
Dinas Kependudukan Dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) DKI Jakarta melakukan pendataan pendatang baru di Ibu Kota menggunakan NIK. (ANTARA/HO-PPID DKI Jakarta)
JawaPos.com - Jakarta kini bukan lagi magnet utama bagi pendatang baru. Data terbaru menunjukkan fenomena unik. Jumlah warga yang angkat kaki dari Jakarta justru melampaui jumlah mereka yang datang untuk mengadu nasib pascalebaran 2026.
Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) DKI Jakarta mencatat tren keluar ini bahkan mencapai hampir dua kali lipat dibanding arus masuk.
Berdasarkan data periode 25 Maret hingga 30 April 2026, jumlah pendatang baru yang masuk ke ibu kota tercatat sebanyak 12.766 jiwa. Angka ini kalah jauh dengan jumlah warga yang memutuskan pindah keluar Jakarta yang mencapai 22.617 jiwa.
Kepala Dinas Dukcapil DKI Jakarta Denny Wahyu Haryanto mengungkapkan, penurunan tren pendatang ini sebenarnya sudah diprediksi sebelumnya.
Baca Juga:Catat! Jalan Rasuna Said Jadi Lokasi CFD Minggu 10 Mei, Ini Lokasi Parkir dan Rute Alternatif
"Data tersebut sesuai dengan prediksi sebagaimana yang telah disampaikan oleh Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung. Tahun 2021 hingga 2023 jumlah pendatang pasca lebaran di atas 20.0000+ jiwa. Jumlah ini menurun pada tahun 2024 dan 2025 yaitu sejumlah 16.0000 lebih jiwa," ujar Denny.
Tingginya angka perpindahan keluar ini tidak lepas dari ketatnya program penataan administrasi kependudukan. Banyak warga yang secara fisik sudah tinggal di kota penyangga, kini mulai tertib secara administratif.
"Banyak warga yang sudah bertahun-tahun tinggal di wilayah penyangga seperti Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi, namun masih menggunakan KTP-el Jakarta. Melalui program ini, mereka melakukan penyesuaian administrasi kependudukan agar sesuai dengan domisili sebenarnya," jelas Denny.
Selain urusan surat-menyurat, faktor ekonomi memegang peranan penting. Tingginya biaya hidup di jantung kota membuat warga usia produktif berpenghasilan rendah lebih memilih mencari hunian di wilayah Bodetabek yang lebih terjangkau namun tetap terkoneksi transportasi publik.
Fenomena ini dikenal sebagai deurbanisasi. Jakarta kini mulai beralih fungsi dari kota hunian menjadi bagian dari kawasan aglomerasi yang lebih luas. Hal ini pun telah diperkuat secara hukum melalui regulasi terbaru.

Prediksi Skor Paraguay vs Australia di Piala Dunia 2026: Berebut Tiket 32 Besar Namun Berpotensi Imbang
Prediksi Skor Swiss vs Kanada di Piala Dunia 2026: Jonathan David Tancap Gas Bombardir Gawang La Nati
Prediksi Skor Turki vs Amerika Serikat di Piala Dunia 2026: The Stars & Stripes Berburu Rekor Sempurna di Fase Grup
Prediksi Skor Jepang vs Swedia di Piala Dunia 2026: Samurai Biru Incar Tiket 32 Besar di Laga Penentuan
Prediksi Skor Afrika Selatan vs Korea Selatan di Piala Dunia 2026: Son Heung-min Wajib Menang Demi Tiket 32 Besar
Prediksi Skor Tunisia vs Belanda di Piala Dunia 2026: Oranje Wajib Menang demi Amankan Tiket 32 Besar
Profil Wakil Ketua BEM UI Fathimah Azzahra yang Konsisten Mengkritik Program MBG
Prediksi Skor Bosnia dan Herzegovina vs Qatar di Piala Dunia 2026: Mimpi Buruk Al-Annabi Belum Usai
Prediksi Skor Curacao vs Pantai di Piala Dunia 2026: Misi Les Éléphants Menang demi Tiket 32 Besar
Prediksi Skor Maroko vs Haiti di Piala Dunia 2026: Achraf Hakimi Cs Siap Pesta Gol di Laga Penentuan
