih mudah dicerna ketika disajikan dalam bentuk film, musik, video pendek, vlog Youtube daripada pelajaran klasikal oleh guru dengan metode kuno," kata Rizal.
Dengan demikian, terang dia, mereka akan belajar sejarah perjuangan serta nilai-nilai kemanusiaan yang lintas batas agama, etnis budaya dan suku. Mereka berani memperjuangkan keadilan meski berbeda serta harus menghadapi banyak rintangan sebagai wujud nyata berketuhanan di dunia.
Menurut Rizal, aksi atau praktek nyata itu yang lebih dibutuhkan sebagai metode pembelajaran baru yang relevan dengan anak muda. "Tidak mendikte atau menggurui, melainkan memperkaya khazanah pemikiran mereka. Sehingga mereka akan menempatkan Pancasila sebagai payung moral, payung kultural yang telah dan terus ditanamkan dengan nyata," ujar pendiri Gerakan Sekolah Menyenangkan itu.
Oleh karena itu, ekosistem atau lingkungan sekolah perlu dibangun ulang agar menjadi tempat menyenangkan bagi tumbuh suburnya rasa empati untuk memahami perasaan orang lain dengan jujur. Mengapresiasi satu sama lain tanpa pamrih.
Ekosistem ini justru akan mempererat kerja sama di atas perbedaan seperti gotong-royong, dan menjauhkan Pancasila sebagai alat pembatas untuk menilai tingkat kebinekaan murid karena latar belakangnya. "Guru tidak memakai Pancasila sebagai alat ukuran moral bagi murid yang penurut atau kritis," katanya.

7 Mall Terbaik di Bandung dengan Banyak Tenant Kuliner dan Spot Foto yang Instagramable
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
Bupati Roby Kurniawan Disebut Netizen Sebagai Bupati R yang Bikin Ayu Aulia Kehilangan Rahim
10 Rekomendasi Kuliner Bakmi Jawa di Surabaya, Pengunjung Sampe Rela Antre Demi Seporsi Kenikmatan Kuliner Malam Satu Ini!
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
Persebaya Surabaya Dilaporkan Capai Kesepakatan dengan Striker Asing, Punya Rekam Jejak di Indonesia!
18 Kuliner Mie Ayam di Yogyakarta yang Rasanya Autentik Tapi Harganya Cocok untuk Semua Kalangan Masyarakat
Pertemuan dengan Suporter, Fariz Julinar Tegaskan PSIS Semarang Siap Bangkit Musim Depan
4 Tempat Makan Siomay Paling Enak di Bandung, Jangan Skip karena Variannya Berlimpah dengan Siraman Bumbu Kacang yang Lezat
