Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 2 November 2015 | 19.08 WIB

Menguji Adrenalin di Gurun Pasir Qatar (Bagian-1)

Suasana Padang Pasir di Al Warkah. Warga Qatar menjadikan gurun pasir tersebut sebagai wahana berpetualang. - Image

Suasana Padang Pasir di Al Warkah. Warga Qatar menjadikan gurun pasir tersebut sebagai wahana berpetualang.

Warga Qatar menjadikan padang pasir yang panas dan kering sebagai tempat bertualang. Naik-turun bukit pasir di sana menegangkan sekaligus mengasyikkan. Berikut laporan wartawan Jawa Pos ANGGIT SATRIYO NUGROHO yang baru pulang dari negeri kaya minyak itu.



Azan salat Asar baru saja berkumandang ketika Toyota Land Cruiser yang mengangkut empat penumpang membelah pusat Kota Doha. Dua mobil dengan tipe yang sama mengikuti dari belakang, seperti sedang berkejar-kejaran.



Rommy, sopir mobil yang melaju terdepan yang mengangkut rombongan wartawan dan PT Indosat, memang seperti buru-buru sampai ke padang pasir. Padang pasir tersebut terletak di pinggiran ibu kota Qatar itu, tepatnya di wilayah Al Warkah.



Perjalanan lumayan lancar. Pada jam-jam itu, arus para karyawan belum banyak memadati jalan-jalan untuk pulang ke rumah masing-masing. Layaknya kota-kota lain di dunia, Doha juga mengalami problem kemacetan.



Tapi, Qatar yang kaya raya itu sudah mengambil sejumlah langkah untuk mengatasi persoalan kemacetan tersebut. Kini di mana-mana dibangun jaringan transportasi masal. Tiang-tiang monorel dibangun di pinggiran. Sebentar lagi pembangunan konstruksi juga sampai pusat kota.



Sambil mengemudikan mobil, Rommy yang berasal dari Gaza, Palestina, itu bercerita bahwa 16 tahun lalu di Doha begitu mudah ditemukan gurun pasir. Ketika itu pembangunan properti belum menggeliat seperti akhir-akhir ini.



Kini, untuk mengajak turis ngebut di gurun, dia harus menepi hingga ke pinggiran kota. "Dahulu bangunan besar hanya Hotel Sheraton. Lainnya gurun pasir," terang pria yang sudah 40 tahun tinggal di Qatar tersebut.



Dia mengungkapkan, kini gurun pasir hanya tersisa di kawasan pinggiran. Dia memprediksi, dalam waktu sepuluh tahun lagi, gurun tersebut bakal makin berkurang karena terdesak pembangunan.



Apalagi, pemerintah membikin kebijakan menghadiahkan tanah seluas 1.000 meter persegi kepada warga asli yang menikahi sesama orang Qatar. "Otomatis untuk mengajak turis harus makin ke pinggir lagi," terangya.



Namun, kendati gurun pasir semakin jauh dari pusat kota, aksesnya tak susah. Jalanan ke pinggiran kota begitu mulus. Di kanan-kiri jalan juga berjajar taman-taman yang menyegarkan mata.



Menjelang sampai ke tempat tujuan, Toyota Land Cruiser dan mobil-mobil 4WD tipe lain terlihat melintas ke tujuan yang sama. Tak seperti mobil yang ditumpangi Jawa Pos dan rombongan Indosat, mobil-mobil tersebut menggeret kontainer besar seukuran 6 meter persegi. Gaya Arab cukup kental.



Sopir dan penumpangnya menggunakan pakaian khas, yakni jubah putih (tub) disertai dengan serban warna senada. Bukan pakaian akan bertualang.



"Itu orang-orang kaya di Qatar mau berlibur ke gurun. Ini musim kamping," terang pria yang sudah berpengalaman 25 tahun menjadi sopir profesional yang melayani tur ke gurun pasir tersebut.



Berlibur ke gurun merupakan rekreasi yang menyenangkan bagi warga asli. Mereka bisa ngebut di gurun dengan mobil-mobil 4WD dari pagi hingga petang. Lalu, bermalam sekalian di gurun tersebut.



Mereka tidur di kontainer yang sudah dibawa. Esok paginya aktivitas yang sama dilakukan. Biasanya hal tersebut berlangsung pada akhir pekan.  

Editor: Arwan
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore