Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 15 Oktober 2022 | 23.48 WIB

Mengunjungi Pantai Karangnadi, Kabupaten Klungkung, Bali

DIPROSES: Seperti inilah pemindangan ikan tangkapan para nelayan di Pusat Pemindangan Ikan (PPI) Desa Kusamba. (Ayu Putri/Jawa Pos Radar Bali) - Image

DIPROSES: Seperti inilah pemindangan ikan tangkapan para nelayan di Pusat Pemindangan Ikan (PPI) Desa Kusamba. (Ayu Putri/Jawa Pos Radar Bali)

Kemampuan memanfaatkan potensi menjadi salah satu kunci keberhasilan sebuah objek wisata. Contohnya adalah pantai yang terletak di Kecamatan Dawan ini. Meski wajahnya tak seindah Kuta, ada magnet kuat yang membuat wisatawan berduyun-duyun datang ke sana.

---

PEMBUATAN garam di Pantai Karangnadi, Desa Kusamba, agak keluar dari pakem. Lazimnya, para petani garam menyiram-nyiramkan air laut ke pasir di tambak-tambak garam pada pagi hari.

Namun, di sana proses yang menjadi awal dimulainya pembuatan garam tersebut tak hanya dilakukan pada pagi hari. Bisa siang atau sore hari. Proses itu tak hanya dilakukan petani, tetapi juga wisatawan yang datang ke sana.

Ya, pembuatan garam itulah yang menjadi salah satu magnet kuat yang mampu menarik wisatawan berkunjung ke sana. Terutama para traveler mancanegara. Mereka ingin mencoba aktivitas yang mungkin jarang ditemui di tempat asalnya.

Untuk memenuhi rasa penasaran wisatawan yang datang, para petani rela memikul berliter-liter air laut ke lokasi tambak garam. Dari usaha tersebut, para petani mendapat berkah besar walau para wisatawan tak dikenai tiket atau tarif masuk. Berkah apa itu? Para wisatawan memborong garam hasil produksi para petani tanpa proses tawar-menawar.

Menurut Ketut Kaping, salah seorang petani garam tradisional Kusamba, para wisatawan, terutama mancanegara, mulai berdatangan ke Pantai Karangnadi untuk melihat pembuatan garam tradisional Kusamba sekitar 2000.

”Itu terjadi setelah ada warga Ubud, Gianyar, yang memperkenalkan garam Kusamba ke Jepang. Dari situ akhirnya mulai terkenal. Katanya, rasanya khas, tidak pahit, dan natural,” ungkapnya.

Tak sekadar melihat pembuatannya, sebagian wisatawan juga memesan garam tradisional Kusamba dalam jumlah besar (bahkan hingga ratusan kilogram) untuk dibawa ke Jepang, Italia, Australia, dan negara lainnya.

Dari situ pula, harga garam Kusamba terus merangkak naik. Saat ini harganya berkisar Rp 15 ribu hingga Rp 40 ribu per kilogram, bergantung kualitas garam yang dihasilkan. Garam kualitas I biasanya digunakan untuk memasak. Sementara, garam kualitas II dipakai untuk spa.

”Saya memiliki pelanggan warga negara asing. Ada sekitar 10 orang yang biasanya memesan dalam jumlah besar untuk hotel dan spa milik mereka. Hanya, sejak pandemi Covid-19, pesanan didominasi dari dalam negeri,” ungkap pria yang pernah memperlihatkan teknik membuat garam tradisional Kusamba hingga ke Italia tersebut.

Agar tak ditinggal pelanggan, menjaga kualitas garam menjadi hal yang wajib dilakukan para petani. Karena itu, mereka tidak pernah mencampur garam tradisional Kusamba dengan garam lain. Sebab, pelanggan luar negeri sangat tahu tentang itu. ”Dulu pernah saya campur dengan sedikit garam Jawa. Pelanggan

saya dari Jepang ternyata tahu. Mulai saat itu, dia tidak pernah ke sini lagi. Makanya, saya tidak berani lagi mencampur dengan garam lain walau sedikit,” ujarnya.

Melihat daya tarik wisata dari proses produksi garam Kusamba, pemerintah setempat mulai menata kawasan pantai tersebut. Misalnya, membuat tanggul agar ombak Pantai Karangnadi yang sangat besar di waktu-waktu tertentu tak terus menggerus pantai.

