Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 11 Januari 2019 | 00.03 WIB

2018, Kasus Demam Berdarah Dengue di Jateng Diklaim Menurun

ILUSTRASI: Sepanjang 2018 ini, kejadian DBD tertinggi tercatat ada di kota Magelang dengan 39 kasus per 100 ribu penduduk. - Image

ILUSTRASI: Sepanjang 2018 ini, kejadian DBD tertinggi tercatat ada di kota Magelang dengan 39 kasus per 100 ribu penduduk.

JawaPos.com - Frekuensi timbulnya penyakit (incident rate) demam berdarah dengue (DBD) di Jawa Tengah tahun 2018 diklaim menurun ketimbang 2017. Yakni, berada di angka 8,68 kasus per 100 ribu penduduk.


Hal itu diungkapkan Kepala Dinas Kesehatan Jateng, Yulianto Prabowo, Kamis (10/1). "Dibanding 2017, mencapai 22 kasus per 100 ribu penduduk dan 2016 yang menyentuh angka 44 kejadian per 100 ribu penduduk," katanya.


Sepanjang 2018 ini, kejadian tertinggi tercatat ada di kota Magelang dengan 39 kasus per 100 ribu penduduk. Diikuti Kabupaten Grobogan dengan angka 27,5 kasus per 100 ribu penduduk. Kemudian Pekalongan, Jepara, dan daerah lain.


"Kalau yang tingkat kejadian rendah di Kabupaten Wonogiri dan Banyumas di bawah tiga kasus per 100 ribu penduduk," sambungnya.


Sedangkan case fatality rate (CFR), Yulianto mengatakan, untuk kasus meninggal akibat DBD tahun 2018 mencapai 1,2 persen tiap tahun. "Semisal 100 kasus, ada satu yang meninggal. Dari tahun ke tahun angka sama," jelasnya.


Yulianto mengatakan, untuk tahun 2019 ini juga sudah ditemukan 13 kasus positif DBD di Kota Semarang. Mereka dirawat di RSUD Ketileng sekarang. Lalu di Blora, tercatat ada 22 orang yang terjangkit penyakit serupa.


Ia pun mengimbau kepada masyarakat agar bisa waspada terhadap penyakit mematikan ini. Semisal, kalau mendapati ciri-ciri demam selama dua hari tanpa batuk dan pilek, biasanya dokter melakukan diagnosa awal DBD. Ini tentunya penting sebagai pencegahan, walaupun hasil diagnosa akhir di rumah sakit berbeda.


Tak lupa, ia meminta masyarakat supaya mewaspadai adanya perubahan musim ini. Ia mengatakan, momen ini adalah waktu yang tepat untuk masa berkembangbiak nyamuk pemicu DBD. "Apalagi di musim penghujan kali ini tidak tiap hari hujan. Sekarang hujan, nanti tidak hujan, terus hujan lagi," lanjutnya.


Hal yang patut diwaspadai adalah vektor nyamuk aedes aegypti yang perindukannya di sekitar rumah bahkan di dalam rumah. Nyamuk ini, katanya, gemar berkembang biak di tempat penampungan air yang bersih.


"Pemberantasan paling efektif dari masyarakat sendiri. Setiap rumah tangga harus punya juru pemantau jentik. Memastikan rumah dan di luar rumah tidak ada jentik nyamuk dengan mendaur ulang, menimbun, menutup dan menguras," tandasnya.

Editor: Sari Hardiyanto
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore