seseorang yang masih membaca buku fisik. (Magnific)
JawaPos.com - Di era digital, hampir semua hal dapat diakses melalui layar. Musik, film, berita, hingga buku kini tersedia dalam bentuk digital yang praktis. Kehadiran e-reader dan aplikasi membaca telah mengubah kebiasaan banyak orang karena memungkinkan ribuan buku tersimpan dalam satu perangkat yang ringan dan mudah dibawa.
Namun, di tengah kemudahan tersebut, masih banyak orang yang tetap memilih membaca buku fisik. Mereka menikmati sensasi membalik halaman, mencium aroma kertas, hingga melihat deretan buku di rak sebagai bagian dari pengalaman membaca yang tidak tergantikan.
Pilihan ini sering dianggap sekadar masalah selera. Padahal, sejumlah penelitian dalam bidang psikologi dan ilmu kognitif menunjukkan bahwa preferensi terhadap buku fisik dapat berkaitan dengan cara seseorang memproses informasi, membangun emosi, serta menjalani kehidupan sehari-hari. Tentu saja, tidak semua pembaca buku fisik memiliki karakter yang sama, tetapi terdapat beberapa kecenderungan yang cukup sering ditemukan.
Dilansir dari Expert Editor pada Selasa (7/7), terdapat lima ciri khas yang menurut psikologi lebih banyak dijumpai pada orang yang masih setia membaca buku fisik.
1. Lebih Menikmati Pengalaman yang Bersifat Nyata (Tangible Experience)
Buku fisik menawarkan pengalaman multisensori yang tidak bisa sepenuhnya digantikan oleh perangkat digital. Saat membaca, seseorang tidak hanya melihat tulisan, tetapi juga merasakan tekstur sampul, berat buku, hingga suara halaman yang dibalik.
Dalam psikologi, pengalaman yang melibatkan lebih banyak indra sering kali meningkatkan keterikatan emosional terhadap suatu aktivitas. Hal ini membuat proses membaca terasa lebih "hadir" dan lebih bermakna.
Orang yang menyukai buku fisik biasanya lebih menghargai pengalaman nyata dibandingkan pengalaman virtual. Mereka cenderung menikmati aktivitas yang melibatkan sentuhan langsung, seperti menulis dengan tangan, membuat catatan di buku, atau mengoleksi benda-benda yang memiliki nilai sentimental.
Bagi mereka, membaca bukan sekadar memperoleh informasi, tetapi juga menikmati seluruh prosesnya.
2. Memiliki Kemampuan Fokus yang Lebih Baik
Salah satu tantangan terbesar saat membaca menggunakan perangkat digital adalah banyaknya gangguan. Notifikasi pesan, media sosial, email, hingga aplikasi lain dapat mengalihkan perhatian hanya dalam hitungan detik.
Sebaliknya, buku fisik tidak menawarkan distraksi semacam itu. Ketika seseorang membuka sebuah novel atau buku pengetahuan, satu-satunya aktivitas yang dilakukan adalah membaca.
Psikologi kognitif menjelaskan bahwa perhatian manusia memiliki kapasitas terbatas. Semakin sering perhatian terpecah, semakin sulit otak menyimpan informasi secara mendalam.
Karena itu, orang yang terbiasa membaca buku fisik sering kali melatih kemampuan fokus dalam jangka waktu yang lebih panjang. Mereka lebih nyaman menikmati aktivitas tanpa harus terus-menerus berpindah antara berbagai sumber informasi.
Bukan berarti semua pengguna e-reader sulit berkonsentrasi, tetapi lingkungan membaca yang bebas gangguan pada buku fisik memang mendukung fokus yang lebih stabil.
3. Cenderung Mengingat Informasi Lebih Baik
Beberapa penelitian menemukan bahwa membaca dari buku fisik dapat membantu pembaca memahami struktur isi bacaan dengan lebih baik.
Saat membaca buku cetak, otak tidak hanya mengingat isi tulisan, tetapi juga posisi informasi di dalam halaman, ketebalan buku yang sudah dibaca, hingga letak suatu bab. Isyarat visual dan spasial ini membantu proses mengingat.
Fenomena tersebut dikenal sebagai spatial memory atau memori spasial, yaitu kemampuan otak menggunakan posisi fisik sebagai petunjuk untuk mengingat informasi.
