
NAIK DAUN: Durian pelangi yang ditunjukkan Rusman banyak dijual siswa MTs Al Kautsar di Dusun Bomo. (Puguh Sujiatmiko/Jawa Pos)
Desa Duren, Kecamatan Sawahan, Nganjuk, begitu identik dengan durian. Sampai-sampai, siswa sekolah di sana fasih berbudi daya hingga berbisnis buah tersebut. Mereka juga punya komoditas unggulan. Durian bidadari.
SESUAI dengan namanya, aktivitas masyarakat di Desa Duren tak bisa lepas dari durian. Bukan hanya warga yang mayoritas petani dan penjual, anak-anak di desa itu juga sudah diajak bergelut dengan buah berduri tersebut.
Bahkan, tidak sedikit anak-anak di desa itu yang sudah diberi tanggung jawab memelihara pohon-pohon durian milik keluarga. Jangan heran jika bocah-bocah itu nyambi jualan saat bersekolah. Mereka sudah terbiasa mengandalkan uang jajan dari hasil berjualan durian.
Bahkan, di desa tersebut, tepatnya di Dusun Bomo, ada satu sekolah yang memfasilitasi siswanya yang sebagian ’’pengusaha’’ durian untuk bisa menjajakan dagangannya. Yakni, MTs Al Kautsar.
Pada tiap masa panen raya, setiap hari sebagian siswa di madrasah itu membawa durian. Buah bawaan anak-anak tersebut ditempatkan di lapak-lapak yang dibuat di depan madrasah.
Kepala MTs Al Kautsar Rusman menegaskan bahwa pihak sekolahlah yang menginisiatori upaya itu. ”Supaya hasil panen dari kebun orang tua mereka cepat laku. Sehingga bisa meringankan beban sehari-hari,” katanya.
Sebab, sudah menjadi tradisi anak-anak di dusun tersebut dipasrahi merawat sendiri pohon duriannya. Selain itu, ada misi lain yang ingin dicapai. Dengan cara itu, siswa-siswa di madrasah tersebut bisa mandiri. ”Waktu panen, ya mereka sendiri yang dapat untungnya,” papar Rusman yang juga melakukan hal serupa pada anaknya.
https://www.youtube.com/watch?v=JlgvKrhCw0o
Beragam jenis durian lokal bisa ditemui di lapak sekolah itu. Namun, saat ini, ada satu durian yang sedang naik daun. Yakni, durian bidadari. Nama lainnya adalah Durio zibhetinus. Varietas ini jadi salah satu unggulan yang dijual para siswa di sana.
Durian satu ini punya ciri khas yang jarang ditemui pada jenis lain. Yakni, warna kulitnya yang gelap keungu-unguan. Berbeda dengan durian lain yang biasanya berwarna hijau atau kuning. ”Warga di Dusun Bomo menyebut kencono wungu,” ujarnya.
Durian bidadari memiliki karakter rasa yang kuat. Manisnya legit pol. Dengan sedikit pahit di akhir rasa. Dagingnya juga tebal. Konturnya lembut dan lengket.
Saat ini, di Dusun Bomo, sedikitnya sudah ada 2 ribu pohon penghasil durian bidadari. Namun, meski jumlah pohonnya banyak, tidak mudah bisa mendapatkan durian tersebut. Sebab, durian ini kerap jadi rebutan.
Tak cuma di Kecamatan Sawahan, geliat usaha budi daya maupun bisnis durian di wilayah lain di Nganjuk begitu terasa. Paling banyak ditemukan di kawasan pegunungan Wilis. ”Soal rasa, tidak diragukan, di sini banyak kualitas unggul,” ujar Asmara Hadi, ketua Komunitas Terminal Durian Nganjuk.

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mobil Plat L Ringsek di Malang Diserang 300 Orang? Polres Malang Turun Tangan, Ini Fakta Terbarunya
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Rekomendasi Kuliner Mantap Dekat Bandara Juanda Surabaya, Cocok untuk Isi Waktu Sebelum Check-in
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
12 Kuliner Mie Kocok di Bandung Paling Enak dengan Kuah Gurih yang Bikin Nagih Sejak Suapan Pertama
