
DIPROSES: Seperti inilah pemindangan ikan tangkapan para nelayan di Pusat Pemindangan Ikan (PPI) Desa Kusamba. (Ayu Putri/Jawa Pos Radar Bali)
Kemampuan memanfaatkan potensi menjadi salah satu kunci keberhasilan sebuah objek wisata. Contohnya adalah pantai yang terletak di Kecamatan Dawan ini. Meski wajahnya tak seindah Kuta, ada magnet kuat yang membuat wisatawan berduyun-duyun datang ke sana.
---
PEMBUATAN garam di Pantai Karangnadi, Desa Kusamba, agak keluar dari pakem. Lazimnya, para petani garam menyiram-nyiramkan air laut ke pasir di tambak-tambak garam pada pagi hari.
Namun, di sana proses yang menjadi awal dimulainya pembuatan garam tersebut tak hanya dilakukan pada pagi hari. Bisa siang atau sore hari. Proses itu tak hanya dilakukan petani, tetapi juga wisatawan yang datang ke sana.
Ya, pembuatan garam itulah yang menjadi salah satu magnet kuat yang mampu menarik wisatawan berkunjung ke sana. Terutama para traveler mancanegara. Mereka ingin mencoba aktivitas yang mungkin jarang ditemui di tempat asalnya.
Untuk memenuhi rasa penasaran wisatawan yang datang, para petani rela memikul berliter-liter air laut ke lokasi tambak garam. Dari usaha tersebut, para petani mendapat berkah besar walau para wisatawan tak dikenai tiket atau tarif masuk. Berkah apa itu? Para wisatawan memborong garam hasil produksi para petani tanpa proses tawar-menawar.
Menurut Ketut Kaping, salah seorang petani garam tradisional Kusamba, para wisatawan, terutama mancanegara, mulai berdatangan ke Pantai Karangnadi untuk melihat pembuatan garam tradisional Kusamba sekitar 2000.
”Itu terjadi setelah ada warga Ubud, Gianyar, yang memperkenalkan garam Kusamba ke Jepang. Dari situ akhirnya mulai terkenal. Katanya, rasanya khas, tidak pahit, dan natural,” ungkapnya.
Tak sekadar melihat pembuatannya, sebagian wisatawan juga memesan garam tradisional Kusamba dalam jumlah besar (bahkan hingga ratusan kilogram) untuk dibawa ke Jepang, Italia, Australia, dan negara lainnya.
Dari situ pula, harga garam Kusamba terus merangkak naik. Saat ini harganya berkisar Rp 15 ribu hingga Rp 40 ribu per kilogram, bergantung kualitas garam yang dihasilkan. Garam kualitas I biasanya digunakan untuk memasak. Sementara, garam kualitas II dipakai untuk spa.
”Saya memiliki pelanggan warga negara asing. Ada sekitar 10 orang yang biasanya memesan dalam jumlah besar untuk hotel dan spa milik mereka. Hanya, sejak pandemi Covid-19, pesanan didominasi dari dalam negeri,” ungkap pria yang pernah memperlihatkan teknik membuat garam tradisional Kusamba hingga ke Italia tersebut.
Agar tak ditinggal pelanggan, menjaga kualitas garam menjadi hal yang wajib dilakukan para petani. Karena itu, mereka tidak pernah mencampur garam tradisional Kusamba dengan garam lain. Sebab, pelanggan luar negeri sangat tahu tentang itu. ”Dulu pernah saya campur dengan sedikit garam Jawa. Pelanggan
saya dari Jepang ternyata tahu. Mulai saat itu, dia tidak pernah ke sini lagi. Makanya, saya tidak berani lagi mencampur dengan garam lain walau sedikit,” ujarnya.
Melihat daya tarik wisata dari proses produksi garam Kusamba, pemerintah setempat mulai menata kawasan pantai tersebut. Misalnya, membuat tanggul agar ombak Pantai Karangnadi yang sangat besar di waktu-waktu tertentu tak terus menggerus pantai.
Hanya, selama pembangunan tanggul berlangsung, para petani sulit membuat garam. Alhasil, kapasitas produksinya sementara berkurang. ”Semoga pengerjaan tanggul ini segera selesai,” tuturnya.

5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
7 Mall Terbaik di Bandung dengan Banyak Tenant Kuliner dan Spot Foto yang Instagramable
Persebaya Surabaya Dilaporkan Capai Kesepakatan dengan Striker Asing, Punya Rekam Jejak di Indonesia!
Bupati Roby Kurniawan Disebut Netizen Sebagai Bupati R yang Bikin Ayu Aulia Kehilangan Rahim
11 Tempat Berburu Sarapan Bubur Ayam Paling Enak di Bandung, Layak Masuk Daftar Wisata Kuliner!
10 Rekomendasi Bubur Ayam Paling Favorit di Surabaya, Terkenal Lezat dan Jadi Langganan Pecinta Kuliner Pagi
10 Rekomendasi Kuliner Bakmi Jawa di Surabaya, Pengunjung Sampe Rela Antre Demi Seporsi Kenikmatan Kuliner Malam Satu Ini!
14 Kuliner Nasi Goreng Paling Enak di Bandung, Tiap Hari Pelanggan Rela Antre Demi Menikmati Kelezatan Kuliner Malam Satu Ini!
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
