
PENYANDANG DISABILITAS: YPAC Musik Percussion saat tampil di kawasan Car Free Day (CFD) Slamet Riyadi, Minggu (18/9).
JawaPos.com - Sampai saat ini, stigma negatif masyarakat kepada penyandang disabilitas masih jamak terjadi. Banyak yang beranggapan bahwa penyandang disabilitas tidak bisa produktif. Anggapan itulah yang ingin dipatahkan oleh Yayasan Pendidikan Anak Cacat (YPAC) Solo.
Melalui YPAC Musik Percussion, penyandang disabilitas ingin membuktikan. Bahwa, anggapan negatif masyarakat tersebut tidak selalu benar. Mereka tetap bisa berkarya layaknya orang normal lainnya. YPAC Musik Percussion ini sendiri sudah berdiri sekira tahun 2007 lalu. Dan sekarang, sudah merupakan generasi ketiga.
Adalah Sugiya Nur yang berada di balik terbentuknya YPAC Musik Percussion tersebut. Sugiya yang menjabat sebagai Ketua Pengembangan Bakat Minat Anak di YPAC mengatakan, bahwa YPAC ini mengubah stigma negatif masyarakat terhadap penyandang disabilitas.
Bahwa para penyandang disabilitas bisa juga diberikan pelatihan dan memiliki keterampilan seperti mereka yang normal. "Selama ini ada anggapan masyarakat tentang difabel dan itu tidak mengenakan, mereka memandang difabel itu bodoh, miskin dan tidak produktif. Kami ingin bicara lewat fakta saja," ungkapnya kepada JawaPos.com, Selasa (18/9).
Dan dengan tangan dinginnya, sekarang YPAC Musik Percussion bisa semakin besar namanya. Mereka pun tidak hanya tampil di dalam kota Solo saja. Beberapa kota lain di luar Solo juga pernah mereka sambangi. Seperti di Semarang, dan beberapa kota lainnya.
YPAC Musik Percussion ini bisa memainkan segala jenis musik. Mulai dari musik tradisional sampai dengan musik modern. Dari dangdut, campur sari, keroncong, reggea dan jenis musik lainnya bisa dimainkan. "Untuk yang generasi ketiga ini baru sekitar 10 hari terbentuk, tetapi mereka sudah bisa bermain dengan bagus," urainya.
Ada lebih kurang 12 anak disabilitas yang menggawangi YPAC Musik Percussion. Mereka menempati posisinya sesuai dengan keahliannya masing. Ada keyboard, perkusi, tamborin, kentongan, gitar dan juga vokal.
"Saya selalu memotivasi anak-anak, bahwa kalau tidak punya tangan gunakan kakimu untuk berkarya. Begitu pula sebaliknya, kalau tidak punya kaki, gunakan tanganmu. Manfaatkan sisa tubuhmu untuk berkarya InsyaAllah ada jalan," ungkapnya.
Anggota YPAC Musik Percussion, Sarah Suryandari, 15, mengatakan, selama ini dirinya terus mengikuti latihan rutin yang sudah dijadwalkan. "Kalau saya sudah sejak lama belajar, dan punya bakat untuk menyanyi. Jadi di YPAC Musik Percussion ini bakat saya terus diasah," urainya.

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
7 Hidden Gem Kuliner Sunda di Bogor yang Enak dan Wajib Dicoba, Suasana Asri dan Menunya Autentik
13 Gudeg Paling Enak di Solo dengan Harga Terjangkau, Rasa Premium, Cocok untuk Kulineran Bareng Keluarga!
12 Rekomendasi Kuliner Malam di Surabaya dengan View Terbaik untuk Nongkrong Santai dan Pemandangan yang Memukau
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Sejarah Die Roten Selalu Lolos dari Semifinal Liga Champions, Masih Dominan Lawan Klub Ligue 1
