
SELALU RAMAI: Ribuan pengunjung memenuhi Pasar Keramat setiap kali buka. Pasar ini memang tidak beroperasi setiap hari. (SOPIAN KURNIAWAN/JAWA POS RADAR MOJOKERTO)
Kawasan Pacet tak hanya dikenal karena ragam destinasi wisata yang menyajikan aneka wahana alam maupun buatan. Di sana juga terdapat objek yang menyajikan nuansa berbeda. Salah satunya Pasar Keramat, sebuah pasar wisata yang mengusung nuansa masa lampau.
LAHAN yang dulunya dipenuhi rumpun bambu itu kini berhasil membawa Desa Warugunung, Kecamatan Pacet, berevolusi menjadi destinasi favorit bagi wisatawan luar kota.
Berkat pengembangan yang dilakukan oleh kelompok masyarakat (pokmas) dan semua elemen di desa tersebut, lahan seluas 1,7 hektare yang terletak di Dusun Wonokerto itu kini telah berubah menjadi pasar wisata dengan nuansa tempo dulu.
Ya, nuansa jadul benar-benar terasa di pasar itu. Jadwal bukanya tidak setiap hari, mirip pasar-pasar desa masa lalu. Hari pasarannya adalah Minggu Wage dan Minggu Kliwon. Yang dijual adalah aneka kuliner tradisional hingga hasil usaha para pelaku UMKM.
SUDAH JARANG: Makanan dan minuman yang dijual di Pasar Keramat ditempatkan dalam wadah yang terbuat dari tanah liat. (SOPIAN KURNIAWAN/JAWA POS RADAR MOJOKERTO)
Nuansa tradisional di Pasar Keramat semakin terasa dengan sajian pagelaran seni dan budaya tradisional. Belum lagi, pernak-pernik berbahan bambu yang menambah kesan zaman dulu.
’’Bulan Desember nanti, Pasar Keramat sudah dua tahun beroperasi. Alhamdulillah, pengunjungnya selalu ramai dan meningkat setiap minggu,’’ ungkap Kepala Desa Warugunung, Agus Sudarmaji.
Selama dua tahun beroperasi, Pasar Keramat tidak sekadar menjadi wisata alternatif, tapi juga menjadi destinasi wisata favorit pengunjung luar kota. Terbukti, ribuan pengunjung tercatat berjubel di setiap pasar Keramat beroperasi.
Konsep kembali ke masa lampau itu sukses menjadikan Pasar Keramat sebagai ikon baru wisata favorit di Pacet.
TETAP DIJAGA: Kawasan pemakaman yang terletak di area Pasar Keramat masih tetap dijaga. (SOPIAN KURNIAWAN/JAWA POS RADAR MOJOKERTO)
Efeknya, perekonomian warga yang ikut andil di dalam Pasar Keramat kini semakin terdongkrak. Setidaknya, ada 70 warga yang ikut berdagang dengan beragam kuliner dan kerajinan yang ditawarkan.
Agar dapat terus beroperasi, pengelolaan Pasar Keramat kini dikerjakan pokmas secara profesional. Bekerja sama dengan Yayasan Rumah Bambu Lestari dan sebuah perguruan tinggi, puluhan pedagang dan warga turut berkontribusi dalam pengelolaan. Dengan konsep pembagian hasil keuntungan dari beragam sektor, mulai dari kuliner, kerajinan tangan, hingga parkir.
’’Pengelolaan berdasarkan pembagian keuntungan, yakni 60 persen untuk pedagang, 30 persen untuk operasional manajemen, dan 10 persen untuk kegiatan sosial. Efek ekonominya juga meluas ke warga dusun sekitar, termasuk melalui parkir,’’ tandasnya.Pemdes juga memfasilitasi pengembangan destinasi itu dengan membenahi akses menuju pasar. (far/fen/ris)

Kasus Hantavirus di Indonesia, Kemenkes: Saat ini Ada 2 Kasus Suspek di Jakarta dan Yogyakarta
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
Jadwal Persipura vs Adhyaksa FC Play-Off Promosi Super League, Siaran Langsung, dan Live Streaming
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
12 Kuliner Tahu Campur Paling Enak di Surabaya dengan Kuah Petis Kental yang Selalu Jadi Favorit Warga Lokal hingga Wisatawan
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Oleh-oleh Paling Ikonik dan Khas dari Kota Surabaya, Rasanya Autentik dan Tiada Duanya, Wajib Kamu Bawa Pulang!
7 Hidden Gem Kuliner Sunda di Bogor yang Enak dan Wajib Dicoba, Suasana Asri dan Menunya Autentik
12 Rekomendasi Kuliner Malam di Surabaya dengan View Terbaik untuk Nongkrong Santai dan Pemandangan yang Memukau
