
Pagoda Shwezigon di Bagan, Myanmar, salah satu situs bersejarah yang menjadi bagian dari Warisan Dunia UNESCO sejak 2019 (Dok. UNESCO)
JawaPos.com - Bagan, kota kuno di Myanmar, telah lama menjadi destinasi impian bagi para pelancong dunia. Ribuan candi, stupa, dan pagoda berdiri megah di dataran luas, menciptakan panorama yang seakan membawa siapa saja kembali ke masa keemasan kerajaan kuno. Keindahan matahari terbit yang menyinari candi-candi menjadikan Bagan dijuluki sebagai surga fotografi sekaligus pusat spiritual yang tak lekang oleh waktu.
Pengakuan atas nilai luar biasa kawasan ini ditegaskan ketika UNESCO menetapkan Bagan sebagai Warisan Dunia pada tahun dua ribu sembilan belas. Dalam dokumen resminya, UNESCO menulis bahwa Bagan mencerminkan "pencapaian luar biasa dalam seni arsitektur dan perencanaan kota Buddhis kuno." Penegasan ini memperlihatkan bahwa Bagan bukan hanya tempat wisata, melainkan juga simbol dari perjalanan sejarah dan keyakinan masyarakat Myanmar.
Tak hanya bangunannya yang menawan, Bagan juga dianggap sebagai lanskap budaya hidup. Menurut UNESCO, kawasan ini menampilkan harmoni antara kehidupan masyarakat lokal dengan situs-situs bersejarah yang mereka jaga. Hal ini terlihat dari tradisi ritual, festival keagamaan, hingga kegiatan sehari-hari masyarakat yang masih berlangsung di sekitar candi. Perpaduan antara peninggalan masa lampau dan praktik budaya yang tetap hidup menjadikan Bagan begitu unik.
Dalam sebuah pernyataan, Direktur Jenderal UNESCO, Audrey Azoulay, menyebut bahwa pengakuan Bagan sebagai Warisan Dunia adalah "hasil dari proses panjang yang melibatkan komunitas lokal dan pemerintah."
Ia menekankan bahwa keterlibatan masyarakat menjadi kunci dalam menjaga kelestarian candi-candi kuno ini. Dengan kata lain, Bagan bukan hanya milik sejarah, tetapi juga milik generasi masa kini yang merawatnya.
Pesona Bagan semakin nyata ketika fajar menyingsing. Ribuan stupa yang diterangi sinar keemasan matahari menciptakan pemandangan yang begitu ikonik. Bagi wisatawan, momen ini sering dianggap sebagai salah satu pengalaman matahari terbit paling indah di dunia. UNESCO menyoroti bahwa panorama Bagan memberikan gambaran spektakuler tentang "kekuatan spiritualitas Buddhis yang diwujudkan dalam arsitektur."
Selain menjadi magnet wisata, Bagan juga menghadapi tantangan dalam pelestarian. Gempa bumi yang beberapa kali melanda Myanmar menyebabkan kerusakan serius pada sejumlah candi.
UNESCO dalam laporan resminya menegaskan pentingnya konservasi berkelanjutan dan metode restorasi yang menghormati keaslian struktur kuno. Upaya pemulihan ini melibatkan para ahli internasional dan tenaga lokal.
Pemerintah Myanmar bersama UNESCO telah meluncurkan berbagai inisiatif untuk menjaga keutuhan kawasan. Salah satu langkah yang disebutkan adalah pembatasan pembangunan modern di sekitar situs, agar pemandangan asli tetap terjaga. UNESCO menjelaskan bahwa kebijakan semacam ini sangat penting untuk menjaga "integritas visual" dari lanskap budaya Bagan.
Meski demikian, keterlibatan komunitas tetap menjadi aspek terpenting. UNESCO menilai bahwa penduduk lokal memiliki peran vital dalam pelestarian, karena mereka adalah pewaris langsung tradisi dan nilai spiritual kawasan.
Melalui festival, ritual, dan penggunaan candi untuk ibadah, masyarakat turut memastikan bahwa Bagan tetap hidup, bukan sekadar monumen beku.
Wisatawan yang berkunjung pun didorong untuk berperan aktif dalam pelestarian. Edukasi mengenai tata cara berkunjung, seperti menghormati situs suci dan mendukung usaha lokal, menjadi bagian dari strategi berkelanjutan.
Hal ini sejalan dengan visi UNESCO bahwa pariwisata di Bagan harus memberikan manfaat bagi ekonomi lokal sekaligus menjaga warisan budaya dunia.
Dengan segala keindahan dan makna yang dikandungnya, Bagan berdiri sebagai saksi perjalanan sejarah sekaligus simbol keabadian spiritual. Dari ribuan candi yang menjulang hingga kehangatan masyarakat yang merawatnya, Bagan membuktikan bahwa warisan budaya bukan hanya tentang masa lalu, tetapi juga tentang masa kini dan masa depan.
Sunrise yang abadi di atas Seribu Candi ini akan terus menjadi pesona dunia, mengundang siapa saja untuk menjelajahinya dengan penuh rasa hormat.

Sudah Terima Kompensasi Rp 5 Juta, Pengontrak di Surabaya Diberi Waktu 1 Bulan untuk Pindah
Prediksi Skor Prancis vs Maroko di Perempat Final Piala Dunia 2026: Deja Vu atau Pembuktian Singa Atlas
Prediksi Bursa Taruhan Prancis vs Maroko di Piala Dunia 2026: Singa Atlas Bisa Paksa Les Blues Main Lebih dari 90 Menit
Prediksi Skor Portugal vs Spanyol: Pasar Taruhan Dunia Jagokan La Furia Roja, Ronaldo Siap Balas Rekor Buruk
Prediksi Skor Argentina vs Mesir di Piala Dunia 2026: Lionel Messi vs Mohamed Salah, Albiceleste Diunggulkan ke Perempat Final
Dijanjikan Gaji Rp 1,4 Juta Hanya Cair Rp 76 Ribu, Kopdes Merah Putih di Bojonegoro Pilih Tutup
Prediksi Swiss vs Kolombia di 16 Besar Piala Dunia 2026: Sesumbar De Nati Andalkan Manzambi
Prediksi Bursa Taruhan Spanyol vs Belgia di Piala Dunia 2026: La Roja Dijagokan Melaju ke Semifinal
Prediksi Skor Amerika Serikat vs Belgia: Bursa Taruhan Dunia Ramalkan Imbang, Red Devils Unggul Head to Head
Prediksi Skor Argentina vs Mesir di 16 Besar Piala Dunia 2026: Panggung Terakhir Lionel Messi atau Mohamed Salah
