
Kupang Lontong merupakan makanan khas Sidoarjo./ Sumber Foto: X/@GNFI
JawaPos.Com – Kupang lontong merpakan satu hidangan spesial dari Sidoarjo yang terdiri dari kupang, potongan lontong, dan tambahan lentho (jenis gorengan yang terbuat dari singkong parut, kacang tolo, serta parutan kelapa yang dibumbui).
Kupang termasuk dalam jenis kerang laut dan memiliki bentuk oval hampir serupa, cenderung lonjong, serta dilapisi oleh cangkang. Warna tubuh kupang bervariasi antara putih kekuningan dan cokelat kehitaman.
Perpaduan antara bumbu petis, bawang putih segar, dan kupang, disajikan dengan kuah asam pedas manis yang menyegarkan, menciptakan cita rasa yang istimewa dan enak. Karena itu, kupang lontong sangat pas dinikmati sebagai hidangan siang ketika cuaca sedang panas.
Menurut Ir. Abriyani dalam jurnal Sejarah dan Keberlanjutan Kupang Lontong di Kabupaten Sidoarjo oleh Rahma Sasi Safrida, sejarah hidangan kupang lontong telah ada sejak zaman dahulu dan dikenal sebagai hidangan khas di wilayah pesisir, khususnya bermula dari daerah Balongdowo, Candi, Sidoarjo.
Namun, jejak lebih lanjut mengenainya sulit ditelusuri karena hidangan ini telah diwariskan secara turun-temurun sejak puluhan tahun lalu.
Tiap tahun penduduk Balongdowo mengunjungi makam Dewi Sekardadu, yang diyakini sebagai Dewi Kemakmuran, untuk memohon agar hasil laut, termasuk kupang lontong, melimpah.
Baca Juga: Resep Sajian Khas Perayaan Cap Go Meh: Lontong, Opor Ayam, dan Telur Pindang dalam Satu Piring
Dewi Sekardadu yakni Putri Blambangan meninggal di laut dan jasadnya ditemukan oleh para nelayan kupang dari Balongdowo. Sejak itu, tradisi upacara Nyadran dilakukan oleh nelayan kupang Balongdowo setiap bulan Maulud menjelang Ramadhan.
Dari kisah Dewi Sekardadu yang jasadnya ditemukan oleh nelayan kupang, dapat disimpulkan bahwa di desa Balongdowo, masyarakat telah mengolah hasil laut seperti kupang sejak berabad-abad yang lalu.
Dari sejumlah fakta tersebut, dapat disimpulkan bahwa Kupang Lontong telah ada sejak puluhan bahkan ratusan tahun yang lalu, meskipun tidak ada catatan atau saksi hidup yang memudahkan penelusuran sejarahnya.
Perkembangan Kupang Lontong dari dulu hingga sekarang, dinilai tumbuh dengan pesat, namun tidak ada inovasi baru.
Tingkat konsumsi kupang lontong di masyarakat bervariasi. Ada yang sangat menyukainya dan mungkin mengonsumsinya hingga dua kali seminggu, sementara yang lain mungkin hanya sesekali atau menganggapnya sebagai hidangan yang kurang penting.
Sebaliknya, ada juga yang sama sekali tidak menyukainya karena alasan kebersihan dan kekhawatiran akan pencemaran limbah pada hewan laut tersebut. Namun, meskipun ada beberapa yang tidak menyukainya, tingkat konsumsi kupang lontong secara keseluruhan tetap stabil.
***

14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
Pesan Haru Milos Raickovic ke Bonek! Gelandang Persebaya Surabaya Sudah Berikan Segalanya Musim Ini
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Korban Dicekoki Miras Hingga Tak Sadar, Pelaku Pemerkosaan Cipondoh Masih Dicari
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
