Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 29 Mei 2018 | 18.07 WIB

Saingi AS dan Rusia, Tiongkok Kembangkan Senjata Nuklir Generasi Baru

Menurut lembaga penelitian senjata utama Tiongkok, negara ini kini secara agresif mengembangkan senjata nuklir generasi berikutnya, melakukan rata-rata lima kali uji coba senjata nuklir dalam sebulan untuk mensimulasikan ledakan nuklir - Image

Menurut lembaga penelitian senjata utama Tiongkok, negara ini kini secara agresif mengembangkan senjata nuklir generasi berikutnya, melakukan rata-rata lima kali uji coba senjata nuklir dalam sebulan untuk mensimulasikan ledakan nuklir

JawaPos.com - Tiongkok rupanya ingin berpartisipasi dalam kompetisi senjata nuklir baru dengan Amerika Serikat (AS) dan Rusia. Seperti dilansir South China Morning Post, Senin (28/5), ilmuwan Tiongkok kini sedang menjalankan tes simulasi dengan lebih cepat dari Amerika untuk mengembangkan senjata generasi mendatang.


Menurut lembaga penelitian senjata utama Tiongkok, negara ini kini secara agresif mengembangkan senjata nuklir generasi berikutnya, melakukan rata-rata lima kali uji coba senjata nuklir dalam sebulan untuk mensimulasikan ledakan nuklir. Jumlah uji coba senjata nuklir dalam beberapa tahun terakhir bahkan melebihi AS, yang rata-rata melakukannya kurang dari sebulan sekali. Antara September 2014 dan Desember 2017 lalu, Tiongkok melakukan sekitar 200 percobaan laboratorium untuk mensimulasikan ekstrimnya fisika ledakan nuklir.


Akademi Teknik Fisika Tiongkok melaporkan dalam dokumen yang dirilis oleh pemerintah awal tahun ini dan ditinjau oleh South China Morning Post bulan ini. "Penggunaan hulu ledak kecil akan mengarah pada penggunaan yang lebih besar," kata Pakar Angkatan Laut Li Jie.


Meskipun Tiongkok tidak mungkin untuk benar-benar menggunakan senjata nuklirnya, tetap diperlukan untuk mengembangkannya. “Jika negara lain menggunakan senjata nuklir pada kami, kami harus membalas. Ini mungkin mengapa ada penelitian untuk mengembangkan senjata baru,” ujar Li Jie.


Sebagai perbandingan, menurut Lawrence Livermore National Laboratory, AS hanya melakukan 50 uji coba nuklir antara 2012 dan 2017. Tidak dipungkiri, pengembangan senjata nuklir akan meningkatkan risiko konflik nuklir, para ahli memperingatkan. Pejabat Pentagon mengatakan, AS ingin musuh-musuhnya percaya kalau mereka benar-benar menggunakan senjata generasi barunya, seperti hulu ledak taktis yang lebih kecil dan lebih pintar yang dirancang untuk membatasi kerusakan dengan menghancurkan hanya target tertentu.


Selama tiga tahun terakhir, para ilmuwan nuklir Tiongkok telah melakukan lebih banyak uji coba daripada ilmuwan Amerika selama 15 tahun terakhir. Di terowongan yang terletak jauh di bawah pegunungan di Mianyang, Provinsi Sichuan Barat Daya, terdapat fasilitas desain senjata nuklir utama Tiongkok bermarkas.


Suara ledakan keras dari eksperimen ini dapat didengar lebih dari sekali dalam seminggu. Menurut ilmuwan dari State Key Laboratory of Advanced Technology for Materials Synthesis and Processing, Profesor Wang Chuanbin, sejumlah besar uji coba senjata nuklir Tiongkok tidak berarti itu lebih maju daripada AS dalam pengembangan senjata nuklir. "Ada kemungkinan kita sedang terburu-buru untuk mengejar," kata Wang.


Namun, jika uji coba senjata nuklir intensif Tiongkok memicu perlombaan senjata nuklir baru, maka ini bisa memicu tindakan balasan dari AS. "Itu akan menjadi berita buruk bagi semua orang", tambah Wang.

Editor: Dyah Ratna Meta Novia
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore