
BANYAK BULE: Meski sudah berusia hampir 80 tahun, wisata Air Panas Banjar hingga kini masih eksis. Ini tak lepas dari penataan yang dilakukan pengelola.
Kolam pemandian yang menawarkan sensasi air panas itu dibangun sebelum masa kependudukan Jepang. Hingga kini, keberadaannya masih terjaga. Bahkan menjadi salah satu destinasi andalan Kabupaten Buleleng.
TAK sulit menuju destinasi yang satu ini. Banyak rambu penunjuk di sepanjang Jalan Raya Singaraja–Gilimanuk yang menjadi pemandu para wisatawan untuk datang ke sana.
Kalaupun tak mengandalkan rambu, traveler tetap tidak mengalami kesulitan. Cukup bertanya kepada warga setempat. Sebab, mayoritas masyarakat di Buleleng sudah sangat familier dengan objek wisata yang ikon utamanya air panas tersebut.
Kolam air panas peninggalan Jepang itu memang begitu konsisten menjadi salah satu destinasi favorit. Hal tersebut tak terlepas dari sederet daya tarik yang dimiliki. Salah satunya adalah pancuran dari ketinggian 1,75 meter.
Saat air panas turun mengenai badan pengunjung, mereka serasa tengah menikmati sensasi ”dipijat”. Selain itu, air panas alami dari sumber tersebut memberikan nuansa relaksasi bagi siapa pun yang menikmatinya. Karena itu, jangan kaget jika Anda harus rela antre untuk merasakan sensasi tersebut, terutama saat memasuki akhir pekan. Sebab, pengunjungnya selalu membeludak.
Ida Made Tamu, manajer Yayasan Yeh Panes Nirmala Banjar, menuturkan, pada hari biasa tingkat kunjungan ke Air Panas Banjar hanya berkisar 60–70 orang. ”Sementara pada akhir pekan, kunjungan mencapai 150 orang per hari,” katanya.
Bahkan, sebelum pandemi Covid-19, tingkat kunjungan wisata Air Panas Banjar berkisar 200 hingga 500 orang per hari. ”Jika dibandingkan sebelum pandemi, jumlah pengunjung saat ini sebenarnya masih lebih sedikit,” ujarnya.
Sangat wajar jika destinasi tersebut begitu populer. Selain menawarkan sensasi terapi kesehatan, objek wisata itu memiliki sejarah panjang. Berdasar cerita warga, sumber air panas itu ada sejak 1930-an. Warga biasa menggunakannya untuk mandi pada sore hari. Saat masa kependudukan Jepang, para tentara Nippon menguasai kawasan tersebut. Alhasil, warga tak berani mendekat.
Pasukan Negeri Sakura lantas membenahi sumber mata air panas itu. Mereka membuat empat buah kolam. Tiga di antaranya berada di sisi timur sungai. Sementara satu kolam lagi berada di sisi barat sungai.
Kolam-kolam tersebut berukuran 3 x 1 meter. Waktu itu dipakai untuk rekreasi para prajurit dan perwira Jepang. Begitu Indonesia merdeka, Jepang pun angkat kaki. Pemandian itu akhirnya dikuasai lagi oleh masyarakat.
Pada 1984 Yayasan Yeh Panes Nirmala Banjar mengambil alih pengelolaan kolam-kolam itu. Yayasan melakukan penataan di atas lahan seluas 22 are. Sejumlah kolam diperluas agar lebih nyaman. Hanya satu kolam yang dipertahankan sesuai bentuk aslinya.
’’Pada 1986 kami resmi beroperasi. Awalnya hanya pakai sistem donasi. Belakangan baru kerja sama dengan pemerintah daerah,” kata Ida Made Tamu.
Kolam itu merupakan hasil penataan oleh pengelola pada 1996 silam, seiring meningkatnya jumlah kunjungan. Ada dua kolam pribadi yang bisa dinikmati wisatawan, terutama rombongan/keluarga.
’’Sengaja kami buat kolam yang kesannya lebih privat. Karena permintaan dari pengunjung. Kolam ini diminati wisatawan mancanegara. Seperti dari Tiongkok, Jepang, dan Korea,’’ kata Ida Made Tamu.
Sensasi berendam di kolam itu cukup berbeda. Bila Anda keluarga yang tak ingin diganggu wisatawan lain, kolam bernuansa jacuzzi itu cocok untuk dipilih. Juga, wisatawan yang ingin menikmati privasi. Suasananya tentu lebih tenang.

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
7 Hidden Gem Kuliner Sunda di Bogor yang Enak dan Wajib Dicoba, Suasana Asri dan Menunya Autentik
13 Gudeg Paling Enak di Solo dengan Harga Terjangkau, Rasa Premium, Cocok untuk Kulineran Bareng Keluarga!
12 Rekomendasi Kuliner Malam di Surabaya dengan View Terbaik untuk Nongkrong Santai dan Pemandangan yang Memukau
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Sejarah Die Roten Selalu Lolos dari Semifinal Liga Champions, Masih Dominan Lawan Klub Ligue 1
