
Ilustrasi pendatang baru di terminal bus.
JawaPos.com - Pasca hari raya Idul Fitri gelombang urbanisasi terus berdatangan ke kota besar. Pada penduduk dari daerah mengejar impian untuk bisa mengubah nasib di negeri orang.
Kota tujuannya tidak mesti ke Jakarta. Kota besar lainnya juga dianggap memberikan harapan. Seperti halnya Kota Pekanbaru. Kota ini juga didatangi para perantauan dari tanah Sumatera Utara.
Kota ini dianggap menjadi primadona sebagai kota tujuan pencari kerja. Terminal Bandar Raya Payung Sekaki terlihat sesak. Sejumlah bus dari luar daerah berdatangan. Kebetulan siang itu bus dari Sumatera Utara (Sumut) baru saja tiba.
Sejumlah penumpang baru saja turun dari bus. Sebagian dari mereka ada yang menuju Trans Metro, memilih naik ojek dan taksi. Namun ada tiga penumpang yang terlihat kebingungan. Wajah mereka terlihat letih.
Penumpang itu berjalan meninggalkan area kedatangan menuju salah satu trotoar pembatas di area parkir. Tidak sepatah katapun keluar dari mulut mereka. Penampilan seadanya, bahkan tidak memegang telepon geganggam. Hanya satu orang yang belakangan diketahui bernama Aldo yang memegang telpon genggam jenis Android yang telah termakan usia. "Lagi nunggu jemputan, saya mau ke Jalan Garuda Sakti," jawabnya singkat ketika ditanya Riau Pos (Jawa Pos Group).
Aldo mengaku punya pengalaman kerja lima tahun dan punya kenalan di Pekanbaru. Di Jalan Garuda Sakti tepatnya. Bersama dua saudaranya yang lain dari kampung, diri bakal mencari pekerjaan di Pekanbaru.
Dia meyakini Kota Pekanbaru akan menawarkan lebih banyak peluang ketimbang Kota asalnya, Medan. "Saya bisa mengerjakan jaringan," ungkapnya.
Sementara dua saudaranya tidak banyak bersuara. Mereka hanya menunggu perintah dan arahan Aldo. Mereka juga tidak menanggapi tukang ojek dan supir taksi yang menawarkan jasa.
Di tempat lain, beberapa wanita usia muda yang juga terlihat bingung ketika didekati sejumlah sopir taksi dan tukang ojek. Dari kejauhan pertama mereka mau diajak masuk ke kawasan bangunan terminal. Di area kedatangan para wanita itu mencoba untuk melepas penat sejenak. "Saya mau ke Jalan Riau, ada saudara tinggal di sana. Tapi ini tidak ada yang jemput," sebut Yuti mengawali pembicaraan.
Yuti mengaku belum tahu mau bekerja apa sesampai di Kota Pekanbaru ini. Dirinya datang karena tawaran seorang kenalan. Tawaran ada pekerjaan di Pekanbaru. Ternyata pekerjaan itu mengharuskan dirinya mengeluarkan uang jaminan sebesar Rp 12 juta yang langsung ditolaknya mentah-mentah. "Dijanjikan kerja, ternyata minta jaminan Rp 12 juta, mana mau kuambil. Ini mau cari kerja lain,"ujar Yuti.
Kendati belum jelas mau kerja apa dan dimana, dirinya tetap ngotot datang ke Pekanbaru. Ngotonya Yuti sama juga yang tunjukkan rekannya, Fany.
Gadis 20 tahun ini berpenampilan lebih modis. Berkaos ungu berkerah dan jaket yang hanya disangkutkan di bahu. Dirinya juga akan mencari kerja dan belum tahun mau kerja apa. "Saya juga sama, mau cari kerja pokoknya, di toko, jualan. Apapun kerjanya yang penting halal," sebut Fany.
Wali Kota Pekanbaru Firdaus MT menuturkan, kedatangan penduduk dari Desa ke Kota pasca Idul Fitri sudah biasa terjadi. Hal tersebut merupakan sebuah fenomena yang biasa. Sehingga Pemko harus menyikapi dengan cara yang cerdas.
Untuk mengatasi masalah urbanisasi ini Pemerintah Kota (Pemko) Pekanbaru tengah mengembangkan beberapa wilayah lainnya. Kini pihaknya tengah berkonsentrasi untuk mengembangkan Kecamatan Tenayan Raya sebagai wilayah Industri.
Selain itu, pihaknya juga memandang bahwa potensi pemerataan penduduk juga bisa dilakukan di Kecamatan Rumbai dan Rumbai Pesisir. "Dengan mengembangkan beberapa wilayah, saya rasa bisa mengatasi kepadatan penduduk. Seperti Tenayan Raya juga wilayah Rumbai sana. Jadi tidak terfokus pada satu titik," ujarnya.

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
7 Hidden Gem Kuliner Sunda di Bogor yang Enak dan Wajib Dicoba, Suasana Asri dan Menunya Autentik
13 Gudeg Paling Enak di Solo dengan Harga Terjangkau, Rasa Premium, Cocok untuk Kulineran Bareng Keluarga!
12 Rekomendasi Kuliner Malam di Surabaya dengan View Terbaik untuk Nongkrong Santai dan Pemandangan yang Memukau
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Sejarah Die Roten Selalu Lolos dari Semifinal Liga Champions, Masih Dominan Lawan Klub Ligue 1