Tidak mengherankan jika banyak pelajar, mahasiswa, maupun profesional masih memilih buku cetak ketika mempelajari materi yang kompleks. Mereka merasa lebih mudah mengingat konsep, membuat hubungan antaride, dan meninjau kembali bagian-bagian penting.
4. Lebih Menghargai Kesabaran dan Proses
Budaya digital identik dengan kecepatan. Segala sesuatu ingin diperoleh secara instan, mulai dari berita, hiburan, hingga informasi singkat.
Sebaliknya, membaca buku fisik mengajarkan ritme yang lebih lambat. Pembaca meluangkan waktu untuk duduk, membuka halaman demi halaman, dan menikmati cerita atau penjelasan tanpa terburu-buru.
Dalam psikologi, kemampuan menunda kepuasan (delayed gratification) sering dikaitkan dengan pengendalian diri yang baik, ketekunan, serta kemampuan mencapai tujuan jangka panjang.
Orang yang gemar membaca buku fisik sering kali merasa nyaman menjalani proses secara bertahap. Mereka tidak selalu mencari hasil yang instan, tetapi menikmati perjalanan menuju pemahaman yang lebih mendalam.
Kebiasaan ini juga dapat tercermin dalam kehidupan sehari-hari, misalnya ketika menyelesaikan pekerjaan, mempelajari keterampilan baru, atau mengejar target pribadi.
5. Memiliki Ikatan Emosional yang Kuat terhadap Buku
Bagi sebagian orang, buku bukan sekadar kumpulan halaman berisi tulisan. Buku dapat menjadi pengingat suatu masa, hadiah dari orang tersayang, atau simbol pencapaian dalam hidup.
Psikologi mengenal konsep emotional attachment, yaitu keterikatan emosional terhadap suatu objek karena pengalaman yang menyertainya.
Seorang pembaca mungkin masih mengingat buku pertama yang membuatnya jatuh cinta pada dunia literasi, novel yang dibaca saat masa sekolah, atau buku motivasi yang mengubah cara pandangnya terhadap kehidupan.
Ikatan emosional semacam ini lebih mudah terbentuk pada benda fisik karena memiliki kehadiran nyata yang dapat disentuh, dilihat, bahkan disimpan selama bertahun-tahun.
Tidak heran jika banyak pecinta buku merasa sulit menjual atau membuang koleksi mereka meskipun sudah selesai dibaca.
Buku Fisik dan E-Reader Sama-Sama Memiliki Kelebihan
Meskipun buku fisik memiliki berbagai keunikan dari sisi psikologis, bukan berarti e-reader adalah pilihan yang lebih buruk.
E-reader menawarkan banyak keuntungan, seperti lebih ringan dibawa bepergian, mampu menyimpan ribuan buku dalam satu perangkat, menyediakan fitur pencarian cepat, serta memungkinkan pembaca menyesuaikan ukuran huruf agar lebih nyaman.
Di sisi lain, buku fisik memberikan pengalaman membaca yang lebih imersif bagi sebagian orang, membantu mengurangi gangguan digital, dan memberikan kepuasan emosional yang sulit digantikan.
Pilihan terbaik pada akhirnya bergantung pada kebutuhan, kebiasaan, dan tujuan masing-masing pembaca.
Penutup
Cara seseorang memilih membaca sering kali mencerminkan preferensi psikologis yang lebih luas. Jika Anda masih setia membaca buku fisik, mungkin Anda termasuk pribadi yang menikmati pengalaman nyata, mampu mempertahankan fokus lebih lama, menghargai proses, memiliki daya ingat yang baik terhadap informasi yang dipelajari, serta membangun ikatan emosional yang kuat dengan buku.
Namun, penting diingat bahwa kelima ciri ini merupakan kecenderungan, bukan aturan mutlak. Tidak semua pembaca buku fisik memiliki seluruh karakter tersebut, dan banyak pengguna e-reader yang juga menunjukkan sifat-sifat serupa.
Yang paling penting bukanlah media yang digunakan, melainkan kebiasaan membaca itu sendiri. Baik melalui buku cetak maupun perangkat digital, membaca tetap menjadi salah satu cara terbaik untuk memperluas wawasan, meningkatkan kemampuan berpikir kritis, dan terus mengembangkan diri sepanjang hayat.
***