Ilustrasi produksi kelapa sawit di Indonesia (Pixabay/tristantan)
JawaPos.com – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor Indonesia pada Januari 2026 mencapai USD 22,16 miliar atau naik 3,39 persen dibandingkan Januari 2025 (year on year/yoy).
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik, Ateng Hartono, mengungkapkan bahwa peningkatan ekspor secara tahunan terutama ditopang oleh komoditas non-migas.
“Pada bulan Januari tahun 2026 nilai ekspor mencapai USD 22,16 miliar atau naik 3,39 persen jika dibandingkan dengan bulan Januari tahun 2025,” ujar Ateng dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (2/3).
Secara rinci, nilai ekspor migas tercatat sebesar USD 0,89 miliar atau turun 15,62 persen. Penurunan ini berbeda dengan kinerja ekspor non-migas yang justru menunjukkan penguatan.
Sementara itu, nilai ekspor non-migas pada Januari 2026 tercatat sebesar USD 21,26 miliar atau naik 4,38 persen secara tahunan. Kenaikan ini menjadi penopang utama pertumbuhan ekspor nasional di awal tahun.
Ateng menjelaskan, peningkatan nilai ekspor Januari 2026 secara tahunan terutama terjadi pada beberapa komoditas non-migas unggulan. Salah satunya adalah kelompok lemak dan minyak hewan nabati (HS15).
“Yang pertama lemak dan minyak hewan nabati atau HS15 itu naik 46,05 persen. Lemak minyak hewan nabati ini juga memberikan andil terhadap peningkatan total ekspor 4,61 persen,” jelasnya.
Selain itu, ekspor nikel dan barang daripadanya (HS75) juga mengalami kenaikan signifikan. Komoditas ini tercatat naik 42,04 persen dengan andil sebesar 1,43 persen terhadap total peningkatan nilai ekspor.
Tak hanya itu, ekspor mesin dan perlengkapan elektronik serta bagiannya (HS85) juga menguat 16,27 persen. Komoditas ini memberikan kontribusi sekitar 1 persen terhadap kenaikan total nilai ekspor Januari 2026.
Sementara itu, menurut sektornya ekspor non migas per Januari 2026 terdiri atas pertanian, kehutanan, dan perikanan berkontribusi sebesar USD 0,44 miliar. Lalu, sektor pertambangan dan lainnya sebesar USD 2,32 miliar, serta sektor industri pengolahan sebesar USD 18,51 miliar.
"Peningkatan nilai ekspor non-migas utamanya terjadi pada sektor industri pengolahan yang naik secara year on year sebesar 8,19 persen dengan andil sebesar 6,54 persen," rincinya.
Adapun peningkatan secara tahunan ini, lanjut Ateng, utamanya didukung oleh peningkatan ekspor yaitu minyak kelapa sawit, nikel, besi dan baja, semikonduktor dan komponen elektronik lainnya serta juga ekspor kendaraan bermotor roda 4 atau lebih.
"Sedangkan untuk pertanian serta pertambangan dan lainnya mengalami penurunan. Masing-masing untuk pertanian menurun 20,36 persen dan untuk pertambangan dan lainnya menurun 14,59 persen," tandasnya.

11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
Marak Link Live Streaming Gratis Persija Jakarta vs Persib Bandung, Jakmania dan Bobotoh Pilih yang Mana?
KPK Tindaklanjuti Pelaporan Dugaan Korupsi APBD Era Mantan Gubernur Sultra Nur Alam
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
9 Rekomendasi Mall Terbaik di Sidoarjo untuk Belanja, Kuliner, dan Tempat Nongkrong Bersama Keluarga
15 Kuliner Seafood Ternikmat di Surabaya, Hidangan Laut Segar dengan Cita Rasa Khas yang Sulit Dilupakan
Jadwal Moto3 Prancis 2026! Start Posisi 6, Veda Ega Pratama Buka Peluang Podium di Moto3 Prancis 2026
17 Tempat Makan Hidden Gem di Surabaya yang Tidak Pernah Sepi, Rasanya Selalu Konsisten Enak
16 Kuliner Bakso di Yogyakarta yang Rasanya Dinilai Selalu Konsisten Enak, Bikin Para Pengunjung Ketagihan Datang Lagi
