Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 5 Mei 2024 | 18.41 WIB

Pameran O di Galeri ROH Project Jakarta Refleksikan Koeksistensi Manusia-Alam

EKSPERIMENTAL: Instalasi berjudul Hyperpnea Green milik seniman Bagus Pandega terinspirasi dari pengalaman pribadi saat pandemi Covid-19 terjadi. - Image

EKSPERIMENTAL: Instalasi berjudul Hyperpnea Green milik seniman Bagus Pandega terinspirasi dari pengalaman pribadi saat pandemi Covid-19 terjadi.

Melalui karya-karyanya, perupa Bagus Pandega merefleksikan koeksistensi manusia dengan alam. Kerakusan manusia dalam mengeruk sumber daya alam dikritik Bagus lewat patung orang utan yang disepuh dengan nikel.

DI sisi tengah karya seni instalasi yang digantung itu terdapat beberapa Sansevieria yang mengelilingi tabung kompresor. Di lapisan bawahnya, berseliweran sulur slang yang terhubung dengan tabung-tabung jar berisi air dan mineral tambang. Lampu LED warna-warni terpasang di beberapa sisi. Pancaran lampu membuat karya berjudul Hyperpnea Green itu menjadi lebih hidup.

Seni instalasi media baru itu dirancang untuk memproduksi oksigen murni. Sansevieria atau lidah mertua dipilih karena bisa meminimalkan kandungan karbon dioksida dan memaksimalkan oksigen di ruangan. Oksigen yang dihasilkan dari proses tersebut kemudian disalurkan ke tabung-tabung jar. Sansevieria bertugas mendistribusikan oksigen yang dihasilkan secara artifisial.

”Tanaman (Sansevieria, Red) itu jadi controller-nya,” kata Bagus kepada Jawa Pos, Kamis (25/4) lalu. Konsep Hyperpnea Green yang disusun melingkar itu terinspirasi dari metode alami kehidupan yang saling terhubung satu sama lain. ”Inspirasinya ketika saya survive Covid-19,” ungkap perupa lulusan ITB tersebut.

Pandemi Covid-19 yang begitu menakutkan membuat krisis tabung oksigen di sejumlah rumah sakit. Kondisi itu menuntut Bagus untuk merangkai mesin kompresor oksigen secara mandiri demi keamanan keluarga di rumah. ”Nah, kali ini saya kembangkan jadi sebuah instalasi mesin oksigen DIY (do-it-yourself, Red),” ujarnya.

Total ada tujuh karya seni rupa dalam pameran solo Bagus tersebut. Selain Hyperpnea Green, ada karya Ocularflux//1 dan 2, Diasporic Mythology, Nio, Attenuation Coefficient, dan Exponential Attenuation. Tujuh karya itu dipamerkan di galeri ROH Project, Jakarta, dengan judul O pada 13 Maret hingga 28 April lalu.

Selain Hyperpnea Green, seni instalasi berjudul Diasporic Mythology berbentuk lingkaran. Namun, berbeda dengan Hyperpnea Green, Diasporic Mythology memadukan tanaman teh dengan beberapa perangkat alat musik tradisional.

Salah satunya dari Jepang, yakni taishogoto. Alat musik petik asal Negeri Sakura itu menyerupai kecapi. Sementara itu, dari Indonesia ada kecapi sijobang, penting Bali, mandaliong dan penting Lombok.

Menurut Bagus, alat musik tradisional Indonesia itu diyakini berasal dari Jepang yang kemudian terakulturasi dengan budaya masyarakat lokal Indonesia. ”Dan secara turun-temurun dimainkan leluhur kita,” ujarnya.

Karya seni tersebut sebelumnya pernah dipamerkan Bagus di Triennial Seni Kontemporer Asia-Pasifik ke-10 di Brisbane, Australia, pada 2021 lalu. Bagus mengaku tidak sengaja membeli taishogoto di Jepang karena unik. Alat musik itu dimainkan dengan cara menekan tuts seperti di mesin ketik dan mirip dengan kecapi yang ada di Indonesia.

”Dan ternyata di Indonesia ada alat musik yang serupa dengan itu (taishogoto, Red),” ungkapnya. Dia pun tertarik mendalami keterkaitan taishogoto dengan alat musik tradisional berdawai di Indonesia yang sejenis. ”Spekulasi saya, mungkin karena ada perdagangan waktu itu antara VOC dan Jepang dan diperkenalkan ke masyarakat kita,” imbuhnya.

Dalam pameran itu, Bagus juga memamerkan karya seni videografi berjudul Nio. Karya itu menampilkan rekaman patung orang utan berbahan logam kuningan yang disepuh dengan nikel. Penyepuhan lewat proses electroplating itu mengeluarkan gelembung-gelembung udara. ”Saya berhasil dapat nikel-nikel untuk saya proses jadi electroplating,” paparnya.

Lewat Nio, Bagus ingin menyampaikan kritik terhadap aktivitas pertambangan yang kerap mengabaikan lingkungan. Orang utan itu jadi simbol makhluk hidup yang sedang dalam bahaya. ”Sedang dalam tekanan karena ekosistem hidupnya terus berkurang karena kepentingan manusia,” tutur perupa kelahiran 1985 tersebut.

Bagus berencana membuat lagi pameran tentang lingkungan. Apalagi, banyak kesenjangan hubungan manusia dengan alam. Di satu sisi, manusia sangat bergantung dengan alam. Namun, di sisi lain, tak banyak manusia yang turut melestarikan alam. (tyo/c12/dra)

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore