
Ilustrasi
JawaPos.com - Melakoni pekerjaan sebagai guru memang cita-cita mulia. Tapi menjadi guru honorer tidak ada orang yang berharap. Namun karena keterbatasan kesempatan kerja, akhirnya profesi itu dipilih. Alasannya demi menyambung hidup di samping untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.
Nasib guru honorer di Kota Batam begitu tragis. Sejak empat bulan terakhir mereka terus menanti harapan untuk dapat dibayarkan gaji yang nilainya di bawah upah minimum kota (UMK). Namun pembayaran gaji melalui dana Bantuan Operasi Sekolah (BOS) itu terganjal oleh aturan dari Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri).
Gaji para guru honorer ini harus dibayarkan oleh Bendahara BOS yang diangkat oleh wali kota. Akan tetapi hingga kini bendahara itu belum ada satupun yang dilantik.
Tak ayal pahlawan tanpa tanda jasa itu harus menunggu untuk beberapa waktu lagi. Salah satu tenaga honorer, Rio Alfian hanya bisa mengelus dada karena belum menerima gaji selama hampir empat bulan.
Dia mengaku terpaksa berutang untuk menyambung hidup keluarga. "Mau nggak mau, saya harus berutang kepada teman-teman untuk membiayai keperluan bulanan," kata Rio, seperti dilansir Batam Pos (Jawa Pos Group), Sabtu (8/4).
Pria yang sudah bekerja selama tiga tahun di salah satu SD ini, berharap agar pemerintah bisa membayarkan haknya. "Semoga saja bisa dilunasi, paling tidak bulan ini bisa dibayarkan kepada kami, agar tunggakan dan utang kami bisa segera dilunasi," harapnya.
Tidak digaji bukan berarti mengganggu kinerja dan proses belajar. "Yang penting kita melaksanakan tugas kita dahulu. Meski hak kami belum terpenuhi, kami pentingkan pendidikan anak dahulu, seperti itulah tugas utama tenaga pendidik," terangnya.
Tak jauh berbeda dengan Anis, guru honorer lainnya di SD Kecamatan Sekupang. Di amengaku belum menerima gaji sejak tiga bulan terakhir.
Padahal setiap bulannya ia selalu menerima gaji di bawah Upah Minimum Kota (UMK) Kota Batam. "Tak afdal saya sebut jumlah gaji. Yang pasti sudah tiga bulan belum gajian," ujarnya.
Dia bersama beberapa rekannya sudah memertanyakan perihal gaji yang tak kunjung diterima ke sekolah. Namun sekolah meminta bersabar karena dana untuk gaji belum cair. "Tapi sekolah meminjamkan uang alakadarnya sampai kami benar-benar terima gaji full," jelas Anis.
Menurut dia, untuk memenuhi kehidupan sehari-hari, dia pun mengajar les ke rumah-rumah murid. Meski tak banyak namun hal itu bisa membiayai hidupnya.
"Ada beberapa orang tua yang minta saya mengajar di rumahnya. Dikasih ya alakadarnya juga, tapi alhamdulillah bisa untuk hidup," tuturnya.
Hal senada dikatakan Tri. Ia terpaksa meminjam uang kepada rekan lainnya untuk bertahan hidup. Sebab, untuk meminta uang ke orangtua dia malu karena sudah bekerja. "Untungnya lagi saya tinggal sama orangtua, jadi tak terasa kalau berat. Namun untuk belanja saya pinjam duit teman," imbuh Tri. (rng/cr18/she/iil/JPG)

7 Mall Terbaik di Bandung dengan Banyak Tenant Kuliner dan Spot Foto yang Instagramable
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
Bupati Roby Kurniawan Disebut Netizen Sebagai Bupati R yang Bikin Ayu Aulia Kehilangan Rahim
10 Rekomendasi Kuliner Bakmi Jawa di Surabaya, Pengunjung Sampe Rela Antre Demi Seporsi Kenikmatan Kuliner Malam Satu Ini!
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
Persebaya Surabaya Dilaporkan Capai Kesepakatan dengan Striker Asing, Punya Rekam Jejak di Indonesia!
18 Kuliner Mie Ayam di Yogyakarta yang Rasanya Autentik Tapi Harganya Cocok untuk Semua Kalangan Masyarakat
Pertemuan dengan Suporter, Fariz Julinar Tegaskan PSIS Semarang Siap Bangkit Musim Depan
4 Tempat Makan Siomay Paling Enak di Bandung, Jangan Skip karena Variannya Berlimpah dengan Siraman Bumbu Kacang yang Lezat
