Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 21 Februari 2020 | 23.16 WIB

Kalah oleh Online, Banyak Sentra Wisata Kuliner Surabaya ”Mati Suri”

KOSONG: Suasana SWK Urip Sumoharjo tanpa pembeli kemarin siang. (Edi Susilo/Jawa Pos) - Image

KOSONG: Suasana SWK Urip Sumoharjo tanpa pembeli kemarin siang. (Edi Susilo/Jawa Pos)

JawaPos.com – Tidak semua sentra wisata kuliner (SWK) yang dibina pemkot ramai. Di Surabaya Selatan, beberapa SWK sepi pembeli. Banyak meja yang kosong. Beberapa stan pun menutup usaha.

Misalnya yang terlihat di SWK Urip Sumoharjo. Kemarin, pukul 12.30, di antara puluhan meja dan kursi yang tertata di SWK tengah kota itu, hanya ada dua pembeli yang duduk. Sisanya kursi kosong tanpa pembeli.

Padahal, saat itu jam makan siang. Hanya enam pedagang yang membuka stan. Sembilan stan lain tutup. Bahkan, salah satu stan diselimuti terpal. Siti, salah seorang pedagang, mengatakan, SWK Urip Sumoharjo memang sepi. ”Ramai saat sore dan malam, tapi juga tidak ramai-ramai banget,” jelasnya.

Kondisi serupa terlihat di SWK Jambangan. Di antara 20 stan, yang buka hanya 10 stan. Lainnya tutup lantaran sepi pembeli. ”Kondisi sepi sejak dua tahun terakhir,” ucap Winarni, salah satu pedagang, kemarin siang (20/2).

Jika dibandingkan dengan awal SWK itu dibuka, terjadi penurunan omzet hingga 60 persen. ”Jika dulu bisa menjual puluhan piring nasi, sekarang sangat susah,” paparnya. Banyak faktor yang menjadi penyebabnya. Salah satunya layanan pesan makanan dengan aplikasi online. ”Dulu, saat jam istirahat, banyak orang kantor yang datang ke SWK untuk makan. Nah, sekarang sudah tak ada lagi,” lanjutnya.

Begitu pula SWK Gayungan. Tepatnya di depan Masjid Al Akbar. Ketua SWK Gayungan Urip mengatakan, sepinya pengunjung dimulai 2018. Saat itu mulai banyak pedagang kaki lima (PKL) di sekitaran Masjid Agung. ”Alangkah baiknya jika ada penataan PKL,” ucapnya.

Dia mengungkapkan, jika dulu sehari mampu meraup pemasukan Rp 600 ribu–Rp 700 ribu, kini mendapat Rp 300 ribu saja sudah bagus. Jumlah pedagang di SWK Masjid Agung cukup banyak. Dari total 32 stan, 27 stan terisi pedagang. Sisanya kosong.

Berdasar data yang dihimpun, ada 44 SWK di Surabaya dengan total 998 pedagang. Dari jumlah SWK itu, yang belum optimal atau terisi di bawah 40 persen hanya 10 persen.

Minta Chef Hotel Ajari Pedagang


Sepinya sentra wisata kuliner (SWK) diakui Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kota Surabaya Widodo Suryantoro. Namun, tak semua SWK sepi. Masih banyak SWK yang ramai pembeli.

Widodo menyebutkan beberapa penyebab sepinya SWK. Salah satunya, lokasi kurang strategis. Selain itu, makanan kurang enak. Setiap SWK punya masalah sendiri yang perlu dicarikan solusi. ”Jadi, tidak bisa digeneralisasi,” tuturnya.

Widodo mencontohkan SWK Urip Sumoharjo. Lokasinya terbilang strategis. Tapi, komitmen pedagang di sentra tersebut kurang. ”Pedagang belum konsisten menjual dagangannya. Kadang sehari jualan. Tapi, dua hari kemudian tutup,” paparnya. Tidak hanya itu, masalah SWK Urip Sumoharjo juga terletak pada banyaknya pedagang yang sering berganti menu makanan. ”Biasanya jual tahu tek. Akhirnya jual soto. Jadi susah dapat pelanggan,” terangnya.

Dinas koperasi telah melakukan mapping masing-masing SWK. Nanti pemkot bisa mengetahui kelemahan masing-masing SWK. Dengan begitu, bisa diketahui apa yang perlu dikembangkan.

Untuk menggairahkan SWK, kata Widodo, pihaknya telah menunjuk chef profesional untuk melatih pedagang. Para chef tersebut didatangkan dari beberapa hotel di Surabaya yang telah menjalin kerja sama dengan pemkot. ”Agar menu makanan mereka enak dan menarik,” tuturnya.

Selain menggandeng chef, berbagai universitas digerakkan untuk pembinaan pedagang. Kini pemkot juga terus memberikan fasilitas tambahan seperti single cashier di setiap SWK untuk mempermudah transaksi.

---

Mengapa SWK Sepi?

Penyebab

- letak kurang kurang strategis.

- penjual tidak konsisten dalam berdagang.

- makanan kurang enak.

- maraknya layanan makan berbasis aplikasi.

- Munculnya PKL di sekitar SWK.

Langkah Pemkot

- Maping SWK yang sepi.

- Tambah sarpras pendukung.

- Kerja sama dengan hotel. Minta chef profesional ajari pedagang.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore