Ilustrasi: TikTok didenda besar di Inggris karena dianggap lalai menjaga data pengguna dibawah umur. (Euronews).
JawaPos.com - Seiring dengan terus berkembangnya media sosial (medsos) dan menghadirkan tantangan baru, TikTok telah meningkatkan upayanya untuk mengatasi konten yang menyesatkan dan berisi kekerasan. Khususnya setelah konflik Israel-Hamas belakangan kembali panas, TikTok turut mengambil langkah mitigasinya.
Meskipun raksasa media sosial lainnya seperti Meta dan X (sebelumnya Twitter) telah melakukan langkah serupa, TikTok berbeda. TikTok secara unik berfokus pada ketangkasan dan keahlian global untuk menangani krisis semacam itu.
Dilansir dari Engadget, aplikasi media sosial ini telah membentuk pusat komando yang terdiri dari tim global yang terdiri dari 40.000 pakar keselamatan atau safety expert. Idenya adalah untuk mengatasi permasalahan ini dari berbagai sudut pandang, dengan mempertimbangkan variasi dan sentimen regional.
Penggabungan tim yang beragam ini bertujuan agar respons TikTok tidak hanya cepat, namun juga sensitif secara budaya dan efektif secara global. TikTok juga berinvestasi dalam moderasi bahasa tertentu dengan mempekerjakan lebih banyak moderator yang fasih berbahasa Arab atau Ibrani.
Tujuannya ada dua yakni mengidentifikasi konten berbahaya dengan lebih baik dan menyediakan sistem pemfilteran yang lebih bernuansa yang mempertimbangkan seluk-beluk linguistik dan budaya yang mungkin terlewatkan oleh algoritme umum.
Hal ini terjadi setelah seorang moderator menggugat perusahaan tersebut pada tahun 2021, mengklaim bahwa pekerjaan tersebut menyebabkan trauma mentalnya. TikTok meresponsnya dengan memperluas dukungan kesejahteraan bagi para moderatornya, tenaga kerja yang sering diabaikan dalam menangani aspek-aspek suram di internet.
Selain itu, TikTok mengambil langkah-langkah teknologi untuk memerangi informasi palsu dan konten grafis. Ini bukan hanya tentang menghapus video; ini juga tentang memastikan apa yang tetap ada untuk alasan yang benar.
Pengguna sekarang akan menemukan layar opt-in untuk konten grafis yang melayani kepentingan publik, dan pembatasan telah ditetapkan pada siapa yang dapat melakukan siaran langsung untuk mengurangi penyebaran informasi yang salah.
Antara tanggal 7 Oktober dan 15 Oktober saja, TikTok menghapus sekitar 500.000 video dan menghentikan 8.000 streaming langsung terkait situasi Israel-Gaza. Ke depannya, perusahaan akan memperkenalkan peringatan misinformasi dalam berbagai bahasa, dimulai dengan bahasa Inggris, Ibrani, dan Arab.
Pendekatan baru yang berlapis-lapis ini menunjukkan bahwa TikTok tidak hanya bereaksi terhadap krisis, namun juga merencanakan masa depan digital yang lebih aman bagi audiens globalnya.