Hanya, selama pembangunan tanggul berlangsung, para petani sulit membuat garam. Alhasil, kapasitas produksinya sementara berkurang. ”Semoga pengerjaan tanggul ini segera selesai,” tuturnya.

Segara Kusamba Jadi Favorit Penggemar Mancing


SELAIN Karangnadi, pantai lain di Kecamatan Dawan yang menjadi favorit wisatawan mancanegara untuk menyaksikan pembuatan garam adalah Pantai Belatung. Letaknya di Desa Pesinggahan. Tak jauh beda. Di sana para traveler bisa menikmati sekaligus belajar tentang semua proses produksi garam. Mulai awal hingga akhir.

Bagi wisatawan yang ingin mencari suasana lain, ada satu pantai lagi yang letaknya tak jauh dari Karangnadi. Yakni, Pantai Segara Kusamba. Jaraknya hanya sekitar 2,7 kilometer. Pantai tersebut merupakan salah satu destinasi favorit para pemancing.

Wajar, ada sejumlah daya tarik yang membuat para penghobi mancing begitu puas menyalurkan hobi di pantai tersebut. Di sana mereka bisa berburu ikan di atas perahu jukung yang disewa dari nelayan.

Tak hanya memancing di sekitar pantai, pemancing juga bisa menyusuri luasnya hamparan laut, bahkan hingga ke Nusa Dua, dengan diantar pemilik jukung. Tentu biaya sewa memengaruhi jauh dekatnya perjalanan.

”Rata-rata di kisaran Rp 1 juta. Harga bergantung jauhnya jarak yang ditempuh. Semakin jauh, semakin mahal,” jelas Ketut Subrata, nelayan Pantai Segara Kusamba.

Bagi Ketut dan nelayan lain, sebuah kebahagiaan besar jika jukungnya disewa para pemancing. Maklum, bagi para nelayan, menjalani aktivitas mencari ikan di tengah laut ibarat berjudi. Kadang mendapat banyak tangkapan, kadang pulang dengan tangan hampa sehingga tak mampu menutup ongkos bahan bakar minyak (BBM). ”Apalagi kalau ada lumba-lumba. Sudah ikannya habis, jaring pun rusak digigit,” terangnya.

Selain sensasi memancing di tengah lautan, ada satu lagi daya tarik di pantai tersebut. Wisatawan dapat menyaksikan pemindangan ikan tangkapan para nelayan di Pusat Pemindangan Ikan (PPI) Desa Kusamba. Di sanalah ikan pindang yang dijual ke pasar-pasar wilayah Klungkung, Bangli, Gianyar, bahkan Denpasar, diproses.

Wisatawan juga bisa membelinya. Satu keranjang yang berisi 4–5 ikan pindang ukuran besar dijual Rp 30 ribu hingga Rp 45 ribu. ”Ikan-ikan yang dipindang di sini bukan hanya hasil menangkap nelayan Klungkung, tapi juga Karangasem,” ujar Ketut Sukesti, seorang pemindang ikan di PPI Desa Kusamba.

Bagi para wisatawan yang kelelahan dan lapar setelah puas berjalan-jalan, jangan khawatir. Ada banyak rumah makan yang terkenal dengan ragam menu spesialnya. Bahkan, di sana ada sebuah warung lesehan yang kerap dikunjungi pejabat negara saat singgah di Bali. Warung yang menyajikan masakan ikan laut khas Desa Pesinggahan itu disebut-sebut sering dikunjungi Presiden Ke-5 RI Megawati Soekarnoputri.

SEKILAS TENTANG PANTAI KARANGNADI

- Jarak Pantai Karangnadi dengan Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai sekitar 48 kilometer.

- Selain Karangnadi, pantai lain di Kecamatan Dawan yang kerap dikunjungi wisatawan mancanegara yang ingin melihat pembuatan garam adalah Pantai Belatung di Desa Pesinggahan.

- Kualitas garam tradisional di Desa Kusamba disebut-sebut sangat khas. Tak ada rasa pahitnya.

- Harga garam tradisional Kusamba berkisar Rp 15 ribu–Rp 40 ribu per kilogram.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore